Esei • Senin, 31 Agustus 2009 @ 22:13 diunggah oleh zen
Yang menyangka ada jalan pintas dalam iman akan menemukan jalan buntu dalam sejarah.
Tiap masa selalu ada orang yang mengembara dan membuka kembali pintu ke gurun pasir tempat Musa —yang tak diperkenankan melihat
wajah Tuhan— mencoba menebak kehendak-Nya terus-menerus. Di sana tanda-tanda tetap merupakan tanda-tanda, bukan kebenaran itu sendiri. Di sana banyak hal belum selesai.
Gurun pasir tak sepenuhnya dialahkan, dan cadar selalu kembali seperti kabut. Manusia bisa tersesat, tapi sejarah menunjukkan bahwa umat tak pernah jera justru ketika Tuhan tak jadi bagian benda-benda yang terang.
* Dikutip dari buku Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai.
wawancara • Senin, 31 Agustus 2009 @ 20:53 diunggah oleh zen
Pada Jumat sore, 25 Januari 2008, redaktur Madina, Ihsan Ali-Fauzi dan Hikmat Darmawan, bercakap-cakap dengan Goenawan Mohamad di Bakoel Coffie Cikini, tentang Tuhan para penyair, Rumi, perang agama, dan Reformasi yang tak menjanjikan apa-apa.
MADINA (M): Sebagai penyair, bagaimana Anda memandang pergumulan seorang penyair dengan Tuhan; apakah juga sama dengan pergumulan seorang penyair dengan teks?
Goenawan Mohamad (GM): Saya kira, kita tahu bahwa Tuhan datang ke kesadaran kita itu sebagai teks, melalui teks. Tuhan sendiri itu kan tidak pernah kita ketahui, yang kita ketahui selalu teks tentang Tuhan. Teks tidak berarti medium dalam bentuk tertulis. Tetapi teks dalam arti mediasi antara kita dan Tuhan itu sendiri, juga kesadaran kita tentang Dia. Jadi, setiap orang, baik penyair maupun bukan, selamanya bergulat dengan Tuhan adalah melalui teks.
M: Tapi, seberapa beda antara penyair dengan yang lain dalam menghayati teks itu?
GM: Saya kira, kalau ada bedanya, adalah kepekaan pada metafor. Para penyair lebih peka karena biasa berbicara dengan bahasa metafor. Bukan itu saja, karena para penyair sadar bahwa bahasa pada dasarnya adalah metafor, maka teks yang masuk dalam kitab suci maupun yang di luar itu, selalu berlaku sebagai metafor.
Lanjut..
al-ghazali,
atheisme,
cak nur,
gabriel marcel,
iman,
majalah madina,
Puisi,
rumi,
saya tak bisa jadi atheis,
teologi,
wawancara
Esei • Kamis, 27 Agustus 2009 @ 23:19 diunggah oleh zen
Karena malam tak sepenuhnya tertembus, juga oleh kelelawar yang mabuk, taufan antah-berantah dan rembulan yang gila, harapan jangan-jangan bermula dari sikap yang tak mengeluh pada batas.
Makin tahu manusia tentang luasnya alam semesta, makin tampak bumi menyendiri dan manusia terpencil. Planet ini hanya setitik noktah yang cepat hilang. Tapi pada saat yang sama, dalam keadaan yang praktis terabaikan itu, hilang dan ketiadaan bukanlah sesuatu yang luar biasa.
Hidup begitu dekat dan Ketiadaan begitu megah.
Saya teringat baris kalimat Sitor Situmorang dalam sajak Cathedral des Chartres: “hidup dan kiamat bersatu padu.”
* Dikutip dari buku Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai, hal. 10.
caping • Kamis, 27 Agustus 2009 @ 22:36 diunggah oleh zen
Kemurnian barangkali memang tak ditakdirkan untuk dunia yang tak kekal, tak tunggal, ini.
PERANG Padri tak dimulai dari titik nol. Sewaktu saya kecil, yang saya baca hanyalah cerita tentang Imam Bonjol yang melawan para pendukung adat yang dibela Belanda. Setelah mulai tua, saya baca kisah tentang Tuanku Nan Rinceh, yang kurus tapi dengan mata menyala bagai api.
Ia muncul dalam arena konflik sosial yang melanda Minangkabau sejak awal abad ke 19. Ia muncul dan ia mengagetkan.
