caping • Kamis, 31 Desember 2009 @ 01:46 diunggah oleh zen

Gus Dur

Gus Dur adalah seorang pelintas batas. Atau barangkali bataslah yang melintasi Gus Dur.

Berhadapan dengan Abudurrahman Wahid kita berhadapan dengan seorang kyai tetapi juga bukan kyai, seorang yang bukan kyai tetapi juga kyai. Saya pemah melihatnya berbaju piyama Cina yang ringan, bersarung palekat yang sudah pucat dan tentu saja berpeci (seraya mengenakan sepatu). Tapi saya pernah pula melihat gambarnya, bersama istrinya, mengenakan pakaian petani Belanda abad lampau—sebagai turis Nederland.

Genealoginya kukuh sebagai santri dari pedalaman Jawa Timur, tetapi ia mengenal peta Menteng di Jakarta—daerah kelas atas Indonesia ketika kelas atas tidak seperti sekarang —seintim ia mengenal daerah kanak-kanaknya.

Gus Dur di sana-sini menulis risalah agama. Saya ingat deskripsinya yang akrab tentang para ulama terkenal dan tak terkenal di pelbagai pesantren. Tapi Gus Dur juga menulis komentar yang pintar tentang pertandingan sepakbola. Atau sebuah esai pendek yang cemerlang tentang film. Orang kagum kepada luasnya cakupan pengetahuannya, tetapi juga bisa mengganggapnya sebagai seorang “diletant” terus menerus.

Siapakah dia sebenarnya? Dimana ia harus ditaruh?

Lanjut..

Bookmark and Share
caping • Kamis, 31 Desember 2009 @ 01:34 diunggah oleh zen

Gus Dur

SUKARNO tak pernah, Soeharto apalagi, Habibie belum. Baru Gus Dur membuat sesuatu yang bersejarah ini: di depan sebuah pertemuan internasional di Bali, dialah presiden Indonesia pertama yang bisa membuat hadirin tertawa. Para kepala negara terdahulu berpidato dengan gagah, serius, atau mendayu-dayu. Tanpa humor. Tapi Gus Dur tidak.

Presiden yang hampir buta itu berbicara tentang dirinya dan juga tentang wakil presidennya, Megawati, yang enggan berkomentar. “Kami berdua akan jadi sebuah tim yang sempurna,” katanya dalam bahasa Inggris yang bagus, tanpa teks. “Saya tak bisa melihat, dia tak bisa omong.” Para hadirin tergelak mendengar olok-olok itu. Harian Financial Time beredar ke seluruh dunia dan menulis tentang Gus Dur yang “memikat” (to charm) dunia.

Selama bertahun-tahun retorika Indonesia adalah retorika kekuasaan. Di mimbar, Bung Karno bergemuruh seperti gelombang samudra magis yang berseling petir. Pidato Soeharto datar-lurus seperti barisan tentara yang maju dengan disiplin. Habibie memberi sambutan dengan nada naik-turun seperti sebuah kapal udara ringan yang melintasi perbukitan. Samudra, tentara, pesawat terbang—semua itu kiasan untuk bermacam daya yang menaklukkan.

Sebaliknya, retorika Gus Dur adalah retorika pertemuan. Di dalamnya ada yang dalam bahasa Inggris disebut wit dan dalam bahasa Prancis l’esprit—yakni kemampuan melontarkan ungkapan yang tangkas, cerdas, jenaka.

Lanjut..

Bookmark and Share
Esei • Rabu, 30 Desember 2009 @ 13:44 diunggah oleh zen

Desember, Desember

Maka, sehabis Desember, bisa saja kita kembali gagal mencintai semua saudara kita. Tapi kita tahu, kita tak bisa memimpikan kerajaan yang sempurna tempat kita lari mengungsi.

Setiap Desember adalah menunggu. Malam akan habis, kalender dirobek, dan dini hari dicegat pertanyaan yang setengah tertelan: “Apa yang akan datang? Siapa yang bakal datang?”

