Esei • Rabu, 30 September 2009 @ 04:51 diunggah oleh zen

Bayang-bayang PKI

komunis

Komunisme gagal, dan ada sebuah lelucon tentang itu. Saya mendengarnya di tepi Sungai Neva, Petersburg, di tahun 1990.

Di tepi bengawan yang membelah kota tua itu tertambat kapal penjelajah Aurora, yang sudah jadi sebuah museum. Tanggal 6 Nopember 1917, dari meriam kapal yang dikuasai para pelaut Bolsyewik ini, ditembakkanlah sebutir peluru kosong. Pasukan komunis pun menyerbu Istana Musim Dingin, tempat pemerintahan non-komunis yang dipimpin Kerensky berada. Kaum Bolsyewik menang, Kerensky lari, dan Rusia menjadi negeri komunis pertama di dunia.

Lebih dari 70 tahun kemudian, ketika komunisme terbukti tidak mampu membuat hidup yang lebih baik di sana, orang pun mencemooh: kapal Aurora ternyata punya senjata yang paling dahsyat di dunia, katanya. Dengan satu peluru kosong, ekonomi Rusia dapat dihancurkan selama 70 tahun lebih.

Dari segi ini, komunisme adalah sebuah cerita tragis sebenarnya.

Lanjut..

caping • Ahad, 27 September 2009 @ 19:46 diunggah oleh zen

Yang Keras

Saya telah mengenal kekerasan, bahkan sebelum saya bisa bilang “tidak”.

Jika seorang Indonesia harus menulis autobiografinya, mungkin sekali ia akan mencantumkan kalimat seperti itu. Saya mengalaminya. Anda juga. Kita punya riwayat yang sama: sejarah sebuah negeri yang tak serta merta sunyi, tentram, damai, seperti Telaga Sarangan dalam nyanyian orkes keroncong. Tanah ini memang tanah tumpah darah.

Ingatan saya yang paling jauh ke masa kecil adalah ingatan samar-samar tentang sebuah ruang yang gelap. Si Bungsu dipangku ibu di sebuah kursi goyang. Hampir seluruh keluarga berkumpul, tapi tak seorang pun bicara.

Kemudian hari, setelah dewasa, baru saya tahu apa yang terjadi pada saat itu: kami semua bersembunyi di dalam lubang perlindungan besar yang dibangun Bapak di halaman rumah. Hari itu adalah suatu hari di masa Jepang. Kata-kata tegang, tapi menarik, dan begitu dekat, adalah “bom” dan “perang”. Dan kami ketika itu harus membiasakan diri.

Bom dan perang memang kemudian terjadi, dan terus terjadi. Masa Jepang habis orang-orang tak bicara soal merdeka. Bapak menaikkan bendera merah putih dengan mata basah. Tapi pasukan Belanda masuk kembali. Seorang penduduk tertembak kakinya. Di malam pertama pasukan asing itu menduduki kota kami, seorang pemuda pemberani melemparkan granat ke markas mereka. ia sendiri tertembak mati, dengan jidat hancur.

Lanjut..

Esei • Rabu, 23 September 2009 @ 07:20 diunggah oleh zen

Tatal 17

41dk6t7rcql_sl500_aa240_

Ada seorang pemilik toko buku yang hidup dalam kesepian dan kemarahan yang diam. Ia tinggal di sebuah negeri yang kini menyebut diri “Komunitas Iman.”

Para pemuda Ikhwanul Waspada muncul ke mana-mana, merusak alat musik, membakar film berpuluh-puluh rol, merobek kanvas lukisan, menghancurkan patung—dengan keyakinan bahwa keindahan hanya ada di Tuhan, dan tak ada di bumi yang layak menyaingi wajah-Nya.

Itulah pangkal masygul Boualem Yekker, tokoh novel Le Dernier été de la Raison (Musim Panas Terakhir Akal Budi) ini, dan ia terpojok, ia terkucil. Sejak kecil, sejak ia belajar di madrasah yang ketat mengajarkan Quran, ia ingin berjalan ke pelbagai tempat di muka bumi.

Lanjut..

Esei • Jumat, 18 September 2009 @ 03:24 diunggah oleh zen

After Breakfast

forgiving

– A talk at University if Brandeis, to a symposium of the Brandeis International Fellowship Program, October 14, 2004.

During this honored opportunity, I will be speaking about ‘forgiveness’ or ‘forgiving’, an issue intimately related to the theme of the symposium today. It is a happy coincidence that as of tomorrow, Muslims all over the world will start their month of fasting, or Ramadhan. Both Ramadhan and its closing are important moments for a Muslim – since, at least in my country, Indonesia, people traditionally regard them as moments of self-purification, to be followed by an act of giving and forgiving.

