caping • Jumat, 30 Oktober 2009 @ 16:17 diunggah oleh zen

The Closing of the Newspapers, 1978

Every time in history, it seems, has a moment when it s not easy to speak, bu when also it s not easy to remain silent. We do not know precisely how our words will be valued, or if a gesture will be noticed. At times like this, there is only cloud, rain, or silence — even indifference — outside the door. All is a puzzle.

Nonetheless we still need to talk to ourselves. We do not only act. Every action demands approval. At the very moment we tell others to be silent, in fact deep in our hearts we want those others to approve our action. We wish to place our capacity to conquer alongside our capacity to convince.

Certainly it cannot always be like this. But it is understandable that n our actions we seek aproval for ourselves so as to be seen as “good people” and our actions as “succesful”. In a short, people around us are something we cannot ignore –they are something we need.

Perhaps this is why there is a type of unwritten law within any power structure: no matter how authoritarian that rule, it will still need someone else who is free of it.

Lanjut..

Bookmark and Share
caping • Jumat, 30 Oktober 2009 @ 16:11 diunggah oleh zen

Ikhtiar Demokrasi

DI SETIAP masa nampaknya selalu ada saat yang tak mudah untuk berbicara,tapi tidak gampang untuk diam. Kita tidak tahu pasti bagaimana persisnya kata-kata akan diberi harga, dan apakah sebuah isyarat akan sampai. Di luar pintu, pada saat seperti ini, hanya ada mendung, atau hujan, atau kebisuan, mungkin ketidak-acuhan. Semuanya teka-teki.

Toh setidaknya kita masih membutuhkan pembicaraan dengan diri sendiri. Kita tidak hanya bertindak. Setiap tindakan memerlukan penghalalan. Pada saat kita minta orang lain untuk diam sekalipun, sebenarnya jauh di dalam hati kita ingin agar orang lain itu kemudian membenarkan tindakan kita. Kapasitas kita untuk mengalahkan ingin kita sertai dengan kapasitas kita untuk meyakinkan.

Memang, itu tak selamanya bisa terjadi. Tapi adalah wajar bila kita, dengan tindakan kita, ingin dinilai “berhasil” dan serentak itu kita ingin dinilai sebagai “orang baik.” Pendeknya, orang lain di luar kita adalah sesuatu yang tak terelakkan, juga sesuatu yang kita butuhkan.

Mungkin itulah sebabnya, ada semacam hukum dalam setiap
kekuasaan: betapapun hebatnya kekuasaan itu, ia masih tetap
membutuhkan orang lain yang bebas.

Lanjut..

Bookmark and Share
caping • Ahad, 25 Oktober 2009 @ 01:10 diunggah oleh zen

After the Battle

This could be why in the fifteenth-century text the Korawaswara, the Kurawas are revived after the Bharatayudha war. And so the battle begins again: good must exist, but so too must evil.

What is the meaning of victory? After the Kurawas were defeated, the Kuru battlefield lay strewn with bodies. The stench of rotting flesh was everywhere. A sense of contampination hung in the air. Thousand of dogs whined, howled, and clawed the earth. Other than that there were just the moans of soldiers on the verge of death, lying amongst the remains of chariots and broken weapons.

The only colour was blood. There would be no more deeds of heroism.

The victors, the five Pendawas, had already taken over the palace, now empty. Speechless with exhaustion they viewed the vast empty audience hall. And now what? What more was there? Usually in such tales the storyteller will say that after such victory “the people lived happily ever after”.

But the Mahabharata is not usual history.

Lanjut..

Bookmark and Share
caping • Sabtu, 24 Oktober 2009 @ 01:21 diunggah oleh zen

Dua Sisi yang Harus Ada

Mungkin itulah sebabnya dalam Korawasrama dari abad ke-15, setelah perang Baratayudha berakhir, para Kurawa dihidupkan lagi. Perang pun dimulai kembali: yang baik harus ada, tapi begitu pula yang buruk.

