Esei • Sabtu, 27 Juni 2009 @ 18:50 diunggah oleh zen
BRECHT, dengan rambut cepak, muka masam, jas warna gelap yang tertutup tanpa dasi: ia ingin tampak sebagai bagian dari sebuah zaman yang lugas.
Seakan-akan awal abad ke-20 mengubah segalanya. Di sekelilingnya mesin, industri, massa, buruh: dunia yang monokromatik, yang tak lagi menyediakan tempat untuk baju dan laku yang berbunga-bunga, tetapi yakin akan datangnya pembebasan…
Bertolt Brecht tumbuh di suatu masa, di suatu tempat, yang mengelu-elukan mitos mesin dan pembebasan: sebuah sambutan bersemangat yang terutama terdengar dari kalangan seniman Sayap Kiri Jerman. Revolusi Oktober 1917 menang dan kaum Bolsyewik, di bawah Lenin, memulai program penyebaran tenaga listrik ke seantero Rusia, sebagai bagian integral dari agenda sosialisme.
Awal abad ke-20 adalah sebuah masa perubahan dan impian yang utuh, sebagaimana awal abad ke-21 masa perubahan ketika keutuhan adalah mimpi. Awal abad ke-20 mengidamkan sosialisme, dan tak hanya itu: sosialisme identik dengan masa depan, dan masa depan identik dengan sesuatu yang gemilang. Lanjut..
bertolt brecht,
ekpresionisne,
film,
george lukacs,
impresonisme,
james joyce,
modernisme,
realisme,
teater,
thomas mann,
walter benjamin,
zhdanov
Esei • Jumat, 26 Juni 2009 @ 00:02 diunggah oleh zen
“Membentuk kembali hidup! Orang yang bisa bicara begitu tak pernah paham sedikitpun apa itu hidup—mereka tak pernah merasakan nafasnya, jantungnya….”
—Dr. Zhivago
PADA awalnya 1917. Kemudian 1993. Dua peristiwa besar, yang berhubungan dengan agenda “membentuk kembali hidup”, telah mengubah permukaan dunia seperti dua gelombang gempa yang ganjil, sebab ada yang hancur setelah itu, dan ada yang terbentuk.
Yang pertama ialah sebuah revolusi atas nama Marxisme, yang berlangsung sebagai “sepuluh hari yang mengguncangkan dunia”, seperti dilukiskan John Reid tentang Revolusi Oktober yang bermula di St. Petersburg, Rusia. Yang kedua ialah sebuah perubahan Yang tak kalah mengguncangkannya, meskipun hampir tanpa letupan bedil: Rusia (dan dalam batas tertentu juga Cina) membatalkan banyak hal dalam agenda Marxisme, sesuatu yang sebenarnya bermula di tahun 1989, ketika Tembok Berlin bebas diruntuhkan orang ramai.
Dua perubahan, dua guncangan besar: Marxisme adalah harapan dan keyakinan penting selama kurang satu setengah abad, sesuatu yang demikian jelas, tegas, memukau dan menularkan inspirasi.
Tapi Marxisme juga dalam bentuknya yang dicoba dalam suatu transformasi sosial—ternyata dengan cepat merapuh. Selama beberapa tahun terakhir ia telah didiskreditkan secara luas, dan hampir di seluruh dunia tidak terdengar lagi rencana Marxis untuk “mengubah dunia”. Yang tersisa adalah “menerangkan dunia”—terutama di jurnal-jurnal pemikiran dan seminar-seminar—ketika politik sayap kiri merosot, atau mengalami perubahan diri, di pelbagai penjuru.
Maka apa gerangan yang kita hadapi, dan bisa dilakukan? Lanjut..
Esei • Senin, 22 Juni 2009 @ 15:01 diunggah oleh zen
“SEBUAH sajak yang menjadi adalah suatu dunia,” kata Chairil Anwar, dan paradoks ini bisa mengantar kita untuk melihat bagaimana puisi Indonesia mutakhir menyatakan dirinya.