Di daerahnya di Bukit Kamang yang tinggi, ia memaklumkan jihadnya seperti pedang berkilat. Merasa ia harus memberi contoh bagaimana ajaran agama mesti ditaati tanpa ditawar, konon ia membunuh saudara ibu kandungnya. Wanita itu seorang pengunyah tembakau.
Lanjut..
Esei • Rabu, 26 Agustus 2009 @ 01:20 diunggah oleh zen
Demak: Pada suatu hari yang mungkin tak sebenarnya terjadi di abad ke-16, dengan sabar sembilan orang wali mendirikan mesjid pertama di kota pantai utara Jawa ini.
Beratus-ratus tahun kemudian cerita terus beredar, bahwa salah seorang dari mereka, Sunan Kalijaga, menyusun tiang mesjid di Demak itu dari tatal: serpihan kayu yang tersisa dan lapisan yang lepas ketika papan dirampat ketam.
Saya bayangkan dengan takjub: sebuah mesjid yang ditopang oleh yang terbuang, yang remeh dan yang tak bisa disusun rata — bukan sebuah rumah Tuhan yang berdiri karena pokok yang lurus dan kukuh, dengan lembing dan tahta.
* Dikutip dari buku Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai, hal. 9.
caping • Selasa, 25 Agustus 2009 @ 15:31 diunggah oleh zen
Masjid desa kita juga bukan masjid tempat menyimpan makam orang besar, dalam kandang yang kukuh dan wangi yang dikitari taburan mata uang penderma. Ia bukan gemerlap, sementara di luarnya orang hidup zuhud atau papa.
BARANGKALI kita ingat akan masjid desa tempat kita dibesarkan.
Ia tak bermenara. Hanya di atas atapnya, agak persis di tengah,
terdapat sebuah ruang berdinding kayu tempat menyerukan bang. Orang naik ke sana dengan sebuah tangga bambu. Tak ada kubah menggelembung. Tak ada pengeras suara. Arsitektur dan letaknya tak menyolok dan tak ingin mendamik dada ke sekitar rumah-rumah rakyat yang miskin. Hanya ruang dalamnya lebih sejuk. Lantainya lebih bersih. Sumurnya lebih dalam, dan air kulahnya tak pernah kering.
Ia bukan karya yang layak dipotret untuk buku sejarah.
Mungkin juga ia tak merasa punya sejarah. Tapi seperti wajah merbotnya yang tua, ia terus saja di sana. Bila atapnya bocor ia diperbaiki sekedarnya. Bila menjelang Idul Fitri dindingnya dikapur secukupnya. Masjid yang dibangun dengan ongkos murah, dan dipelihara dengan uang sedikit (tapi toh cukup) itu dengan
demikian terbebas dari ketergantungan pada penyumbang-penyumbang kakap. Ia juga bisa terus, tanpa minta diperhatikan pejabat-pejabat kakap.
Di masjid-masjid megah, biasanya bertemu kekuasaan para pembesar agama dengan pembesar negeri. Kadang pertemuan itu mulia, kadang tidak. Tapi di masjid desa kita pertemuan yang mulia ataupun tak mulia tak pernah terjadi.
Lanjut..
caping • Sabtu, 22 Agustus 2009 @ 15:24 diunggah oleh zen
DI hari-hari ini saya berpuasa dan merasakan sebuah privilese: saya dihormati. Dengan tekad saya sendiri saya berniat tak makan dan tak minum sejak dini hari hingga senja; selama itu saya sadar bahwa akan ada saat-saat saya bisa tergoda—tetapi saya selamat. Saya siap untuk terganggu, tetapi lihat: saya tak boleh diganggu.
Privilese itu kini sudah seperti sesuatu yang semestinya. Demi ibadah saya, yang saya niatkan sendiri, orang-orang lain tak bisa pergi pijat karena selama sebulan semua panti pijat harus ditutup—meskipun ini bukan tempat yang mesum sama sekali—dan sekian ratus pemijat tidak mendapatkan penghasilan.
Demi ibadah saya, orang-orang lain tidak dapat minum-minuman beralkohol selama kurang-lebih 30 hari, siang dan malam—meskipun mereka lazim melakukannya sebagai bagian dari hidup mereka—karena bar tak boleh buka dan kalaupun ada restoran buka, bir, anggur, wiski, konyak, vodka, dan lain-lain harus masuk kotak.
Terkadang saya tak tahu apakah saya merasa bangga, atau bersyukur, atau merasa bersalah, ketika di mana-mana dipasang anjuran: “Hormatilah Orang yang Berpuasa”.