APAKAH arti kemenangan? Setelah Kurawa dikalahkan, medan perang Kuru tinggal lapangan penuh bangkai. Bau busuk terbentang. Rasa cemar terapung ke kaki langit. Ribuan anjing ajak melolong, mengaum, mengais. Selebihnya cuma erang sekarat para prajurit, di antara sisa kereta dan senjata yang patah.

Warna di sana hanya darah. Anyir. Tak akan ada lagi perbuatan kepahlawanan.

Si pemenang, kelima bersaudara Pandawa, telah merebut istana yang kini sepi. Mereka pun membisu capek memandangi balairung yang lengang. Apa, setelah ini? Akan apa lagi? Dalam dongeng yang biasa, setelah kemenangan tercapai, si pendongeng akan menyebut bahwa, “rakyat pun hidup aman dan sejahtera…”

Tapi Mahabharata bukan dongeng seperti dongeng yang lain.

Lanjut..

Bookmark and Share
Esei • Jumat, 23 Oktober 2009 @ 02:59 diunggah oleh zen

Tentang Kewibawaan Kritik

Plutot que le maitre d’ecole, le critique doit entre Peleve de I’oevre.

Eugene Ionesco, Notes et contre notes [1966]

ADA sesuatu yang tak memuaskan, kurang-lebih. Pemikiran dari pembicaraan tentang kritik sastra Indonesia belakangan ini mengulangi lagi sebuah perasaan lama: perasaan tak puas, yang umumnva dikemukakan dengan cara-cara yang tak memuaskan pula, dalam diagnosa-diagnosa yang kabur.

Wiratmo Sukito, akhir Oktober 1968: “Keadaan hidup sastra dewasa ini sangat memberi kesan kepada kita, bahwa kekuatan politik masih tetap digunakan untuk menentukan kritik sastra. Apabila hal ini dilakukan oleh publik sastra adalah keliru untuk melemparkan kesalahan kepada mereka, karena yang menjadi persoalan pokok ialah wibawa kritik sastra dalam masyarakat” ["Kegagalan Kritik Sastra Indonesia Dewasa Ini", Harian Kami, 30 Oktober 1968, hal. 2].

Lalu kepada siapakah kesalahan harus dilemparkan? Kepada para kritisi? Saya kira tidak bisa. Selama hidup kesusastraan masih seperti sekarang: pulau kecil di lautan masyarakat yang tidak membacanya, selama itu pula segala suara dari dalam wilayah itu—termasuk suara kritik sastra—hanya akan sampai pada radius beberapa meter di sekitarnya.

Lanjut..

Bookmark and Share
PDF • Selasa, 20 Oktober 2009 @ 09:03 diunggah oleh zen

Update Dokumen PDF

Untuk memudahkan pembaca dan memberi kenyamanan saat membaca esai-esai yang panjang, situs ini secara berkala akan memberikan dokumen-dokuman dalam format PDF. Naskah-naskah yang disajikan dalam bentuk PDF dipilih sedemikian rupa, terutama untuk esai-esai penting dan relatif panjang.

Beberapa naskah yang sudah diunggah dalam format PDF di antaranya adalah naskah lakon berjudul Surti, pidato berjudul Menggali Pancasila Kembali dan naskah buku berjudul Demokrasi dan Kekecewaan yang memuat dua esai Goenawan Mohamad dan enam esai yang merupakan tanggapan terhadap esai Goenawan Mohamad.

Kali ini pembaca situs kembali disuguhkan dua dokumen PDF. Pertama, dokumen esai Seks, Sastra, Kita. Esai yang ditulis pada 1969 ini menjadi salah satu naskah Goenawan Mohamad yang cukup populer dan penting. Hingga kini, esai Seks, Sastra, Kita masih sering dirujuk tiap kali membicarakan persoalan seks dalam sejarah kesusastraan Indonesia.

Kedua, dokumen PDF dari esai berjudul Eksotopi. Esai panjang ini juga menjadi salah judul buku kumpulan esai Goenawan Mohamad yang berisi sejumlah esai-esainya yang panjang. Di esai ini, Goenawan Mohamad menguraikan apa artinya identitas di dunia yang makin kompleks.

Untuk mengunduh dokumen PDF esai Seks, Sastra, Kita dan esai Eksotopi, Anda bisa langsung mengunjungi halaman UNDUH PDF.