Mungkin sebab itu setiap Desember berada di ambang advent. Orang Kristen membatasinya sebagai masa empat pekan menjelang Natal. Pengertian ini konon datang dari abad ke-12, dari bahasa Latin adventus, yang berasal dari kata kerja advenire, yang secara harfiah berarti “datang ke”. Advent: kedatangan sesuatu yang penting dan ditunggu.

Sesuatu yang penting dan ditunggu, sesuatu yang belum jelas apa, mungkin sesuatu yang mustahil, sebuah mukjizat, tapi mungkin juga sebuah bencana….

Setiap Desember adalah awal orang meniti buih di selat yang gelap yang terkadang rusuh. Di seberang, hanya beberapa langkah lagi, ter-bentang kurun waktu di mana harapan bisa memukau tapi juga bisa lancung. Kini kita gamang. Terutama karena kita telah sering harus bersandar pada kepercayaan yang patah. Yang kita punyai hanya beberapa bekas kekerasan, rasa terkecoh oleh impian, rasa cemas.

Lanjut..

Bookmark and Share
caping • Ahad, 27 Desember 2009 @ 11:57 diunggah oleh zen

Dengan Tiga Antidot

Sebuah tahun lagi di milenium ini akan berakhir, tapi bukan sejarah.

Saya selalu merasa ada sesuatu yang ganjil dalam argumen Francis Fukuyama yang termasyhur itu bahwa, sejak satu dasawarsa yang lalu, kita tiba di “akhir sejarah”. Harus dikatakan di sini bahwa ia tak mengatakannya dengan tempik sorak. Komunisme memang gagal. Tapi justru itu kini tak ada lagi pergulatan untuk perubahan besar—kecuali usaha memperbaiki sistem yang ada, seperti memperbaiki rumah yang telah siap, berdikit-dikit, di sana-sini. Modernitas, bagi Fukuyama, tak akan mungkin ditarik kembali ke gudang tua.

Menara Kembar di World Trade Center New York itu—sebuah lambang modernitas yang muluk menjulang—memang dihancurkan, dan beribu-ribu orang yang merasa berumah di sebuah dunia “pra-modern” bertepuk tangan. Tapi, di luar demokrasi liberal dan ekonomi pasar, tak tampak ada alternatif lain yang bisa diandalkan. Dengan teror dan kekerasan ataupun dengan pidato dan pemilihan, tak ada. Komunisme pasti bukan, dan Islam entah.

Fukuyama memang dapat meyakinkan, jika kita lihat betapa besar bondongan orang yang mengarungi ruang dan waktu untuk menikmati buah kapitalisme—sejak para buruh tamu yang datang menghambur ke Eropa dan Amerika Serikat dari Turki dan Filipina, sampai dengan para penikmat komoditi di pelosok Asia dan Afrika.

Tapi saya terkadang bertanya-tanya: benarkah sejarah sebuah progresi garis-lurus? Benarkah modernitas tak selamanya mengandung dalam dirinya sesuatu yang menentangnya, atau tampak menentangnya?

Lanjut..

Bookmark and Share
Buku • Jumat, 25 Desember 2009 @ 19:54 diunggah oleh zen

“Tan Malaka dan Dua Lakon Lain”

tan-malaka-dan-dua-lakon-lain

Judul Buku: Tan Malaka dan Dua Lakon Lain
Penulis: Goenawan Mohamad
Penyunting: Sitok Srengenge
Penerbit: KataKita
Cetakan: I, Oktober 2009
Halaman: 128 halaman

Dalam buku ini ada tiga buah lakon dengan bentuk yang berbeda-beda.

Yang pertama, “Tan Malaka”, adala sebuah naskah yang ditulis untuk karya operas Komponis Tony Prabowo, yan direncanakan akan diproduksi tahun 2010 di Teater Salihara, Jakarta. Ia disebut “sebuah esai, sebuah opera” karena bentuk esai berperan besar dalam libretto ini.

