Esei • Ahad, 24 Januari 2010 @ 00:06 diunggah oleh zen

Memilih Alternatif Kemajuan Indonesia

– Berhubungan dengan Gagasan Soedjatmoko

KEMAJUAN, modernisasi, pembangunan: kita sudah lama berbicara menganjur-anjurkan hal-hal itu, tapi nampaknya kini kita harus merenungkan kembali. Gagasan-gagasan kemajuan yang di Indonesia dikenal sejak dasawarsa-dasawarsa abad ke-20 tengah diuji oleh perkembangan kenyataan-kenyataan menjelang akhir abad.

Seperti yang mungkin sudah dapat Anda duga, dengan mengatakan demikian saya tentu ingin ikut-ikut berbicara tentang kegalauan yang sekarang terjadi di negara-negara industri: ancaman runtuhnya keseimbangan ekologis — satu hal yang sudah sering dikemukakan, baik di kalangan PBB maupun di majalah Playboy, baik di Universitas Tokyo maupun di Universitas Padjajaran.

Ini bisa saja dianggap sebagai kegemaran baru intelektuil. Betapapun juga, seraya merasa terhenyak oleh proyeksi malapetaka para sarjana M.I.T, The Limits of Growth, yang jadi buah bibir di mana-mana itu, dewasa ini orang diingatkan kembali kepada kata-kata Pascal: “Yang menjadi matang melalui kemajuan, musnah oleh kemajuan”.

Padahal, kemajuan itulah salah satu hasrat pokok orang-orang terkemuka Indonesia semenjak mereka mencita-citakan lahirnya negeri ini.

Lanjut..

Pidato • Sabtu, 23 Januari 2010 @ 00:26 diunggah oleh zen

Of Spaces and Shadows

I

Let me begin with shadows. Among the notes I received in the preparation of this festival I found associating ‘shadows’ with ‘terror’ – something evil, foul, violent, and/or repressive. Coming from a Southeast Asian country, I would like to contest such a signification even if I understand why it prevails: living in a world of contrasts, often flagrant ones, you cannot always appreciate the metaphorical ‘shadow’ as a play of possibilities, implying the inherent incompleteness of light and darkness.

This festival, organized in Berlin, in a time when people are preoccupied with the issue of what ‘Europe’ is and what it is not, can itself serve as a reminder of such contrasts, while unwittingly repressing other possible meanings of ‘shadow’. On one side the host city, the capital of a reunited Germany, is a member of the proud geography that enjoys being, as it were, at the Hegelian end of history; on the other side, the focus of the festival is a cluster of countries (even when they are represented by their ‘politics of fun,’ perhaps with a certain irony in the verbal use of ‘politics’ and ‘fun’), distinct for being sites of anguish, beset by violence and lack of freedom. Lanjut..

Puisi • Sabtu, 16 Januari 2010 @ 14:38 diunggah oleh zen

K.T.P

– sebuah esai*

Saya tinggal di sebuah kota yang dihuni 10.ooo.ooo manusia tapi pada suatu hari ada kemungkinan tak seorang pun yang akan datang menggali kubur. Sehari sebelumnya para pembesar kotapraja mengumumkan, agar penduduk kota maklum, agar penduduk tenang, bahwa di setiap tempat pemkaman publik yang 18 jumlahnya itu para petugas sudah menggali 40 buah kubur sekaligus.

Mengapa 40, ada yang bertanya. Mengapa 40 karena seperti terjadi di tahun sebelumnya, dan di tahun sebelumnya lagi, itulah jumlah orang yang mati sakit atau kecelakaan, rata-rata antara 35 sampai 40 pada hari seperti itu, dan mayat-mayat itu, saudara tahu, harus segera dikebumikan, sementara pada hari seperti itu akan tak ada pekerja yang datang untuk mempersiapkan liang lahat. Pada hari itu jutaan orang, termasuk para petugas jawatan pemakaman, akan pergi meninggalkan kota untuk sepekan lamanya. Pada hari itu hampir secara serempak mereka akan menaiki deretan kereta api yang persegi panjang, ratusan bis besar yang berjejal, atau mengarungi laut dengan 12 kapal hitam yang sarat. Pada hari itu mereka akan pergi, dalam kelompok-kelompok kecil atau sendiri-sendiri, mengunjungi distrik-distrik di pedalaman, desa-desa yang dulu terpencil, seakan-akan mengikuti sejenis ziarah massal, atau mungkin juga bukan ziarah sama sekali, tetapi sebuah ritual yang tak sepenuhnya mereka sadari sebagai ritual, jalan kebaktian dan jalan kesengsaraan dan kesukacitaan yang mereka tempuh saban tahun, pelan, berbahaya, berkeringat, beratus-ratus kilometer.

