Esei • Rabu, 29 Juli 2009 @ 00:07 diunggah oleh zen
Malin Kundang telah terkutuk, dan tak seorang pun mencoba memahaminya. Perahunya kandas di depan pantai, dan dalam legenda disebutkan, bahwa pemuda durhaka itu kemudian menjadi batu. Ibunya telah mengucapkan kutuk atas dirinya. Perempuan tua yang miskin itu kecewa dan sakit hati: anak tunggalnya tak mau mengenalnya lagi, ketika ia singgah sebentar di desa kelahirannya sebagai seorang kaya setelah mengembara bertahun-tabun. Dan kisah turun-temurun ini pun berkata, bahwa dewa-dewa telah memihak sang ibu. Ini berarti bahwa semua soal berakhir dengan beres: bagaimana pun, setiap pendurhakaan harus celaka. Tak seorang pun patut memaafkan Si Malin Kundang. Kita tak pernah merasa perlu memahami perasaan-perasaannya.
PADA umur yang kedelapan-belas, seorang anak muda menulis sajak. Ia tak tahu kenapa seorang harus jadi penyair. Namun pada umur kesembilanbelas, setahun kemudian, anak muda itulah yang juga menulis: “Salah satu kebebasan pertama seorang pencipta adalah kebebasannya dan sikap kolektif yang mengikat diri, dan bahaya orang yang terlalu memperhatikan rumus-rumus umum yang dikenakan di atas kesadaran keseorangannya ialah terbentuknya diri dalam lingkungan kolektivisme, sehingga hasilnya nanti tidak akan lebih dari hasil tukang proyeksi, “suara umum” dan penyodor kemutlakan ajaran….
“Penyair mana pun yang baik, kehadirannya mula pertama adalah sebagai seorang penyair. Lebih jauh lagi: seorang manusia dengan semua masalahnya, dalam suatu hidup. Hasil sastranya pun bukan hasil suatu eksemplar dari suatu jumlah, tetapi hasil keseorangan yang betul-betul utuh”.
Beberapa tahun lamanya ia terlupa pada esai angkuh yang pertama kali ditulisnya dalam hidupnya itu. Namun rupanya ia telah menuliskan suatu sikap yang kemudian berlanjut terus dalam dirinya, tanpa sepenuhnya ia sadari. Agaknya sejak mula kesusastraan telah membukakan diri baginya dan ia telah mencicipi kcmerdekaan. Adam telah mencicipi buah khuldi itu. Maka ia pun dilemparkan dari surga ke dunia: anak muda itu telah berpindah dari ketenteraman sunyi seorang anak, kepada dunia penciptaannya yang gelisah.
Ia pindah ke Jakarta.
Lanjut..
Esei • Jumat, 24 Juli 2009 @ 21:02 diunggah oleh zen
Maka sebuah slogan pun menjadi sajak perkasa karena kenyataan yang hidup dicerminkannya.
Feng Chih, dari Shih-nien Shih Ch’ao, Peking, 1959.
Slogan telah bersaing dengan puisi. Persaingan ini barangkali merupakan salah satu ciri kesusastraan abad keduapuluh, sebuah “abad politik”.
Mengapakah justru demikian? Politik adalah penyusunan kekuasaan dan penggunaan kekuasaan, dan karenanya fungsi slogan menjadi amat pentingnya dalam bidang kehidupan ini. Ia penting untuk mengerahkan massa yang secara fisik merupakan faktor utama di dalam melaksanakan tujuan-tujuan politik.
Dengan demikian slogan adalah penghubung dan pembentuk solidaritas antara massa rakyat dengan pemimpin-pemimpin politik, solidaritas yang lazimnya diperlukan sekali apabila sebuah rencana sedang atau akan dijalankan oleh pimpinan politik, baik rencana itu untuk atau tidak untuk rakyat di bawahnva. Terbentuknya solidaritas itu oleh pemimpin mana pun merupakan syarat mutlak bagi tujuan-tujuannya.
