Puisi • Jumat, 29 Mei 2009 @ 21:32 diunggah oleh zen

Penangkapan Sukra

– Variasi atas Babad Tanah Jawi

Namaku Sukra, lahir di Kartasura, 17…, di sebuah pagi
Selasa Manis, ketika bulan telah berguling ke balik gunung.

Waktu itu, kata orang, anjing-anjing hutan menyalak panjang,
tinggi, dan seorang abdi berkata, “Ada juga lolong serigala
ketika Kurawa dilahirkan.”

Bapakku, bangsawan perkasa itu, jadi pucat.

Ia seolah menyaksikan bayang-bayang semua pohon berangkat
Pergi, tak akan kembali.

Pada umurku yang ke-21, aku ditangkap.

Debu kembali ke tanah
Jejak sembunyi ke tanah
Sukra diseret ke sana
Seluruh Kartasura tak bersuara

Sang bapak menangis kepada angin
Perempuan kepada cermin
“Raden, raden yang bagus,
pelupukku akan hangus!”
Lanjut..

caping • Jumat, 29 Mei 2009 @ 21:20 diunggah oleh zen

Tidak Ada Sistem yang Benar

KARTASURA, menjelang pertengahan abad ke-17. Sebuah iring-iringan pengantin bangsawan lewat sore itu. Tapi bila para wanita yang menonton di tepi jalan pada berbisik atau mendesah, itu bukanlah karena keindahan prosesi. Sesuatu yang lain memukau mereka: di depan iringan itu, di atas kuda yang ranggi, seorang pemuda tegak, rupawan….

Syahdan. Di antara penonton itu diam-diam menyeliplah putera mahkota, Pangeran Adipati Anom. Laki-laki gemuk yang berkaki cacat ini bagai tersengat. Ia bertanya kepada salah seorang pengiringnya, siapa gerangan Si pemuda tampan itu.

“Dia adalah Raden Sukra, tuanku. Putera Raden Adipati Sindu Reja.”

Zaman memang aneh, dan nasib memang buruk. Malam itu putera mahkota menyuruh agar Sukra dipanggil. “Suruh dia menghadapku, dan ikat tangannya.” Dan malam itu, di hadapan putera mahkota, Sukra pun disiksa. Ia beramai-ramai dipukuli oleh para prajurit. Setelah itu: ke dalam matanya dimasukkan semut hitam. Lanjut..

Buku • Jumat, 29 Mei 2009 @ 20:29 diunggah oleh zen

Setelah Revolusi Tak Ada Lagi

1192972336265625

Judul: Setelah Revolusi Tak Ada Lagi
Penulis: Goenawan Mohamad
Pengantar: Hamid Basyaib
Penerbit Pustaka Alvabet
Edisi Revisi, September 2005
Tebal: xxxii + 481 halaman

Buku ini menghimpun 33 esai Goenawan Mohamad yang ditulis selama 33 tahun karir kepenulisannya. Seperti halnya buku Kata, Waktu, buku yang terbit pada 2005 sengajar diluncurkan untuk merayakan 60 tahun usia penulisnya; rentang waktu yang tidak pendek bagi seorang pribadi, dan rentang yang lebih dari cukup baginya untuk melewati sejumlah faset dan momen penting dalam sejarah Indonesia.

Esai-esai di sini sebagian menyinggung hal-ihwal yang langsung atau tidak pernah terkait dengan penulisnya sendiri, sebagiannya lagi merupakan “tamasya” intelektual mengenai hal-ihwal yang menjadi minat dan perhatian penulisnya sendiri. Ia menulis tentang Khatib Anom, ihwal puisi Saini KM sampai Amir Hamzah dan Sapardi, mencatat kaitan antara Camus dan orang Indonesia, Nietzsche dan pasar sampai telusur ihwal para superhero dalam kesadaran manusia Indonesia.

Hamid Basyaib, dalam kata pengantar untuk buku ini, menyebut Goenawan Mohamad sebagai orang “Barat” yang lahir di Batang, yang melihat melihat segala hal bukan bukan untuk menyimpulkan karena menyimpulkan seringkali melahirkan kekecewaan. Ia, seperti tampak di buku ini juga esai-esainya yang lain, merasa jauh lebih penting mencari dengan bertanya daripada menemukan dengan menjawab. Lanjut..

caping • Ahad, 24 Mei 2009 @ 02:31 diunggah oleh zen

Herinneringen tentang Monyet-monyet

djajadiningrat2

Achmad Djajadiningrat, bupati Serang yang sedang berkeliling
Jawa, menginap di hotel terkemuka itu. Suatu malam ia masuk ke ruang makan, agak telat. Meja-meja telah terisi. Achmad Djajadiningrat yang mengenakan kain, jas model Jawa, destar serta selop sebagaimana umumnya bupati zaman itu - dengan tenang mengambil satu tempat duduk.