Saya tinggal di sebuah kota yang untuk sepekan lamanya ditinggalkan orang, beratus-ratus kilometer, pada sebuah hari tertentu, di tahun yang kapan saja, sehingga kota ini mendadak lengang, seperti sebuah negeri yang dikalahkan garuda. Pada hari itu tak seorang pun yang bahkan ke telinga anak-anaknya sendiri menyebut, dengan hangat, “ini, ini… kota kita.” Antara “kota” dan “kita” menganga sebuah jarak yang aneh. Sebuah kekosongan. Jika tuan renungkan kekosongan itu, uan seakan-akan mendapatkan sebuah bejana gelas, dan di dalamnya Jakarta, kota itu, akan ampak seperti sebuah bandar, seperti sebuah bandar untuk transit, dengan orang-orang yang antri di sebuah lorong besar menjelang sebuah gerbang perjalanan laut yang tak berkesudahan. Tanpa aracis. Di teluk, ada sebuah bahtera. Ada dek berlapis-lapis. Ada kamar kapal dengan jendela-jendela bulat dengan lampu yang seperti zuhrah, didampingi deretan pelampung jingga yang lentuk seperti donat, ribuan sekoci yang ramping seperti ikan terbang, dan orang ramai berbaju rapi yang memandang cerobong asap yang tak pernah berhenti membuat sinyal.

Lanjut..

caping • Sabtu, 16 Januari 2010 @ 14:29 diunggah oleh zen

Tokoh

SAYA tidak tahu benarkah kita kini masih bisa punya tokoh. Saya juga tidak tahu benarkah kita memang perlu cari tokoh.

Tapi anak-anak muda yang paling resah hari ini mencari tokoh dari puing-puing — dari pelbagai macam puing. Indonesia, yang dalam sejarahnya yang keras cukup banyak menyaksikan penggusuran dan penghancuran, adalah sebuah lingkungan yang peka untuk impian semacam itu. Maka, pahlawan bagi mereka adalah orang-orang yang dengan paras tajam yang robek berdiri terus dari reruntuhan, dengan otot liat, perut kencang, kaki kukuh (meskipun luka) dan berkata, “Kami tahu apa artinya dianiaya.”

Anak-anak muda mencari lambang, juga sumber, kekuatan dari situ. Tentu saja dalam proses itu mereka bisa salah. Sebab, terkadang dari puing-puing yang berkecamuk hanyalah sejenis amarah, perasaan aku-paling-suci, dan pemujaan kepada kekuatan diri, bukan rasa solidaritas dan kepekaan kepada rasa pedih yang menusuk orang lain. Terkadang pahlawan-pahlawan yang bangkit dari reruntuhan, dari penjara, dari kekalahan politik, dari keterdesakan kekuasaan, akhirnya juga tidak bisa bebas dari sindrom jagoan-tua: punya penyakit ego bengkak, merasa tergolong jawara abadi, dan mengira — dengan rasa proporsi yang telah dirundung encok — bahwa perjuangan masa lalu adalah ukuran segala-galanya.

Lanjut..

Esei • Sabtu, 16 Januari 2010 @ 12:42 diunggah oleh zen

Gado-gado

Mengapa kita repot mengurusi bahasa Indonesia?

Jawabannya tak hanya satu. Tapi ada satu pengalaman yang memberi saya motivasi baru untuk ikut bersibuk-diri dengan urusan ini.

Sekali pada tahun 2004 saya menemani Jilal Mardhani yang ingin menyelenggarakan satu pagelaran musik di Singapura. Ia memilih Esplanade, pusat kesenian di kota itu. Kami datang dan ditemui direktur program. Ia halus dan sopan. Ia menolak ide yang ditawarkan.

Esplanade bukan tempat yang cocok, katanya. Menurut statistik, penonton Melayu hanya sedikit yang datang kemari.