Sebuah sajak yang menjadi—bukan sebuah sajak yang jadi—tidak tinggal terhenti dan tergantung pada apa yang membentuknya: kata dan konsep-konsep, “benda-benda” pampat yang tersaji dan siap untuk selesai. Sebuah sajak yang “menjadi” selama-lamanya sebuah proses, bahkan seusai dibaca. Ia senantiasa bergerak, hadir, menyelinap, setengah sembunyi, tampil kembali (dengan isyarat-isyarat baru), mencipta tak henti-hentinya, berubah, menangguhkan konklusi.
Kita tidak pernah tahu kapan dan di mana berakhirnya.
“Suatu dunia” sebaliknya bisa berarti sebuah ruang yang meskipun terbentang, punya akhir. Sebuah dunia punya garis batas. Chairil Anwar menjelaskan tentang “dunia” itu sebagai “dunia” yang diciptakan kembali sang penyair, dari “benda (materi) dan rohani, keadaan …alam dan penghidupan sekelilingnya”, dan hal-hal lain yang “berhubungan jiwa dengan dia”. Dalam arti ini kehadiran sang penyair, otoritasnya, dan lingkungan hidupnya, merupakan asal-usul dan sekaligus pemberi sosok yang definitif, sebuah mikrokosmos, kepada sebuah sajak.
Dan itulah paradoks itu: puisi bergerak antara “menjadi” dan “dunia”, sekaligus pertautan dan pergumulan yang tak habis-habisnya antara keduanya. Lanjut..
Esei • Sabtu, 20 Juni 2009 @ 13:06 diunggah oleh zen
….sejarah adalah impian yang tak sepenuhnya terlaksana. Dalam ikhtiar perubahan yang disebutkan tadi kita pada akhirnya juga mungkin sekali akan melihat bahwa impian kita tidak tercapai. Tapi sebaliknya: masih adakah impian yang berarti bagi mereka yang begitu saja takluk pada tuntutan-tuntutan kemegahan dunia yang tak mungkin terjangkau itu?
SEJARAH adalah impian yang tak sepenuhnya terlaksana. Negara-negara yang dulu menghendaki kemerdekaan sekaligus menghasratkan diri jadi bagian dari dunia modern. Namun dunia modern kian nampak tidak sepenuhnya identik dengan kemerdekaan dan kedaulatan. Ia menjerat kita dengan tuntutan dan patokan untuk mengutip Mahbub ul Haq bahwa “kehidupan mulai pada tingkat pendapatan 1.000 dollar AS”.
Di bawah tingkat itu, tak ada peran yang berarti. Sejumlah negeri, sejumlah masyarakat manusia, direduksikan harganya menurut kurs yang berkuasa—sebagai “negara-negara miskin” atau “di bawah taraf perkembangan” atau “tidak berkembang secara cukup”.
Mereka menjadi kaum sudra yang dibujuk dengan hak formal untuk mengejar “ketinggalan mereka” dengan ikhtiar pembangunan ekonomi. Mereka cemas dan sekaligus merasa mempunyai kesempatan. Tapi sayang, dalam kenyataannya, kesempatan itu banyak ditentukan oleh milik dan modal. Dan mereka tak cukup mempunyai itu. Mereka selalu ketinggalan. Lanjut..
caping • Jumat, 19 Juni 2009 @ 01:13 diunggah oleh zen

“Politik bukanlah permainan saya. Hati manusia adalah permainan saya.”
Itu kata-kata Richard Wright dalam American Hunger — bagian lanjutan dari kisah otobiografisnya yang terbit 17 tahun setelah ia meninggal di Paris, 28 Nopember 1960. Kesombongankah yang tersembunyi di balik kalimat itu? Mungkin. Richard Wright merasa ia telah membuktikannya dengan hidupnya.
Perjalanan hidup itu agaknya harus dimulai dari kakek dan neneknya. Keduanya budak negro di Amerika bagian selatan. Richard adalah anak bebas, tapi dengan ruang yang muram karena ia anak hitam di tepi sungai Mississippi. Akhirnya ia melepaskan diri.