Tiba-tiba di belakangnya terdengar seseorang bicara dalam bahasa Belanda: “Wat is dat voor een aap?” Monyet macam apa itu?

Bangsawan tinggi Jawa Barat yang berwajah tampan itu cuma diam. Tapi cemooh tak berhenti. Ketika sang bupati mulai makan (tentu saja dengan sendok dan garpu), suara itu terdengar lagi: “Lihat, lihat, dia makan dengan sendok dan garpu.” Lanjut..

caping • Sabtu, 23 Mei 2009 @ 02:14 diunggah oleh zen

Setelah 20 Mei Itu….

DOKTER tua berumur 50 tahun itu bicara. Suaranya melodius dan
tenang. “Sareh,” kata seorang hadirin kemudian. Wajahnya damai, sikapnya arif. Tak ada api yang meletup. Tapi ada cahaya dari sana. Setidaknya ada kehangatan rupanya, sehingga seorang pemuda yang hadir dalam pertemuan itu tiba-tiba seakan mengalami transformasi batin.

Ia seolah-olah menjadi orang lain. Gemetar sampai ke seluruh
sendi tubuhnya, pandangannya jadi bertambah luas, perasaannya serasa bertambah halus, dan cita-citanya indah. Kesempitan hatinya hilang, begitu pula tujuan hidup yang hanya terbatas pada diri sendiri. Sebuah dunia baru terbentang.

Semua itu adalah pengakuan Dr. Sutomo, dalam bukunya yang terbit pada tahun 1934, Kenang-Kenangan, setelah ia mendengarkan pembicaraan dr. Wahidin Sudirohusodo, di Batavia yang basah oleh musim hujan akhir 1907.

Wahidin yang terkenal itu (karena ia anak priayi desa yang berhasil jadi dokter di akhir abad ke-19 itu, dan karena tulisan-tulisannya) sengaja datang menemui para mahasiswa STOVIA. Ia mengimbau agar para calon dokter bumiputra itu bekerja mengumpulkan dana untuk membantu anak-anak muda Jawa, agar mereka yang cerdas dapat masuk ke lembaga pendidikan Belanda. Dan mungkin karena sikapnya yang tulus, ia memikat. Lanjut..

Esei • Kamis, 21 Mei 2009 @ 00:09 diunggah oleh zen

Marxisme, Postmodernisme, Ketika Tak Ada Lagi Revolusi

“Membentuk kembali hidup! Orang yang bisa bicara begitu tak pernah paham sedikitpun apa itu hidup—mereka tak pernah merasakan nafasnya, jantungnya….”
—Dr. Zhivago

PADA awalnya 1917. Kemudian 1993. Dua peristiwa besar, yang berhubungan dengan agenda “membentuk kembali hidup”, telah mengubah permukaan dunia seperti dua gelombang gempa yang ganjil, sebab ada yang hancur setelah itu, dan ada yang terbentuk. Yang pertama ialah sebuah revolusi atas nama Marxisme, yang berlangsung sebagai “sepuluh hari yang mengguncangkan dunia”, seperti dilukiskan John Reid tentang Revolusi Oktober yang bermula di St. Petersburg, Rusia. Yang kedua ialah sebuah perubahan Yang tak kalah mengguncangkannya, meskipun hampir tanpa letupan bedil: Rusia (dan dalam batas tertentu juga Cina) membatalkan banyak hal dalam agenda Marxisme, sesuatu yang sebenarnya bermula di tahun 1989, ketika Tembok Berlin bebas diruntuhkan orang ramai.

Dua perubahan, dua guncangan besar: Marxisme adalah harapan dan keyakinan penting selama kurang satu setengah abad, sesuatu yang demikian jelas, tegas, memukau dan menularkan inspirasi. Tapi Marxisme juga dalam bentuknya yang dicoba dalam suatu transformasi sosial—ternyata dengan cepat merapuh. Selama beberapa tahun terakhir ia telah didiskreditkan secara luas, dan hampir di seluruh dunia tidak terdengar lagi rencana Marxis untuk “mengubah dunia”. Yang tersisa adalah “menerangkan dunia”—terutama di jurnal-jurnal pemikiran dan seminar-seminar—ketika politik sayap kiri merosot, atau mengalami perubahan diri, di pelbagai penjuru. Lanjut..

