Puisi • Rabu, 25 November 2009 @ 01:06 diunggah oleh zen
Di tromol itu kulihat permen dan bintang-bintang
dan gambar seorang perempuan pirang.
Ia memperkenalkan: “Aku dari sebuah masa kecil.
Kau kukenal dalam kenangan.”
Sebenarnya aku tak banyak punya kenangan
tapi malu untuk ditertawakan.
“Oh, ya, siapa ya nyonya, kapan datang dari Belanda?”
Ia tertawa: “Salah, aku merk manisan Amerika.”
1976
———————–
Hasan Aspahani berkomentar tentang sajak pendek ini:
“GM yang mengutip Goethe; menulis tentang Zagreb untuk Xanana Gusmao; menyajak untuk pelukis Frida Kahlo, dan penyair Amerika Allen Ginsberg; tentang New York, Sarajevo, Sydney dan Hiroshima; eh tiba-tiba saja ada menulis sajak tentang permen dan gambar seorang perempuan pirang yang dikenal dari sebuah masa kecil, dalam sebuah kenangan di merk manisan Amerika.”
Mita adalah nama kecil dari putri Goenawan Mohamad.
wawancara • Rabu, 25 November 2009 @ 00:18 diunggah oleh zen
Playboy (P): Apa bedanya penggarapan Panji Sepuh sekarang dengan yang 12 tahun lalu?
Goenawan Mohamad (GM): Kalau dulu di atas tanah rata. Sekarang ada panggung, saya ingin memberi tekanan pada masalah kekuasaan. Meski geraknya tetap meditatif tapi faktor fisik tampak seperti panggung, layar. Penarinya dulu empat sekarang tujuh.
Dalam Panji Sepuh sebenarnya tidak ada naskah, hanya tari. Saya diminta menulis tembang jawa dua stanza lagu panggung. Lalu beberapa kata Jawa untuk koor, musik yang dibikin Tony Prabowo bagus sekali. Seperti koor Gregorian dalam bahasa Jawa. Musiknya tidak memakai gamelan, tapi gender yang digosok. Tidak ada alat pukul sama sekali.
Dulu sempat dipentaskan di Jakarta beberapa kali, di Melbourne, Bali, Solo, Seoul. Ide koreografinya dari Sulistyo Tirtosudarmo. Yang lain-lain menambahkan, mengolah. Saya waktu itu lihat prosesnya usul ini usul itu, Belajar saya.
P: Dari dulu Anda banyak menyumbangkan puisi dan prosa untuk seni pertunjukan. Kalau kali ini, Anda terlibat langsung dalam produksinya?
GM: Saya terlibat penuh dalam Panji Sepuh dan Pastoral. Jadi akan ada dua dua nomor, Pastoral dan King’s Witch. Pastoral itu sajak saya dan saya jadi sutradara juga. Kalau King’s Witch saya hanya konsultan. Lebih banyak membantu persiapan di luar panggung, organisasi produksi. Kebetulan saya berpengalaman di Tempo ada gunanya. Jurnalistik, seperti juga teater, adalah kerjasama berbagai elemen. Ada desain, ada penulisan, logistik, ada budget, ada time table, teater juga begitu. Ada peran juga. Cuma kalau di teater apalagi setelah saya alami, tidak terus-menerus.
Lalu saya lihat (penggarapan) Kali, opera di Amerika. Saya yang membuat libretto-nya. Sebenarnya yang dibikin lebih dulu King’s Witch tapi yang dipentaskan duluan Kali. King’s Witch hanya dalam bentuk workshop. Di situ saya belajar bagaimana sutradara bekerja, bagaimana organisasi teater. Saya mulai banyak ide masuk. Kebetulan saya lihat La Galigo di New York. Menurut saya La Galigo itu gagal.
P: Kenapa gagal?
GM: Menjadi datar, legendanya kurang mencekam. Hampir seperti gambar komik anak-anak. Flat.
Lanjut..
Pidato, wawancara • Rabu, 25 November 2009 @ 00:12 diunggah oleh zen
Playboy (P): Kenapa tidak pernah menulis novel?
Goenawan Mohamad (GM): Saya juga penasaran. Saya kira karena saya belum bisa. Saya bikin cerita pendek saja belum bisa. Sesekali ada, untuk main-main.