Saya bingung sejenak. Mengapa menyebut “penonton Melayu”? Tak pernah terlintas di kepala saya bahwa pertunjukan yang ditawarkan Jilal ditujukan hanya untuk kalangan etnis tertentu.

Tapi kemudian saya sadar: di Singapura, teater terbagi-bagi menurut bahasa yang dipergunakan sebuah kelompok etnis. Lakon Rendra yang puitis, Kereta Kencana, sebuah adaptasi atas Les Chaises-nya Ionesco, tak akan bisa dinikmati orang Singapura dari etnis Cina, yang umumnya tak memahami bahasa Melayu, baik Melayu-Singapura ataupun Melayu-Indonesia.

Lanjut..

Esei • Selasa, 12 Januari 2010 @ 18:40 diunggah oleh zen

Dari Sunyi ke Bunyi: Sebuah Pengantar

Melalui pengalaman, saya tahu bahwa penyair-penyair yang buruk adalah penyair yang menulis prosa yang buruk. Puisi kadangkala menyesatkan. Gairah yang menggerakkan seseorang untuk menulis sajak memberinya alasan yang sah buat menyusun sesuatu yang tidak terlampau urut, terang dan padu –yang oleh orang Inggris disebut lucidity.

Di hadapan sebuah sajak kita tidak mempertengkarkan apa yang dikatakan seorang penyair, bagaimana proses diskursifnya, apa pula argumentasinya untuk sampai kepada suatu pernyataan, suatu kesimpulan. Ini tidak berarti bahwa puisi tidak memerlukan sebuah koherensi. Puisi menuntut “disiplin” agar koherensi itu terjaga, dalam imaji, bunyi, sugesti, kontras dan keseimbangan. Hanya saja prosesnya melintasi jalan yang berbeda dengan prosa. Tidak mengherankan bila mereka yang tidak memiliki daya untuk menjadi koheren – satu hal yang diperlukan dalam menulis puisi – pada akhirnya akan dapat diketahui dalam tulisannya yang lain.

Hartojo Andangdjaja adalah salah satu penyair Indonesia yang dengan segera dapat diketahui mutunya justru melalui esai-esainya. Ia menulis sajak sejak akhir tahun 1940-an. Ia lebih dikenal sebagai penyair. Namun bagi saya telaahnya tentang puisi, pemikiran dan pendapatnya yang dalam kesusastraan Indonesia modern pada masanya hanya ditemukan dalam tulisan Sutan Takdir Alisjahbana dan Asrul Sani (setelah Hartojo Andangdjaja, nama yang harus disebut di sini agaknya ialah Sapardi Djoko Damono).

Kekhususan Hartojo ialah bahwa ia sepenuhnya memikirkan puisi, dan tidak nampak mempunyai ambisi untuk menulis pelbagai hal lain di luar itu dengan gagasan-gagasan besar. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa gayanya -–yang bukan saja jernih, tetapi juga merupakan suatu gelombang kalimat yang teratur -–menunjukkan bahwa ia memang seseorang yang menulis dengan puisi terngiang-ngiang di kepalanya terus-menerus.

Lanjut..

caping • Senin, 4 Januari 2010 @ 00:46 diunggah oleh zen

Ding

ORANG-orang berseru. Di tembok, kalender dirobek. Tengah malam lewat. Tahun 1986 dipasang. Weker berdering, jam dinding berdetak. Trompet-trompet kertas ditiup dengan mulut menggelembung, trot-trot-trot. Mungkin ada kembang api yang dilontarkan ke angkasa, gemerlapan, gemeretak ….

Sungguh mengherankan bahwa manusia tampaknya selalu membutuhkan bunyi bahkan kegaduhan - untuk menandai babak baru. Kegembiraan? Kecemasan? Kecemasan yang ditekan jauh, dan diganti secara paksa - sampai eksplosif - dengan harapan?

Kita tidak tahu. Setidaknya saya tidak tahu. Saya selalu merasa agak asing dalam keributan seperti itu, tapi saya ingat bahwa (seperti yang dikisahkan dalam nyanyian anak-anak yang terkenal di seluruh dunia itu) keloneng dan waktu selalu bergabung untuk menggugah, mungkin dari lelap, mungkin dari lupa. Bapa Yakub tak boleh tidur.