Seperti ditulisnya di bagian pertama otobiografinya yang terbit di tahun 1945, Black Boy, ia menuju ke Utara, dengan harapan kabur bahwa di sana “orang akan mampu menghadapi orang lain tanpa ketakutan atau rasa malu”. Lanjut..
Esei, PDF • Rabu, 17 Juni 2009 @ 06:57 diunggah oleh zen
Pidato ilmiah Goenawan Mohamad, Demokrasi dan Disilusi, yang disampaikan pada 23 Oktober 2008 dalam acara Nurcholish Madjid Memorial Lecture II ditanggapi secara beragam oleh beberapa intelektual yang diminta secara khusus untuk menanggapi pidato Goenawan Mohamad tadi.
Enam penanggap itu adalah William Liddle, Rocky Gerung, Dodi Ambardi, Robertus Robert, Ihsan Ali Fauzi dan Samsu Rizal Panggabean. Dua nama terakhir adalah editor buku Demokrasi dan Kekecewaan yang berisi pidato Goenawan Mohamad berikut enam esai tanggapan serta diakhiri dengan jawaban Goenawan Mohamad atas enam esai tanggapan tersebut.
Selain dengan membaca buku Demokrasi dan Kekecewaan, Anda juga dapat membaca enam esai tanggapan itu yang sudah diformat dalam bentuk PDF di halaman INI.
Berikut jawaban Goenawan Mohamad atas enam tanggapan atas orasi ilmiahnya. Lanjut..
Pidato • Minggu, 14 Juni 2009 @ 04:05 diunggah oleh zen
Pidato untuk Nurcholish Madjid Memorial Lecture II, 2008
I.
17 Oktober 1952: di pagi hari itu sekitar 5000 orang muncul di jalanan Jakarta. Pada pukul 8, mereka sudah berhimpun di luar gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Tak jelas siapa yang memimpin dan organisasi apa yang mengerahkan mereka, tapi yang mereka tuntut diutarakan dengan tegas: “Bubarkan Parlemen”. Kata sebuah poster, “Parlemen untuk Demokrasi, bukan Demokrasi untuk Parlemen”.
Tak lama kemudian mereka memasuki gedung perwakilan rakyat itu, menghancurkan beberapa kursi dan merusak kantin yang biasanya diperuntukkan bagi para legislator.
Dari sini, rombongan demonstran bergerak ke jalan lagi. Peserta makin bertambah besar. Akhirnya mereka, mencapai 3o ribu orang banyaknya, sampai ke Istana Negara. Mereka ingin menghadap presiden. Bung Karno, yang mengetahui apa yang dituntut para dernonstran itu, akhirnya muncul. Dalam pidato singkat ia mengatakan: ia tak akan
membubarkan Parlemen. Ia tak ingin jadi diktator. Ia hanya berjanji pemilihan umum akan diselenggarakan segera.
Ringkas kata, Bung Karno menolak. Tapi rekaman ucapannya menunjukkan bahwa ia juga punya ketidaksukaan yang sama kepada “demokrasi liberal” yang dianggapnya sebagai cangkokan “Barat” itu. Di tahun 1959, ia membubarkan dewan perwakilan pilihan rakyat dan mengubah Indonesia dengan menerapkan “demokrasi terpimpin”. Lanjut..
caping • Minggu, 14 Juni 2009 @ 02:20 diunggah oleh zen
Pendidikan politik justru bermula dari kesadaran akan kecentang-perenangan
RAKYAT, ternyata, bukan pegawai. Juru kampanye kita menemukan kenyataan ini kemarin siang, dengan tenggorokan yang kering. Di sebuah lapangan yang berubah menjadi samudera wajah dan panji-panji, ia berdiri tegak di podium sebagai pembicara terakhir. Langit terik. Udara 31 derajat.
Samudera wajah yang berkeringat itu memperdengarkan suara gemerungsung. Tak sabar. Desauan itu makin keras. Akhirnya hiruk-pikuk. Juru kampanye kita, di podium tinggi itu, merasa tak dipedulikan.