Berbeda dengan dua libretto yang saya buat, “The King’s Witch” dan “Kali”, yang boleh dikatakan berupa montase puisi yang ditulis tanpa diarahkan untuk musik dan pentas, teks “Tan Malaka” saya tulis dengan mengacu ke kemungkinannya dibentuk dalam kur, aria, multimedia, dan posisi di pentas

Yang kedua, “Surti dan Tiga Sawunggaling”, sebuah monolog untuk aktor perempuan. Semula saya menulisnya untuk dibawakan Sri Qadaryatin dari Teater Garasi, Yogya. Rencana itu belum pernah terlaksana. Tapi tentu saja lakon ini bisa dimainkan oleh siapa saja.

Yang ketiga, “Visa”, adalah lakon satu babak. Naskah ni diterjemahkan dan diadaptasi ke dalam bahasa Jawa dan dipentaskan Teater Lungid di Solo, Jakarta, dan Surabaya. Dari pementasan itu saya dapat beberapa ide tambahan. Versi yang dimuat di buku ini belum dipentaskan sama sekali.

Silakan membaca.

G.M

Bookmark and Share
caping • Kamis, 24 Desember 2009 @ 21:15 diunggah oleh zen

The Man from Galilee

Tapi soalnya lebih dalam: the man from Galilee menerima manusia bukan sebagai hasil abstraksi, melainkan sebagai kehadiran-kehadiran yang konkrit.

SEORANG wartawan pernah bertanya kepada Ronald Reagan, “Siapakah yang Anda jadikan pola hidup Anda?” Jawab Reagan, “The man from Galilee.”

Tentu saja Reagan tak bersendiri. Berjuta-juta manusia kini merasa mengikuti jejak itu, meskipun tak semua sama dan sebangun dengan Reagan, yang makmur, yang necis, yang mensyukuri tanah airnya sebagai negeri pilihan. Di tahun 1965, misalnya, seorang padri Katolik bernama Camillo Torres bergabung dengan para gerilyawan di Colombia yang panas. Dia juga merasa mengikuti apa yang telah dinyatakan he man from Galilee.

Berbeda dengan Reagan, dia tak bersama orang-orang yang kaya. Di Amerika latin yang bergelimang kemiskinan yang terinjak-injak, Torres ikut perjuangan bersenjata. Yang makmur, yang gembil, yang berpakaian halus di istana-istana, bukan berada di pihaknya. Bukankah yang miskin yang justru kepadanya telah dijanjikan, oleh the manrom Galilee itu, kebahagiaan? Bukankah mereka yang lapar, yang akan dipuaskan?

Lanjut..

Bookmark and Share
Puisi • Kamis, 24 Desember 2009 @ 21:09 diunggah oleh zen

Tentang Sinterklas

Di dekat rumah yatim-piatu
Sinterklas terbunuh oleh peluru
“Piet Hitam telah menembakku!”
Dan anak-anak termangu

Di dekat persimpangan lima
Polisi menahan seorang mahasiswa Afrika
Ia memang bersenjata, dan konon berkata:
“Aku telah merdeka!”

1973

————————————
Dikutip dari buku “Sajak-Sajak Lengkap 1961-2001″, halaman 58

Bookmark and Share
caping • Kamis, 24 Desember 2009 @ 21:06 diunggah oleh zen

Tokoh Revolusioner

…seperti Hegel, yang terkesima atas kata-kata Yesus: “Belum pernah kata-kata serevolusioner itu diucapkan.”

NAMANYA Yesus. Konon kata ini berasal dari bahasa Romawi, Yesus atau dari bahasa Yunani, lesous. Konon pula asal sebenarnya adalah Yeshu’a yang–menurut seorang ahli–berarti “pertolongan Yahwe”. Dan Yahwe, tentu saja, adalah Tuhan bagi orang Yahudi sebagaimana Allah bagi orang Islam.