Sebab kabarnya ada sebuah kata pepatah: “Berdiam-dirinya rakyat adalah sebuah pelajaran buat sang raja”.
Lanjut..
caping • Sabtu, 18 Juli 2009 @ 00:03 diunggah oleh zen
Maka yang paling brutal pada malam itu adalah bahwa bahasa seakan-akan tak diperlukan. Juga perlambang. Juga pathos dan sejenis kepahlawanan. Yang hendak ditekankan hanya: pembantaian, perusakan, ekspresi kebencian, penyebaran ketakutan.
Apa yang terjadi, ketika teror menyentak dan membantai, tapi juga membisu? Ketika semua berlangsung tanpa perlambang, tanpa bahasa, tanpa teater? Kuta, Bali, 12 Oktober 2002, dan Manhattan, New York, 11 September 2001: betapa berbeda.
Ketika dua bangunan World Trade Center yang menjulang hampir setengah kilometer itu dihantam dua kapal terbang, dan 3.000 orang tewas, dan gedung yang jangkung bagaikan menara itu terbakar dan runtuh secara mengerikan, drama itu punya panggung yang luas: langit pagi, musim panas yang cerah, cuaca yang tanpa cacat.
Hari itu dunia pun menyaksikan sesuatu yang spektakuler yang mengharu-biru. Sebuah film? Sebuah berita? Kita sejenak tercengang. Kemudian kita sadar bahwa sebuah pembantaian besar yang riil terjadi—dan kenyataan akhirnya merenggutkan kita yang selama ini hidup diterpa bertubi-tubi simulacra, tak tahu persis lagi apa gerangan arti “kenyataan”.
Lanjut..
caping • Jumat, 17 Juli 2009 @ 20:41 diunggah oleh zen
Pembenaran epistemologis memang mengandung keterbukaan, pertanyaan, dan sikap kritis—juga kepada diri sendiri. Pembenaran ontologis tidak. Dan agaknya itulah yang berlangsung ketika “aku” berilusi bahwa “aku”-lah yang punya fondasi untuk menentukan yang indah dan tak indah, yang suci dan tak suci.
DUA gelegar mengagetkan seperti petir—api murub—asap hitam membubung—pekik berpuluh-puluh suara kesakitan yang serentak…. Kebuasan itu memang bisa tampak seperti sebuah spectacle, baik di New York pada tahun 2001 maupun di Bali pada tahun 2002.
Kita seakan-akan menyaksikan lukisan Hutan Terbakar Raden Saleh dalam tiga dimensi, atau satu adegan opera Götterdämmerung karya Wagner. Mungkin sebab itu, ketika dua pesawat Boeing 767 ditabrakkan para teroris ke Menara Kembar di New York, dan bangunan kukuh itu runtuh, dan 3.000 mati, Stockhausen, komponis Jerman terkenal itu, berucap, “Itulah karya seni terbesar untuk seluruh kosmos.”
Tapi orang marah mendengarnya. Teror sebagai karya seni, korban sebagai tontonan, para pembunuh sejajar dengan para jenius? Stockhausen dikecam; sejak itu ia tutup mulut. Tapi salahkah sang komponis untuk mengatakan demikian, di zaman ketika setiap benda, setiap tindak, dapat dinyatakan sebagai “seni”?
Pada tahun 1911 pelukis Marcel Duchamp mengikutsertakan sebuah sentoran kencing ke dalam sebuah pameran seni rupa di New York. Sebuah “revolusi” pun terjadi. Pada tahun 2001 seharusnya tak mengejutkan lagi jika Stockhausen membaptiskan penghancuran Menara Kembar sebagai sebuah “karya seni”.
Lanjut..
caping • Kamis, 16 Juli 2009 @ 21:01 diunggah oleh zen
Tapi Napoleon sempat menembakkan suaranya kepada si tua pejuang kemerdekaan, “Siapa yang memaklumkan bahwa pembangkangan adalah sebuah kewajiban?”