“Saudara-saudara . . .,” ia mulai menawarkan suaranya ke tujuh mikrofon yang berbaris di depannya. “Mohon perhatian . . ..”
Orang tetap ribut.
“Saudara-saudara . . . mohon perhatian, harap diam sebentar.” Lanjut..
caping • Selasa, 9 Juni 2009 @ 09:58 diunggah oleh zen
DONALD Pandiangan menangis, dalam hati. Mungkin banyak orang yang tak bersedih untuk Olympiade 1980, tapi mustahil tak ikut bersimpati kepada atlet seperti Pandiangan. Mungkin orang tak begitu acuh kepada apa niat Uni Soviet atau Amerika Serikat, tapi mustahil tak peka kepada perasaan mereka yang sudah bersiap di ambang pertandingan.
Seorang atlet telah berjalan jauh, sebelum ia tiba di ambang itu. Berbulan-bulan ia menggedor dirinya sendiri. Pelari Sebastian Coe — anak muda Inggris yang sendirian menggempur banyak rekor itu — misalnya bersiap selama lebih dari 4 tahun. Untuk memecahkan rekor lari beberapa ratus meter, ia mulai lari antara 35 mil dan 70 mil tiap minggu. Ia juga mengangkat besi, senam, lari berulang-ulang di bukit, meloncat, memanjat tali, sit-up….
Tubuh memang tak bisa dibiarkan terkulai seperti baju lusuh. Lanjut..
Pidato • Senin, 1 Juni 2009 @ 07:02 diunggah oleh zen
Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri’ — Bung Karno, Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945.
KITA hidup dalam sebuah zaman yang makin menyadari ketidak-sempurnaan nasib. Gagasan ‘sosialisme ilmiah’ yang ditawarkan oleh Marx dan Engels pernah meramalkan tercapainya ‘surga di bumi’, sebuah masyarakat di mana kapitalisme hilang dan kontradiksi tak ditemukan lagi. Tapi cita-cita itu terbentur dengan kenyataan yang keras di akhir dasawarsa ke-8 abad ke-20: Uni Soviet dan RRC mengubah haluan, dengan menerima ‘jalan kapitalis’ yang semula dikecam. Sosialisme pun terpuruk: ternyata ‘ilmiah’ bukan berarti ‘tanpa salah’, ternyata Marxisme sebuah gagasan yang akhirnya harus mengakui bahwa dunia tak akan pernah bebas dari kontradiksi.
Dewasa ini cita-cita menegakkan ‘Negara Islam’ mungkin satu-satunya yang masih percaya bahwa kesempurnaan bisa diwujudkan. Jika hukum Tuhan adalah hukum yang hendak diterapkan, mau tak mau hasil yang diharapkan adalah sebuah kehidupan sosial yang tanpa cacat.
Dengan kata lain, para penganjur ‘Negara Islam’ adalah penggagas yang tak membaca sejarah yang terbentang dalam jangka waktu lebih dari 21 abad – sebuah sejarah harapan dan kekecewaan yang silih berganti, sebuah sejarah ide dan rencana cemerlang yang kemudian terbentur, sebuah riwayat pemimpin dan khalifah yang tak selamanya tahu bagaimana menjauh dari sabu-sabu kekuasaan.
Para penganjur ide ‘Negara Islam’ lupa bahwa agama selamanya menjanjikan kehidupan alternatif: di samping yang ‘duniawi’ yang kita jalani kini, ada kelak yang ‘ukhrowi’ yang lebih baik. Maka sebuah ‘Negara Islam’ yang tak mengakui ketidak-sempurnaannya sendiri akan salah secara akidah. Tapi sebuah ‘Negara Islam’ yang mengakui ketidak-sempurnaannya sendiri akan menimbulkan persoalan: bukankah ajektif ‘Islam’ mengandaikan sesuatu yang sempurna?
Dilema itu berasal dari pengalaman kita: bumi adalah bumi; ia bukan surga. Ketidak-sempurnaan, bahkan cacat, berlangsung terus, berselang-seling dengan saat-saat yang mengagumkan. Agaknya akan demikian seterusnya. Lanjut..