Pidato • Rabu, 29 April 2009 @ 13:51 diunggah oleh Antyo

Dengan kata lain, kita membutuhkan Pancasila kembali untuk mengukuhkan, bahwa kita mau tak mau perlu hidup dengan sebuah pandangan dan sikap yang manusiawi – yang mengakui peliknya hidup bermasyarakat. Para pembela ide ‘Negara Islam’ gemar mengatakan, mereka lebih baik memilih dasar Islam karena Islam datang dari Allah, sedang Pancasila itu bikinan manusia. Tapi justru karena Pancasila adalah bagian dari ikhtiar manusia, ia tak mengklaim dirinya suci dan sakti. Dengan demikian ia adalah ‘inspirasi’ untuk sebuah kehidupan bersama yang mengakui dirinya mengandung ‘kurang’, karena senantiasa bergulat antara ‘eka’ dan ‘bhineka’.
Demikian petikan pidato Goenawan Mohamad, Menggali Pancasila Kembali, dalam peluncuran politikana.com di Komunitas Salihara, Jakarta, Senin 27 April 2009. Naskah PDF dapat Anda baca dan unduh dari halaman Dokumen PDF.
Esei • Selasa, 28 April 2009 @ 06:29 diunggah oleh zen
INDONESIA adalah sebuah negeri yang luar biasa: pemilihan umumnya hanya jadi serius dalam perkara calon wakil presiden.
Tentang siapa yang jadi wakil rakyat, kita cuma bicara sebentar, terkadang dengan angkat bahu. Tentang soal yang lebih penting lagi—yakni siapa yang layak dipilih untuk memimpin pemerintahan (dan itu berarti presiden)—kita diam. Kita tetap takut menyinggung barang keramat. Jadi, mari bicara siapa yang kira-kira bakal jadi wakil presiden. Mari memilih soal siapa yang asyik dan aman.
Menakjubkan, memang. Sebab kebanyakan orang toh tahu, bahwa siapa pun gerangan si calon wakil presiden—seperti sudah beberapa kali terbukti akhirnya bukan tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang dikutip di koran itu yang layak didengar. Sang Nomor Dua harus cocok dengan Sang Nomor Satu, dan sebab itu Nomor Satu sajalah yang menentukan.
Zaman sudah berubah. Kita tidak hidup lagi pada masa Bung Karno dan Bung Hatta. Pada masa yang berlangsung antara tahun 1945 dan 1958 itu, Bung Karno dan Bung Hatta adalah dua sosok yang tidak sepenuhnya cocok. Dalam pelbagai hal, keduanya saling bertentangan bahkan dalam soal-soal dasar. Lanjut..
caping • Ahad, 26 April 2009 @ 02:47 diunggah oleh zen
UNTUK jadi presiden di Amerika Serikat, seseorang harus menempuh suatu “Long March”. Seorang penulis menyebut perjalanan panjang itu sebagai ordeal, percobaan yang berat, yang mungkin lebih berat ketimbang susah payah seorang Jawa modern yang pergi dengan mobil ke gunung menunggu “wangsit”. Ambisi untuk jadi presiden dianggap cukup sah. Tapi—secara kasarnya—si calon harus mengemis. Ia harus mengemis restu kepada rakyat.
Kampanye sebenarnya adalah proses pengemisan itu. Memang, di masa lalu, hal itu tak berlangsung demikian. Di abad ke-19, si calon presiden cukup tinggal di rumah. Satu panitia kemudian datang, memberitahu kepadanya bahwa konvensi nasional telah mencalonkannya untuk jabatan presiden. Lalu ia bisa memberikan satu pidato penerimaan. Bahkan di tahun 1860 Lincoln tak membuat pidato apa-apa, sementara lawan-nya, Stepen A. Douglas, yang mengunjungi seantero negeri untuk memperoleh suara, dikecam: “Itu cara baru yang patut disesalkan, karena tak layak dilakukan oleh seorang calon untuk jabatan kepresidenan”.