DALAM umur 19 tahun, seorang anak bangsawan Prancis berangkat berperang - menyeberangi lautan - ke benua lain yang jauh, Amerika. Dengan sedih ia tinggalkan istrinya, untuk bertempur, bukan buat orang setanah airnya, melainkan buat sekelompok pemberontak asing.
Apa gerangan yang dicarinya?
Sejarah kemudian bercerita bahwa Gilbert de Lafayette pergi melintasi Lautan Atlantik yang luas di abad ke-18 itu, karena cintanya kepada sebuah hal yang tak begitu jelas: kemerdekaan.
Tapi mungkin perkaranya tak sesederhana itu. Lanjut..
caping • Senin, 13 Juli 2009 @ 20:54 diunggah oleh zen
ADALAH seorang wanita tua, di kota lama Yaroslavl, di tepi Sungai Volga, yang menangis menyaksikan demokrasi.
Hari itu, pekan lalu, wanita Rus itu menonton sebuah sejarah yang sedang diubah — suatu proses dramatis yang bahkan dibentangkan di lavar televisi.
Ia mengikuti laporan luar biasa dari Moskow itu: sebuah konperensi dari Partai yang berkuasa, yang dulu begitu tertutup dan angker, tapi kini serasa tidak, yang dulu sering menampilkan wajah seram, tapi kini bisa lucu, yang dulu seperti mengingkari genealoginya sendiri, tapi kini seakan insaf: bahwa Partai itu pernah jadi palu dan sabit yang menggertak rakyat, memancung….
Wanita tua itu terhenyak. Buat pertama kalinya — menurut ingatannya yang panjang — sebuah konperensi Partai berlangsung terbuka. Bukan saja sidang itu disiarkan ke seluruh khalayak, tapi juga di sidang itu para delegasi bisa mengkritik, bisa mendebat, bisa beradu pendapat. Tak ada rasa terancam bahwa nanti malam polisi rahasia akan mengetuk pintu kamar dan membawa beberapa pembangkang pergi, menghilang, seperti sisa salju pagi hari.
Wanita tua itu memang tergetar. Ia kemudian bercerita kepada wartawan The New York Times: Lanjut..
Esei • Ahad, 12 Juli 2009 @ 08:02 diunggah oleh zen
Seks yang terlampau diteriakkan sama kurang meyakinkannya dengan seks yang dilenyapkan
SEKS adalah suatu risiko dalam kesusastraan Indonesia modern. Dalam sebuah studi singkat tentang seks dan kesusastraan kita masa kini, Harry Aveling menulis:
In modern Indonesian literature, we miss those themes so common in the classical indegineous, and other, modern, literatures: the themes of flirtation, seduction, adultery, rape, and full bodily, intellectual and emotional commitment of lovers (married or not) to each other as equal human beings. There is, on the contrary, a prudery about the body and its functions, and an elaborate pretense that marriage-and even parenthood-is sustained without reference to sex.[1]
Ada semacam sikap berhati-hati, ada semacam pretensi yang dipersiapkan baik-baik, untuk tidak menyinggung seks dalam kehidupan percintaan, perkawinan dan kehidupan ibu-bapak: saya kira demikianlah memang kecenderungan umum sejumlah besar hasil sastra kita, meskipun tidak semuanya. Keadaan ini memang menarik, bila kita bandingkan—sebagaimana Aveling membandingkannya—dengan apa yang terdapat dalam kesusastraan modern lainnya, dan terutama dengan pelbagai hasil sastra lama dalam sejarah kita.
Tapi mungkin soalnya ialah karena hasil sastra modern, sedikit-banyaknya, cenderung untuk merupakan sebuah pose. Seorang pengarang, dalam penglihatan saya, selalu nampak sebagai seorang dirigen. Lanjut..
caping • Kamis, 9 Juli 2009 @ 21:32 diunggah oleh zen
Beberapa hari setelah Pemilu 1992 selesai, di seluruh Indonesia orang juga masih mengenakan kaus kuning, putih, atau merah. Tapi seperti seusai pertandingan bola, kaus tak lagi jadi sebuah pernyataan kesetiaan yang serius.