Esei • Jumat, 15 Mei 2009 @ 01:00 diunggah oleh zen

Heteropia untuk Mister Rigen

SESEORANG pernah mengatakan bahwa kita berada di akhir abad ke-20, ketika kita telah berhenti memimpikan utopia dan menemukan diri dalam suatu “heteropia”.

Kadang-kadang membingungkan, kadang-kadang dirayakan. Kita toh tahu, bahwa pada dasarnya utopia memang mustahil. Namun sebuah dunia, sebuah topos, untuk mereka yang berlain-lainan (heteros) bukan saja tidak bisa dielakkan lagi, melainkan juga mengandung kemusykilan. Dan juga keasyikan, juga vitalitas perlawanan, di sebuah masa yang terus menerus ada tendensi untuk tidak tahu bagaimana mendengarkan apa yang dalam salah satu sajak T.S. Eliot disebut sebagai “gema-gema lain yang menghuni kebun”—the other echoes [that] inhabit the garden….

Dunia yang seperti itulah yang dihadirkan, dihidupkan, dan dalam arti tertentu diperuntukkan Mister Rigen. Tokoh yang tak terabaikan dalam kolom mingguan Umar Kayam di koran Kedaulatan Rakyat ini, seperti dikatakan dengan tepat oleh Sapardi Djoko Damono, adalah wong cilik yang “memang bagian yang tak terpisahkan dari dunia priyayi, bagian yang diperlukan, bagian yang rnemberikan kebahagiaan”. Tetapi pada saat yang sama, Mister Rigen dan isterinya, Nansiyem, beserta kedua anaknya—yang sering disebut bedhes (sebangsa monyet kecil) oleh Pak Ageng itu —meskipun mewakili suatu kelas yang terus menerus; terjepit, tidak selamanya bisa hanya berlaku sebagai “bagian yang diperlukan” (tentu saja oleh dunia priyayi). Lanjut..

caping • Rabu, 13 Mei 2009 @ 04:04 diunggah oleh zen

Pengurus

HITLER tidak pernah membaca John Maynard Keynes.

Tetapi tokoh Nazi yang mengerikan itu menyelamatkan Jerman dari kemacetan depresi ekonomi dunia di tahun 1930-n. Langkah-langkahnya mirip dengan langkah yang ditawarkan ahli ekonomi Inggris itu untuk mengatasi keadaan lumpuh. Dan Jerman, ternyata, memang tak terkena lumpuh.

Sejak 1933, setelah ia berkuasa, Hitler meminjam dana, dan membelanjakannya. Jumlahnya tak tanggung-tanggung. Ia membangun jalan kereta api. Kanal. Bangunan umum. Autobahnen. Ia dengan demikian menciptakan lapangan kerja. Menjelang 1935, pengangguran praktis berakhir di Jerman.

Hitler, seorang yang yakin bahwa ia — dan “ia” di sini bisa berarti negara — harus memimpin, tampil ke mimbar dan menciptakan sebuah pemerintah yang aktif mengatur perekonomian. Lanjut..

caping • Jumat, 8 Mei 2009 @ 21:15 diunggah oleh zen

Lawan Jadi Musuh

ADA musuh, ada lawan. Kedua kata itu berbeda. Hanya kita sering
melupakannya.

Marilah kita bermula pada kamus. Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S Poerwadarminta (diolah kembali oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) sepintas menyebut lawan sebagai sinonim musuh. Tapi tak seluruhnya.

Kita misalnya tidak bisa mengatakan “musuh kata”, melainkan lawan kata”. Kita juga misalnya tidak bisa mengatakan, “Siapakah musuhmu bercakap-cakap tadi?”, melainkan “Siapakah lawanmu bercakap-cakap tadi?” Lanjut..

caping • Rabu, 6 Mei 2009 @ 21:06 diunggah oleh zen

Skandal

DUNIA jadi lebih menarik karena skandal terbongkar. Dan mungkin juga menjadi lebih bersih, sedikit.

Mula-mula Spiro Agnew, wakil presiden Amerika Serikat. Lalu Richard Nixon, presidennya. Keduanya terpaksa mundur —atau juga jatuh— karena menyalahgunakan kekuasaan. Kemudian Tanaka, perdana menteri Jepang. Lalu Pangeran Bernhard, suami Ratu Yuliana dari Negeri Belanda.

Yang terakhir ini memberikan pernyataan pengakuan. Ia diketahui telah mengirim surat kepada perusahaan pesawat terbang Lockheed, minta komisi. Dengan itu ia memberi kesan bahwa pembelian pesawat produksi perusahaan itu telah dilakukan oleh pemerintah Belanda secara tak adil: bukan berdasarkan mutu dan kebutuhan, tetapi berdasarkan TST. Lanjut..