As the religious law dictates, on the last evening of the fast, all Muslims save the very poor will have to allot at least 2,5 kilograms of staple food for people who are hungry, needy, or ensnared by debt. There is also an additional norm in our local tradition: we are expected to prepare special dishes –plenty of meat, and a wide variety of delicious spices — for relatives, friends, neighbors, and other guests.

In the village I grew up, I remember doors would be open even to total strangers. In the afternoon, a kind of fiesta would be organized, involving an elaborate costumed parade and a boat race. They were never made into a competition; no jury would announce a winner, no prize would be awarded. Needless to say, the whole celebration was very costly, but the people in the village of my childhood, who were not particularly rich, seemed to expect nothing in return.

Lanjut..

Esei • Rabu, 16 September 2009 @ 00:00 diunggah oleh zen

Tatal 32

Tiap doa mengandung ketegangan. Doa selalu bergerak antara ekspresi yang berlimpah dan sikap diam, antara hasrat ingin mengerti dan rasa takjub yang juga takzim. Di depan Ilahi, Yang Maha Tak-Tersamai, lidah tak bisa bertingkah.

Bila ada agama yang memusuhi syair, itu karena ia lupa bahwa puisi juga sejenis doa. “Di pintu-Mu aku mengetuk/ aku tak bisa berpaling,” tulis Chairil Anwar, antara lega dan putus asa.

Puisi, bahkan dalam pernyataannya yang tersuram, adalah rasa hampa tapi juga sikap bersyukur yang tak diakui.

caping • Selasa, 15 September 2009 @ 23:55 diunggah oleh zen

Allah

Pada akhirnya Ia hanya Ilahi yang ditinggalkan.

ORANG sering menyembah Tuhan yang diperkecil. Maka berabad-abad yang lalu, di kota-kota yang berbataskan gurun, di mana langit luas dan malam dihuni cerita dan rahasia, para rasul datang memperingatkan. Mereka mengecam berhala. Mereka mengecam doa yang membayangkan Tuhan sebagai—jika kita pakai kiasan hari ini—seraut pohon bonsai.

Berhala atau bonsai: sesuatu yang memikat justru karena diletakkan di sebuah kotak yang tetap, seakan-akan hidup, tapi sebenarnya hanya Tuhan yang diperkecil oleh manusia, sesembahan yang jauh dari hakikat Dia yang maha-agung.

Orang-orang muslim punya sebuah cerita dari Quran.

Di hadapan Fir’aun, begitulah dikisahkan, Musa memberi jawab yang tak diharapkan ketika raja Mesir itu bertanya, “Dan apakah Tuhan alam dunia itu?” Pertanyaan itu, “Ma rabbu al-alamina?”, cenderung menantikan sebuah definisi. Tapi jawaban Musa berbeda, dan sangat kena. Nabi itu hanya mengatakan bahwa “Tuhan” adalah “Tuhan dari Timur dan dari Barat, dan dari segala yang ada di antaranya.”

Lanjut..

Esei • Senin, 14 September 2009 @ 20:00 diunggah oleh zen

Tatal 23

Yang menyangka ada jalan pintas dalam iman akan menemukan jalan buntu dalam sejarah.

Tiap masa selalu ada orang yang mengembara dan membuka kembali pintu ke gurun pasir tempat Musa—yang tak diperkenankan melihat wajah Tuhan—mencoba menebak kehendak-Nya terus-menerus.

Di sana tanda-tanda tetap merupakan tanda-tanda, bukan kebenaran itu sendiri. Di sana banyak hal belum selesai.

Gurun pasir tak sepenuhnya dialahkan, dan cadar selalu kembali seperti kabut. Manusia bisa tersesat, tapi sejarah menunjukkan bahwa iman tak pernah jera justru ketika Tuhan tak jadi bagian benda-benda yang terang.

Esei • Senin, 14 September 2009 @ 19:52 diunggah oleh zen

Tentang Atheisme dan Tuhan yang Tak Harus Ada

Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman pada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan—ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran. Dari sini kita tahu para atheis salah sangka: mereka menuntut Tuhan sebagai sosok yang hadir dan ditopang kepastian. Sebenarnya mereka juga terkena waham, tertipu berhala.

Al-Ghazali dalam al-Maqsad al-Asnâ

ATHEISME dimulai dengan kesulitan bahasa. Dan, jika kita membaca buku Christopher Hitchens, God is Not Great, kita akan tahu: ada juga salah sangka.