Jika kita bicara lewat buku sejarah, dia memang pemuda Yahudi. Selama beberapa ratus tahun setelah ia wafat orang sebenarnya belum bisa memastikan, kapan persisnya dia lahir. Sejak abad kedua, gereja Kristen Timur merayakan Natal pada 6 Januari. Dalam pertengahan abad ke4 gereja Barat, termasuk Roma, merayakannya 25 Desember.

Tapi akhirnya, kepersisan tak teramat penting di sini. Di ujung abad ke-4 baik gereja Timur maupun Barat sepakat, bahwa 25 Desember adalah hari kelahirannya. Dan seperti Kiekergaard, filosof Denmark itu, kita pun setuju bahwa kenyataan historis tidak relevan bagi iman.

Lanjut..

Bookmark and Share
Esei • Rabu, 16 Desember 2009 @ 23:24 diunggah oleh zen

Kemerdekaan Kreativitas: Sebuah Pikiran di Sekitar Taman Ismail Marzuki

PADA suatu hari di bulan Agustus 1902, putri Regent Jepara mengagumi sebuah karya ukir yang diperlihatkan kepadanya. Ia pun bertanya dari mana sang pengukir yang bekerja dengan alat-alat sederhana itu memperoleh disain seindah itu.

Lelaki itu mengangkat alisnya, tertawa malu-malu dan menjawab: “Dari hati hamba, bendoro.” Dan di depan putri Regent serta saudara-saudaranya yang duduk di tangga itu, si pengukir bersimpuh dengan hormatnya, di tanah.

Putri Regent itu adalah Raden Ajeng Kartini, tapi siapa sang seniman, sejarah tak pernah mencatatnya. Dalam surat Kartini bertanggal 20 Agustus 1902 tampak betapa gadis bangsawan yang berhati lembut itu menaruh hormat yang besar kepadanya. “Ia seratus kali lebih superior dari kami,” kata Kartini. Namun sang pengukir tinggal anonim, tanpa nama, dan mungkin tanpa perlu menampilkan diri dalam karyanya. Individualitas rasanya bukan sesuatu yang ditujunya, dan dalam hal seperti itu ia berbeda dari para seniman modern.

Meskipun demikian kita toh dapat menarik persamaan antara si pengukir tanpa nama dengan mereka yang telah memungut kesenian modern. Bila sang pengukir berkata ia bekerja “dari hati hamba”, para seniman modern juga berangkat tanpa “disain” dari luar. Tokoh Pujangga Baru yang terkemuka, S. Takdir Alisyahbana, yang memproklamasikan puisi baru di tahun 30-an, pada tahun 1940 kemudian merumuskan pikirannya: “Tiap-tiap penyair menghendaki kebebasan yang sebesar-besarnya bagi dirinya…”

Tiap-tiap penyair!

Lanjut..

Bookmark and Share
Puisi • Rabu, 16 Desember 2009 @ 23:17 diunggah oleh zen

Seperti Dalam Film Lama

Seperti dalam film lama
kotapun terbelah besi
trem terendam
dalam kabut

hanya ada sisa hingar
sebentar
di ingatan
paling awal

dan suara serakmu, dulu,
pada sebuah jembatan,
pada sebuah sungai tua, ketika
sebuah proyektil

terlontar jauh:
mimpi
selurus mimpi.
waktu itu

lampu iklan biru,
seperti kematian
tak menyentuh
tubuhku.

Kini seperti dalam film lama
toko-toko menghilang
gang & taman tenggelam,
hujan

tak terdengar
dan kau berangkat
dari sisi ini…
Terlalu cepat, kataku

Tidak, katamu. Telah kulihat
kilat lenyap
di gelas hitam
itu

2000

————————————-
Dikutip dari buku “Sajak-Sajak Lengkap 1961-2001″ Hal. 182-183

Bookmark and Share