PERTANDINGAN besar selalu diakhiri dengan sesuatu yang agak menjijikkan: saling bertukar kaus.
Peluit telah ditiup. Seluruh tim telah basah oleh keringat kompetisi. Para pemain telah pegal linu, luka atau lecet, oleh gerak dan benturan. Lalu tiba sebuah ritual yang tidak higienis tapi tampaknya penting: si menang dan si kalah mencopot kaus seragam masingmasing, lalu mereka saling menukarkannya.
Sebagai seorang yang tak bisa menganalisa Piala Eropa dan piala-piala lain, dan cuma sesekali menonton sepak bola dari layar televisi, saya selalu menganggap itulah adegan yang paling menarik dari kesibukan di lapangan hijau itu. Tentu, saya selalu membayangkan bagaimana kecut dan busuknya bau itu kaus yang kuyup oleh peluh (”Bagaimana kalau Ruud Gullit punya panu?”, pikir saya). Tapi tampaknya ini bukan peristiwa aroma dan kebersihan. Ini adalah suatu peristiwa simbolik.
Ketika kaus tim “kita” ditanggalkan dan dipertukarkan dengan kaus lawan, apa sebenarnya yang dikatakan? Yang dikatakan: tim “kita” dan tim “mereka” adalah satuan-satuan yang didefinisikan hanya oleh warna kaus. Lanjut..
caping • Sabtu, 4 Juli 2009 @ 15:49 diunggah oleh zen

Pasti ada sesuatu yang menyebabkan orang butuh birokrasi
APA yang tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan? Jawabnya: birokrasi.
Ada sebuah anekdot dari Amerika. Suatu hari, Presiden Nixon berniat membubarkan sebuah aparat pemerintah yang sudah ada sejak 1897, yakni Dewan Pencicip Teh. Tugas dewan ini ialah memeriksa mutu teh yang diimpor ke AS. Nixon menganggap ini sebenarnya berlebihan, sebab sudah ada lembaga lain yang mengontrol bahan makanan dan minuman. Dan meskipun anggaran buat dewan ini cuma USS 125 ribu setahun — secuil buat ukuran Amerika– Nixon berpendirian, tiap sen uang para pembayar pajak harus dihemat.
Tapi apa lacur. Dewan itu didukung oleh para importir teh. Mereka ini juga punya orang di antara Senator, punya pengaruh di staf Gedung Putih, dan punya argumen: buat apa mengusik soal sepele ini? Akhirnya, setelah menimbang A dan B, mendengar C dan D, Presiden Nixon memutuskan: Dewan Pencicip Teh tetap berdiri. Lanjut..
Esei • Jumat, 3 Juli 2009 @ 13:49 diunggah oleh zen
…bunyi itu interupsi atau retakan dalam sunyi—keheningan yang terasa sebagai arus yang tak terhingga, tak tertangkap, yang mengingatkan kita bahwa ada yang tak berbentuk, ada khaos, yang tak dapat dipresentasikan
[I]
Dari sebuah kampung di tepi Bengawan Solo yang padat dan centang perenang, Dalang Slamet Gundono menciptakan Sudamala, atau Uma, Nyanyi Sendon Keloloran. Saya sempat menontonnya di tiga kota. Seperti banyak orang, saya terhibur, terharu, dan pulang dengan banyak pikiran yang tergugah.
Apa yang sebenarnya terjadi di pentas itu?
Slamet Gundono menyebut teaternya kali ini “wayang lindur”. Kita ingat Slamet sebelumnya pernah mementaskan “wayang suket” dan “wayang air” di samping kadang-kadang ia menjadi dalang “wayang kulit” atau “wayang purwa.”
Kita bisa saja bertanya apa arti “wayang” dan apa pula arti “wayang lindur”; kita mungkin akan memperoleh jawab. Tapi saya tak yakin, perlu benarkah jawab itu bagi seseorang untuk menikmati pertunjukan ini. Slamet Gundono justru menunjukkan bahwa seni tak dimulai dari definisi dan taksonomi. Lanjut..