P: Kenapa tidak bisa?
GM: Tidak tahu. Mungkin cerita pendek bisa saja tapi novel itu butuh energi yang luar biasa.
P: Tapi menulis esai juga perlu energi?
GM: Aaa… ya, tapi itu lebih banyak energi intelektual. Kalau novel itu energi fisik, intelektual, perasaan, dan terutama imajinasi. Saya belum berhasil menemukan tekniknya yang agak lain daripada yang lain. Bukan saya nggak mau tapi karena saya belum bisa pada umur begini. Siapa tahu pada umur 70 nanti saya bisa (tertawa). Saya harap bisa (menulis novel).
Lanjut..
Pidato • Selasa, 24 November 2009 @ 00:55 diunggah oleh zen
Orasi yang disampaikan untuk Dies Natalis Fakultas Sastra Universitas Airlangga, Surabaya, 25 Nopember 2007.
SEBENTAR lagi kita akan menyaksikan sebuah pertunjukan Slamet Gundono, yang kebetulan pernah saya tonton beberapa waktu yang lalu: Sudamala, atau Uma, Nyanyi Sendon Keloloran.
Dalam kesempatan ini, saya akan bertolak dari lakon itu untuk membicarakan setidaknya dua anggapan, atau salah anggapan, yang dewasa ini acap kita jumpai ketika orang berbicara tentang kesenian. Pada hemat saya, diskusi mengenai hal itu penting sekarang. Kita hidup di sebuah masa yang ditandai oleh tuntutan yang berlebihan kepada manusia – baik melalui kekuatan dalam pasar, maupun kekuatan dalam masyarakat, yang makin mengasingkan dunia kehidupan dari kesempatan untuk bebas, mengalir, dan berbeda.
Dalam kondisi itu, kesenian adalah bagian dari dunia kehidupan yang masih vital, betapapun terkucil. Tak mengherankan bahwa ketiga anggapan yang akan saya uraiakan ini sangat kuat berakar.
Pertama, kesenian umumnya serta merta dikaitkan dengan keindahan, tanpa orang berpikir bagaimana keindahan lahir, siapa yang menentukan “indah” atau “tak indah”, mengapa satu ekspresi kesenian sebuah masa tak jarang ditampik oleh ekspresi kesenian dari masa sesudahnya, mengapa ada generasi baru yang menafikan generasi seni sebelumnya, walaupun tetap ada karya-karya seni yang tak henti-hentinya memberikan makna baru.
Dengan kata lain, benarkah keindahan adalah sesuatu yang begitu penting, dan benarkah ia sesuatu yang universal?
Lanjut..
Esei • Selasa, 24 November 2009 @ 00:36 diunggah oleh zen
Tulisan ini adalah tanggapan atas sebuah tulisan Emha Ainun Nadjib di majalah Forum, yakni Indonesia di Antara Rendra dan Goenawan.
Pemimpin Redaksi Majalah Forum mula-mula menolak untuk memuat tulisan ini. Diperoleh keterangan dari redaksinya, bahwa ia takut, karena tulisan ini dinilai terlalu menyerang Pemerintah. Setelah saya memprotes, bahwa saya punya hak untuk menjawab, akhirnya tulisan ini dimuat, bukan sebagai kolom, tetapi sebagai surat dari pembaca — dan sudah dipotong.
Tulisan ini juga dimuat di Suara Independen No. 7/II/Januari — Februari 1996
—————————————
CERITA perlu tokoh. Atau lebih tepat: si pendengar dan si pencerita selalu perlu tokoh.
Mahabharata dikisahkan sebagai perang antara sejumlah pangeran. Kita tak pernah peduli apakah di dalamnya ada rakyat banyak yang terlibat. Dalam abad media massa, tokoh bahkan kian mendesak pokok: ingat saja Lady Di atau Rendra. Orang tenar telah jadi komoditi laris. Di Indonesia tendensi ini kian kuat karena semakin kuat komodifikasi informasi. Tapi juga karena kehidupan kian didominasi oleh politik yang tidak melibatk an orang banyak: politik hanya keributan sejumlah VIP, dan massa dianggap mengapung, seperti bangkai.