Atheisme tak datang dari kecerdasan semata-mata, tapi juga dari kaki yang gemetar dan tubuh yang terdesak. Kegamangan kepada agama yang sedang tampak kini mengingatkan suasana sehabis perang agama di Eropa di beberapa dasawarsa abad ke- 16. Agama nyaris identik dengan kekerasan, kesewenang- wenangan, dan penyempitan pikiran. Dari sinilah lahir semangat Pencerahan: terbit karya Montaigne dan Descartes, buah skeptisisme yang radikal. Doktrin agama diletakkan di satu jarak.

Kini berkibarnya “revivalisme”, terkadang dalam bentuk “fundamentalisme”, dan tentu saja bercabulnya kekerasan menyebabkan reaksi yang mirip: buku Hitchens terbit di dekat The End of Faith oleh Sam Harris (tahun 2004). Juga The God Delusion karya Richard Dawkins, seorang pakar biologi. Satu kutipan oleh Dawkins: “Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut agama.”

Namun, agaknya bukan karena waham bila dalam masa tiga dasawarsa terakhir ada “gerak” lain yang cukup berarti: mendekatnya filsafat ke iman. Dalam gerak “pascamodern” ke arah Tuhan ini diangkat kembali pendekatan fenomenologis Heidegger yang mendeskripsikan “berpikir meditatif”, atau lebih khusus lagi, “berpikir puitis”, yang lain dari cara berpikir yang melahirkan metafisika dan ilmu-ilmu.

Bersama itu, ada kritik Heidegger terhadap “tuhan menurut filsafat”, atau tuhan dalam metafisika—yang baginya harus ditinggalkan.

Lanjut..

Esei • Rabu, 9 September 2009 @ 07:43 diunggah oleh zen

Tatal 8

Amir Hamzah sebenarnya tak bertanya, ketika ia menulis: “Tuhanku, apatah kekal?”

Junjunganku apatah kekal?
apatah tetap
apakah tak bersalin rupa
apakah baka baka sepanjang masa

Bunga layu disinari matahari
mahluk berangkat menepati janji
hijau langit bertukar mendung
gelombang reda di tepi pantai

Ada keseriusan tentang kefanaan dalam kata-kata itu, tapi tentu saja tak terjawab. Manusia telah mengatakan, kekal itu sifat Tuhan semata-mata.

Tapi ada sebuah pertanyaan lain yang tak diucapkan Amir Hamzah dan dikemukakan Ibnu Sina di abad ke-10: jika Tuhan kekal, berarti Ia di luar waktu, bagaimana menciptakan alam semesta terjadi? Lanjut..

Esei • Selasa, 8 September 2009 @ 23:26 diunggah oleh zen

Tentang Teks dan Iman

Membuat buku terbit, itu destruktif bagi penulisan

– Ernest Hemingway, dalam sepucuk surat 2 Oktober 1952

I

JIKA sebuah buku adalah sebuah akhir penulisan, maka ia berhenti menjadi sebuah teks. Ia menjadi sesuatu yang final. Sebab itulah buku bisa dianggap destruktif terhadap penulisan (begitulah yang dikatakan Hemingway), tetapi dengan demikian juga sebuah buku dituntut untuk hanya jadi petunjuk tentang desain yang belum selesai. Perjalanan masih panjang. Tiap buku adalah sebuah halte kecil. Maka buku menjadi perlu.

Tetapi saya tidak tahu pasti bagaimana keadaannya dewasa ini terutama di Indonesia, di sebuah masyarakat yang dengan cepat, bahkan langsung, bergerak dari suatu keadaan praliterer ke dalam keadaan pascaliterer, dari suatu lingkungan yang tak pernah membaca ke dalam suatu lingkungan yang tak hendak membaca, di mana media televisi mengisi hampir, setidaknya dalam dugaan saya, 50% dari waktu senggang malam hari orang Indonesia yang berpendidikan sekolah menengah.

Memang ada sebuah lelucon dari Groucho Marx yang menghubungkan acara televisi yang buruk dengan buku. “Menurut hemat saya, televisi itu sangat edukatif,” kata pemain film komedi tahun 1930-an itu, “Tiap kali ada orang yang menyetelnya, saya langsung pergi ke kamar lain dan membaca buku yang menyenangkan”.

Tetapi di Indonesia, telenovela dengan wajah-wajah yang rupawan, film silat dengan pukulan-pukulan yang ajaib, dan puluhan kuis yang tidak menginginkan kecerdasan, semuanya begitu gilang-gemilang, dan orang-orang bisa duduk di depannya, bersama-sama, rukun dan terpukau.

Lagipula di rumah kelas menengah kita, mana ada sebuah kamar yang menyediakan buku?

Lanjut..