Lanjut..

caping • Ahad, 3 Januari 2010 @ 13:46 diunggah oleh zen

Gus

– untuk Abdurrahman Wahid

Seandainya aku berada di tempatmu, Gus, akan kubersihkan meja itu dan berjalan ke arah pintu. Aku akan keluar dari kursi itu. Seperti Oedipus yang buta keluar dari takhta dan Kota Thebes.

Mungkin sekali Oedipus gentar. Dengan biji mata yang masih meneteskan darah karena ia tusuk sendiri, ia tak akan tahu nasib yang menghadangnya setelah itu. Mungkin sekali Oedipus getir. Apakah salahnya, sebenarnya Dewa-dewa telah menakdirkannya untuk membunuh ayah kandungnya dan menikahi ibunya sendiri. Dengan kata lain, kesalahan itu bukan niatnya. Bahkan ia telah mencoba mengelak dari takdir itu. Tapi dewa-dewa berkuasa, dan takdir adalah keniscayaan yang, seperti lembing, tajam dan tegar: sesuatu yang tak bisa dibengkokkan, sesuatu yang menghunjam jauh ke dalam hidup. Maka, ia pun melakukan dosa itu, dan ia membuat Thebes dikutuk.

Agar Thebes pulih dari wabah dan kutukan, ia, sang raja, harus membuang si pendosa dirinya sendiri. Tapi apa yang diperoleh Oedipus setelah itu. Bukan pahala. Bukan surga. Tragedi Yunani berbeda dengan kisah-kisah agama samawi yang dimulai dengan Alkitab. Dalam cerita Ayub yang menderita karena diuji Tuhan, ada akhir yang menyejukkan hati: setelah bertahun-tahun nestapa, orang yang tawakal itu mendapatkan balasan yang berlipat-lipat. Dengan kata lain, seperti kata seorang penulis, “Tuhan itu adil, bahkan dalam murka-Nya.” Sementara itu, dalam tragedi Yunani, keadilan dewa-dewa yang menyajikan anugerah bagi mereka yang ikhlas dan tabah adalah sebuah pengertian yang asing. Berbeda dari Ayub, Oedipus akhirnya hanya terlunta-lunta sebagai pengemis dengan mata yang hancur. Ia tak memperoleh kembali penglihatannya. Ia tetap kehilangan mahkotanya.

Tragedy is irrepairable,” kata George Steiner, yang uraiannya saya pinjam untuk paragraf-paragraf ini.

Lanjut..

caping • Ahad, 3 Januari 2010 @ 13:36 diunggah oleh zen

Penulis

– Untuk Abdurrahman Wahid

Gus Dur, kini saya tahu apa kekuatan seorang penulis dan apa pula kelemahannya. Seorang penulis pada dasarnya seorang yang sendiri. Tapi ia percaya betul bahwa kata-kata, begitu lahir dari dirinya, akan punya dampak.

Dalam batas tertentu, ia bisa dikatakan sebuah sosok yang heroik: ia yakin akan daya dunia verbal dalam dan dari dirinya, dan ia juga bersedia menanggung sendiri ongkos yang timbul setelah itu. Ia tak bersandar kepada orang lain. Dari segi ini, Anda memang seorang penulis sejati dan bukan seorang presiden.

Saya belum pernah jadi seorang presiden, tapi dapat saya bayangkan: seorang eksekutif di pucuk itu sunyi. Tapi ini sebuah kesunyian yang berlangsung selama 30 menit setiap habis sarapan. Sesudah itu masuk laci. Seorang presiden bergerak dengan sebuah organisasi. Ia punya strategi, dan ia menyusun langkah untuk mencapai strategi itu. Ia merencanakan. Ia akan memanggil stafnya. Ia akan berembuk dengan mereka. Ia akan menimbang mana langkah yang paling efisien. Ia akan mendengarkan dua atau tiga alternatif. Ia akan memilih, setelah membahas soal logistik: seberapa tenaga dan dana diperlukan untuk menjalankan kebijakan itu. Ia akan memperhitungkan waktu. Kemudian ia akan memutuskan. Dan secara periodik, ia akan mengecek, seberapa jauh tindakan yang diambil itu berbuah, sejauh mana gagal, dan kenapa.

Kata-kata bukannya tak perlu bagi seorang presiden.

Lanjut..