Dengan pengantar itu saya ingin menanggapi tulisan oleh Emha Ainun Nadjib, Indonesia di Tengah Rendra dan Goenawan. Tulisan itu meletakkan Rendra dan Goenawan Mohamad sebagai fokus. Nada dan isinya bijak, penuh imbauan moral yang patut direnungkan. Tapi perkenanlah saya berbeda: saya ingin agar tokoh, baik itu Rendra atau Goenawan, bukan jadi sesuatu yang sentral dalam persoalan ini.
Lanjut..
Esei • Rabu, 11 November 2009 @ 16:55 diunggah oleh zen

…Enzensberger ingin menegaskan “kecanggihan yang sejati yang terdapat pada hal-hal yang sehari-hari dan dianggap sederhana”.
SAYA cuma mengenal Hans Magnus Enzensberger secara selintas, di awal tahun 1960-an, di majalah Encounter yang terbit di London. Di berkala bulanan itu ada kutipan pendek dari sebuah esai Jerman, dan di sana saya temukan nama itu. Seingat saya, dalam esai itu Enzensberger mengutarakan bagaimana bahasa Jerman –- setelah Hitler dan Naziisme — seperti harus belajar kembali menyebut nama benda-benda sehari-hari, seperti “piring”, “cangkir”, “pisau”….
Yang terjadi adalah usaha membebaskan bahasa dari teror dan trauma yang berkecamuk – teror dan trauma newspeak kekuasaan totaliter, yang seperti digambarkan Orwell dalam novel 1984, meringkus pikiran dan perilaku manusia. Bahasa menjerat dan sekaligus terjerat: bahasa Jerman di bawah Nazi –- sebagaimana bahasa Indonesia dari masa “demokrasi terpimpin” dan “Orde Baru” — dikerumuni oleh apa yang abstrak dan umum sifatnya.
Dalam bahasa Nazi, kita kenal kata seperti Volk (bangsa), Lebensraum (ruang hidup), Reich. Dalam bahasa Indonesia di masa lalu itu kita dibomardir dengan kata “Revolusi”, “Rakyat”, “Neoimperialisme”, “bahaya laten”, “Pembangunan”. Dan kita ingat, baik dalam bahasa Jerman di bawah Hitler dan bahasa Indonesia di bawah Sukarno dan Suharto, akronim jadi demikian penting.
Maka ikhtiar bahasa pasca-Nazi yang disebutkan Enzensberger adalah ikhtiar untuk menegaskan kembali apa yang kemudian disebutnya sebagai “resistansi dari yang spesifik dan yang kongkrit”.
Lanjut..
Puisi • Rabu, 11 November 2009 @ 02:45 diunggah oleh zen
– untuk tarian Sulistyo Tirtokusumo
Semakin ke tangah tubuhmu
yang telanjang
dan berenang
pada celah teratai merah
Ketika desau angin berpusar
ikan pun
ikut menggeletar
Dari pinggir yang rapat
membaur ganggang.
Antara lumut lebat
dan tubir batu
ada lempang kayu apu
yang timbul tenggelam
meraih
arus dan buih
Sampai badai dan gempa seperti menempuhmu
dan kau teriakkan
jerit yang merdu itu
sesaat sebelum kulit langit biru
kembali, jadi biru
Engkau dewa? kau bertanya
Engkau matahari?
Laki-laki itu diam sebelum menghilang
ke sebuah asal
yang tak pernah diacuhkan:
sebuah khayal
di ujung hutan
di ornamen embun
yang setengah tersembunyi.
Yang tak pernah kau miliki, Kunthi
tak akan kau miliki.
2006
Esei • Senin, 9 November 2009 @ 22:01 diunggah oleh zen
Seorang manusia yang begitu gagahnya hingga tidak menanggungkan suatu kesedihan apa pun, atau kebimbangan apa pun, atau bahkan pamrih apa pun, tak bisa disebut pernah berbuat heroik.
HARUSKAH tamat cerita seorang pahlawan? Tidak. Kita selalu kepingin mendengarnya kembali. Sayangnya, orang terkadang ingin menghentikannya tanpa tahu apa yang dilakukannya: orang tak sadar bahwa pahlawan mati untuk kedua kalinya — dan tak akan hidup lagi — ketika ia jadi orang keramat.
Menjadi orang keramat, bagi si pahlawan, adalah sebuah proses yang mudah meskipun sebenarnya ganjil. Bahkan kian lama sering kian kabur apakah makam Bung A (dia pahlawan) tidak berbeda dengan makam Kiai A (dia keramat).