Bookmark and Share
caping • Sabtu, 17 Oktober 2009 @ 09:45 diunggah oleh zen

Pulung

Dari itu agaknya kita tahu, seperti kata Lionel Tiger yang menulis sebuah buku tentang “biologi harapan”, bahwa manusia adalah “sejenis hewan dengan bakat besar untuk berharap”, an animal with a gorgeous genius for hope.

Di masa lalu orang sering melihat harapan. Bentuknya pulung: seberkas cahaya yang jatuh dari langit di malam hari, isyarat bahwa seseorang telah dipilih untuk punya kelebihan, dan dengan itu mengatasi dunia yang ruwet.

Dengan kata lain, harapan adalah sesuatu yang luar biasa. Itu juga yang sampai sekarang terjadi.

Pulung memang tak tampak turun di Cikeas, di bubungan rumah presiden Indonesia yang baru. Tapi di Cikeas dan di luarnya, tiap kali kita “meng-harap” kita selalu “ber-harap”. Kita melakukan sesuatu untuk mengadakan harap, tapi pada saat yang sama kita bersikap bahwa kita berada dalam keadaan sudah mempunyainya (tersirat dari awalan “ber”). Artinya, ada sebuah loncatan ajaib antara belum dan sudah ada.

Harap seakan-akan tercipta dari ketiadaan, datang dari creatio ex nihilo.

Lanjut..

Bookmark and Share
caping • Jumat, 16 Oktober 2009 @ 10:16 diunggah oleh zen

Tahu dan Politik

Parlemen yang terbaik sekalipun bisa seperti sebuah pabrik tahu. Ia berbau bacin.

Kita bayangkan pabrik tahu itu: dalam dapurnya beberapa onggok kedelai diinjak-injak dengan kaki telanjang (siapa tahu dengan tungkak yang berkudis), diinjak-injak agar lumat, kemudian dicampur dengan air yang kian lama kian mirip lendir. Tak mengherankan bila kata “tahu” berasal dari bahasa Cina, “toufu”, dan kata “fu” berarti “busuk”.

Tapi dari pabrik yang berbau busuk itu lahirlah beratus-ratus bentuk kubus yang kemudian menjadi tahu pong atau tahu sumedang. Dan kita menikmatinya.

Parlemen yang terbaik sekalipun seperti sebuah pabrik tahu. Ia adalah tempat lahirnya pelbagai undang-undang—dan setiap undang-undang pada dasarnya adalah pernyataan harapan bahwa hidup dapat dibuat lebih baik. Lihatlah hukum yang mengatur perawatan lingkungan atau hukum yang melindungi nasib buruh. Undang-undang adalah sebuah alat konstruktif. Tapi bagaimana ia diproses sampai lahir adalah suatu perkara yang tak selamanya cocok dengan selera kesucian para nabi.

Seorang wakil rakyat pernah berbisik: jika pada suatu hari kau datang, dari perpustakaan yang ruangnya bersih dan lampunya terang, dan kau masuk ke sebuah gedung parlemen untuk menyaksikan bagaimana undang-undang diproduksikan, kau bisa muak.

Lanjut..

Bookmark and Share
Esei • Ahad, 11 Oktober 2009 @ 16:34 diunggah oleh zen

Eksotopi [1]

Pada dasarnya eksotopi-lah yang kita lakukan ketika kita membaca sebuah teks dan mengakui integritas teks itu, tetapi sementara itu juga membubuhkan suatu suplemen ke sana, dan itu berarti menciptakan suatu dialog—yakni dialog yang merupakan suatu kelanjutan kreativitas.

I

SELAMA beberapa bulan di tahun 1966, saya berjalan, hampir setiap hari, di atas jalan batu tua yang dirampat rapi di Kota Bruges, kota orang Flam dari abad ke-9 di Belgia, di mana masa silam datang kepada kita dan kitalah yang menjadi tamu. Tiap pagi, orang-orang minum kopi dan pengantar koran mampir dari rumah ke rumah, dan jalan mulai sibuk, bis kota sudah bertugas, tetapi segala hal yang normal di abad ke-20 itu akan segera diletakkan terpaut dengan sesuatu yang menyebabkan Bruges hidup: kehadiran sejarah.