Lanjut..
caping • Senin, 17 Agustus 2009 @ 18:45 diunggah oleh zen
MERDEKA memang tidak mudah. Empat puluh tahun merdeka menunjukkan itu. Saya kenal Pak Jamil. Anda mungkin kenal Wardi
atau Johanes. Kita kenal mereka yang tewas dalam pelbagai perang saudara dan pemberontakan. Atau kita pernah ketemu dengan mereka, yang kemudian lenyap setelah sebuah kerusuhan.
Berapa banyak sudah orang yang mati? Berapa banyak anak-anak yang terbuncang oleh guncangan politik dalam riwayat Republik, tersia-sia oleh kekalutan ekonomi, atau celaka oleh kesewenang-wenangan?
Merdeka itu ibarat hidup berkeluarga sendiri: suatu fluktuasi
nasib yang tak bisa disodorkan lagi ke punggung orang lain. Sebelum swasembada beras hari ini, kita pernah disengat hongerudim. Sebelum zaman aman, kita pernah menempuh zaman DI.
Hutan dan pedalaman tak hanya memperdengarkan suara seruling, tapi juga jadi unggur api pembakaran yang ganas - seperti dengan indahnya dituliskan oleh Ramadhan K.H. dalam sebuah puisi panjang tentang Priangan. Dan kita pun hidup dengan trauma. Kita hidup dengan kecemasan.
Lanjut..
caping • Senin, 17 Agustus 2009 @ 18:36 diunggah oleh zen
DENGAN apakah bangsa lahir? Otto von Bismarck berwajah angker, bertubuh berat, berpakaian tebal dan menjawab, “Dengan darah dan besi.” Gaung suaranya dalam.
Jerman memang mungkin lahir durch Blut und Eisen, setelah prajurit Prusia maju menginjak bumi di bawah lars mereka, menembak, membunuh. Perang memang mungkin bapa dari segalanya jika orang cuma percaya pada kata-kata bagus Heracleitus. Benar, perang telah terbukti menyebabkan lahirnya perbatasan baru, mengipas kebanggaan bersama, memasang kekuasaan atau meruntuhkannya. Perang melahirkan Hitler yang kalah, Hiroshima yang dibom dan Asia yang merdeka.
Tapi jika kita percaya hanya itu, kita akan percaya bahwa sejarah adalah hasil pistol dan sersan-sersan — dan di luar peperangan, semua yang dibuahkan adalah anak haram jadah. Padahal sebuah bangsa memang bisa lahir lewat ujian darah dan besi, tapi juga penting bertahannya mitos, mungkin juga impian.
Biarpun impian yang agak konyol, atau sesuatu yang disebut
“imajinasi”.
Lanjut..
caping • Jumat, 7 Agustus 2009 @ 22:59 diunggah oleh zen
Fantastis
Di satu Minggu siang yang panas
Di gereja yang penuh orangnya
Seorang padri muda berdiri di mimbar
Wajahnya molek dan suci
Matanya manis seperti mata kelinci
Dan ia mengangkat kedua tangannya
Yang bersih dan halus bagai leli
Lalu berkata :
“Sekarang kita bubaran.
Hari ini khotbah tak ada”
DEMIKIANLAH bermula sebuah sajak yang sangat bagus. Penulisnya Rendra. Dalam kumpulan Blues untuk Bonnie (terbit 1971), sajak yang panjang itu terbentang 6 halaman: sebuah puisi yang juga sebuah cerita pendek, sebuah kisah surealistis yang memesonakan tentang satu misa yang berakhir dengan buas.
Sang padri muda telah mengatakan, hari itu khotbah tak ada. Ia ingin kembali ke biara, untuk “merenungkan keindahan ilahi”. Tapi orang-orang, gerombolan hadirin itu, tak beranjak. Mereka tetap duduk berdesak-desak. Atau berdiri. Suara mereka mendesah. Mata mereka menatap, bertanya-tanya. Mulut mereka menganga. Mereka berhenti berdoa. Mereka ingin mendengar. Mereka sangat butuh mendengar.
Dan melihat itu, dan mendengar desah mereka, dan menghirup bau mulut mereka yang keras, sang padri muda pun terpekik : “Orang-orang ini minta pedoman. Astaga. Tuhanku, kenapa di saat ini Kau tinggalkan daku.”
Lanjut..