Pengeramatan terjadi dengan mudah, ketika kita, seraya memandang kagum sang pahlawan, kehilangan kepekaan terhadap tragedi. Di masa lampau, ketika “pahlawan” tak sekadar sejenis gelar kedinasan — dengan diberi surat dengan nomor dan dimakamkan berderet di sebuah kuburan khusus — kepahlawanan selalu mengandung satu tragedi.
Tragedi adalah sesuatu yang mengalahkan manusia tapi sekaligus menempatkannya di medan kebesaran. Bayangannya adalah Bhisma yang gugur bersandar pada puluhan anak panah yang mencoblosi tubuhnya. Monginsidi yang ditembak mati. Kartini yang remuk berbenturan dengan struktur sosial Jawa di masa kolonial abad ke-19.
Lanjut..
Esei • Senin, 9 November 2009 @ 21:47 diunggah oleh zen
Saya akan mulai dengan mengutip sebuah sajak Subagio Sastrowardojo:
Asal mula adalah kata
Jagat tersusun dari kata
Di balik itu hanya
ruang kosong dan angin pagi
Seorang penyair – tapi tak cuma seorang penyair — akan mengenal keniscayaan kata: praktis, hanya melalui bahasa-lah kita bisa menangkap dunia. Bahkan “ruang kosong dan angin pagi” yang ada di balik jagat yang “tersusun dar kata” tak hanya kita kenali karena mata kita melihat ruang itu dan kulit kita tersentuh oleh desau angin itu. “Ruang kosong dan angin pagi” kita kenali karena kata telah menamai benda ini atau itu, menyebut perasaan ini atau itu. Dengan kata itulah, atau lebih tepat dengan kata sebagai “penanda”, kita dapat membedakan ruang kosong dengan celah, angin dengan badai, pagi dengan siang. Dari pembedaan itu, kita memberi dan mendapatkan arti.
Sebab itu, memang ada benarnya, “asal mula adalah kata”. Sangat mungkin Subagio Sastrowardojo meminjam frase itu dari Kitab Injil. Dalam Injil, “pada mulanya adalah kata” berarti “pada mulanya adalah logos”, dan “logos” berasal dari kata Yunani lagein, yang berarti “menghimpun.” Menurut para pakar etimologi, penyair Homeros konon menggunakan kata kerja itu untuk menggambarkan aktivitas menghimpun makanan, senjata, tulang belulang, dan orang-orang.
Lanjut..
Esei • Jumat, 6 November 2009 @ 21:51 diunggah oleh zen
Ada kecurigaan, atau waswas, setelah para pemimpin media massa dikumpulkan Menkominfo, pers dan TV kita akan “jinak”. Ternyata tidak terbukti.
Pernah juga ada kecurigaan, pimpinan sementara KPK yang dipilih melalui Perpu dari Presiden, akan melemahkan KPK dan mengkhianati Chandra dan Bibit. Ini juga tak terbukti.
Apa pelajaran dari sini? Bahwa ketika rasa keadilan yang dikoyak dirasakan meluas, banyak orang bersatu melawan kesewenangan-wenangan. Itu satu contoh, kita bisa membuat harapan. Sejak pengalaman perlawanan terhadap “Orde Baru” saya sadar, bahwa di tengah kegelapan yang pekat pun, ada orang-orang yang menyalakan lilin, berantai, meluas. Tak gentar, tak cuma mengeluh, tak menonjolkan diri, tapi bertindak.
Membuat harapan bukanlah “wishful thinking”.
Sinisme dan putus asa bukanlah pegangan mereka yang siap berjuang dalam “fidelite” (dalam pengertian Badiou) — kesetiaan kepada apa yang selalu merundung kita: keadilan. .
Sinisme dan putus asa, kelihatannya “radikal”, sebenarnya pendukung status quo. Sejarah mungkin tak berjalan dalam garis lurus dan maju terus. Tapi, dan ini sumbangan Marxisme, kita tak bisa berkreasi dan beproduksi tanpa percaya, biarpun sebentar, bahwa ada sebuah kehidupan sosial alternatif (dalam hal Indonesia: negeri yang bersih dari korupsi) yang mungkin.
5 November 2009