Hampir saban pukul 8:30 saya melintasi kanal Rozenhoedkai, berpapasan dengan air hijaunya yang tak bergegas, yang melintas, terkadang terselip-selip, di antara titian batu dan gedung-gedung bata-merah yang tiga abad. Tiap setengah jam waktu dimaklumkan ke seantero kota: penghuni akan mendengar bunyi keloneng di udara, dentang 47 karilon yang tersimpan di salah satu ruangan di atas menara jaga yang tinggi; di hari-hari itu, tanda waktu itu menirukan patahan melodi Eine kleine Nachtmuziek.

Orang-orang kota dan buku panduan turis akan bercerita bahwa mercu yang menjulang di Balai Pasar itu sebuah konstruksi yang datang dari abad ke-14. Ia berdiri tinggi menghadapi lapangan umum, seakan-akan jadi patokan dari lanskap yang mendampingi Balai Kota. Orang-orang dan buku turis juga akan menunjukkan kepada para pelancong bahwa atap gedung yang berumur 550 tahun itu tak tampak lekang oleh cuaca, dan ornamen keemasannya, yang marak-meliuk, tak tampak aus.

Tak ada yang aus: masa silam hadir secara rutin, dan secara bangga, di Kota Bruges. Tapi tentu saja bukan masa silam saya.

Lanjut..

Bookmark and Share
Esei • Sabtu, 10 Oktober 2009 @ 17:03 diunggah oleh zen

Eksotopi [2]

Tak seorang pun di hari ini yang secara murni, secara utuh, terdiri dari satu hal saja.

III

SEMUA ini tak mudah. Selama berpuluh tahun orang hidup dengan oposisi yang simetris semacam itu, yang menampilkan Timur dan Barat. Pada bentuknya yang paling jauh, orang hidup dengan fetisisme identitas.

Ia bermula dengan kesadaran, bahwa ternyata ada bermacam cara untuk mengerjakan hal yang sama di antara sejumlah orang dan berbeda dari sejumlah orang yang lain. Kemudian, perbedaan itu pun dilekatkan pada suatu kekhasan tertentu: sejarah, geografis, ataupun faali. Langkah terakhir adalah menyimpulkan perbedaan ini sebagai esensi.

Sesungguhnya tak ada yang luar biasa bahwa seseorang sadar dirinya berasal dari sebuah kelompok yang berbeda atau termasuk ke dalam sebuah kelompok yang sama. Kemudian bisa saja datang kebutuhan untuk mempunyai sebuah simbol bersama, juga untuk mengembangkan satu bentuk, pemahaman diri yang lebih punya struktur dan satu cara untuk berhadapan dengan dunia luar. Di sini—dalam ekspresi yang lebih kuat— orang-orang dalam kelompok itu menekankan kehadiran diri, sikap mempertahankan diri, bahkan posisi menantang. Hasil yang kita saksikan
dewasa ini adalah politik identitas. Di sini manusia dari gender, ras dan tanda-tanda gambar yang lain mara ke depan, bernegosiasi agar suara mereka didengar dan martabat mereka dihormati—terkadang dengan cara yang keras.

Umumnya, memang, ini merupakan respons yang wajar setelah bertahun-tahun sejumlah orang disisihkan atau menderita diskriminasi. Tapi ada juga cara lain untuk menjelaskan mengerasnya batas antara kelompok manusia yang berbeda-beda. Dunia kini terdiri dari perekonomian pasar yang meluas, yang membangkitkan dan dibangkitkan oleh modal. Dan seperti galibnya, ekspansi itu tak selamanya setara. Fragmentasi terjadi di pelbagai komunitas, besar ataupun kecil, dan ini memperkuat dorongan-dorongan melepaskan diri dari pusat.

Ada perasaan kehilangan dan ketidak-pastian yang menyusul. Krisis yang melanda Marxisme dan cita-cita liberal memurubkan bara yang sudah tersedia.

Lanjut..

Bookmark and Share