Kini cara baru itu menjadi kemestian. Seorang calon presiden harus jadi salesman, juru jual yang berkeliling membujuk, bagi dirinya sendiri dan cita-citanya. Ia harus bersedia mandi keringat, lelah, kotor, dengan tangan lecet saking banyaknya berjabatan. Lanjut..
calon presiden,
david halberstam,
edmund muskie,
kampanye,
keliling,
kritik,
Lincoln,
mandat,
rakyat,
stepen a. douglas,
wangsit
Esei • Rabu, 22 April 2009 @ 23:37 diunggah oleh zen
It has been more than a year, since I spoke in Tasmania, of all places, about what it means being Indonesian, living in a cata-clysmic time, a time when different religious groups committed large-scale atrocities against each other in several islands of the Malukus, when gruesome TV footages told stories of native Kalimantan suku’s slaughtering Maduranese immigrants, when government soldiers shot a great number of angry citizens in Aceh and in West Papua, labelling them, or not labelling them, as “separatists”.
The frenzy has generated widespread feeling of hatred and sense of loss among people at large. The nation’s mood was grim, and sad, and indignant. The Yugoslavian break-up, with much blood and iron (and Yugoslavia was always closer to the Indonesian understanding of the world than say, France) was sitting like a nightmare in the mind of many concerned people in this vast, intricate, perpetually precarious, archipelago.
During this period I met with some members of the Free Aceh Movement, as part of my job to disseminate stories of Indonesian military’s violation of human rights in various places in Indonesia, particularly in Aceh. During these meetings I learned about their harrowing, drawn-out struggle to have their own country, I learned about their pain, their hope and their ideas, and I began to have the feeling that someday these people will carry the day, and Indonesia will have no more Aceh – something which somehow made me very, very sad. Lanjut..
caping • Ahad, 19 April 2009 @ 00:09 diunggah oleh zen
IA memanggil dirinya sendiri dominus. Ia menyebarkan desas-desus bahwa dia, sang Maharaja, adalah titisan Jupiter. Ia bahkan mengenakan mahkota yang jarang dipakai kaisar-kaisar Romawi: pita putih bertatahkan mutiara.
Anehnya Gaius Aurelius Valerius Diocletianus, penguasa Romawi antara tahun 284-305 Masehi, adalah satu-satunya kaisar yang dicatat sejarah sebagai pembangun “sosialisme” di imperium luas itu.
Di tahun 301, ia keluarkan satu maklumat, Edictum de pretiis. Keadaan sosial ekonomi dan agaknya perasaan adil baginda menghendaki itu. Ia membagi-bagikan makanan bagi si miskin. Ia menyelenggarakan proyek-proyek pemerintah secara meluas—untuk menampung tenaga kerja. Ia meletakkan industri di bawah pengawasan negara, agar tak ada segelintir pengusaha yang melonjak dari kebersamaan. Lanjut..
Esei • Kamis, 16 April 2009 @ 19:23 diunggah oleh zen
Zarathustra tiba di tempat orang ramai berjual beli dan ia pun berkata: Larilah, kawanku, ke dalam kesendirianmu! Kulihat kau jadi tuli oleh suara riuh orang-orang besar dan tersengat oleh orang-orang kecil. Hutan dan karang tahu benar bagaimana jadi membisu bersamamu. Jika engkau seperti pohon kembali, pohon yang bercabang lebar yang kau cintai: dengan tenang dan sepenuh hati ia menjulurkan dirinya ke laut. Di mana kesendirian berhenti, pasar pun mulai; dan di mana pasar mulai, mulai pulalah riuh dan rendah para aktor besar dan desau kerumun lalat beracun.
Ketika Nietzsche menuliskan Also Sprach Zarathustra [1] di tahun 1883, kita tidak tahu persis apa pasar baginya, atau bagaimana ia membayangkannya. Tidakkah “pasar” adalah sebuah tempat di mana kesendirian sebenarnya justru hadir: kebersamaan yang semu, perjumpaan yang sementara dan hanya berlangsung di permukaan, pertemuan antara sejumlah penjual dengan sejumlah pembeli, yang masing-masing pertama-tama hanya memikirkan bagaimana kebutuhan sendiri dipenuhi?
Model sebuah pasar adalah tempat di mana orang di dekat kita adalah pesaing kita. la mendesak kita untuk berpacu. Kita ingin mengalahkannya dan ia ingin mengalahkan kita. Di dalam pasar, rasa iri bukan hal yang salah, rakus bisa jadi bagus, dan keduanya dilembagakan dalam sebuah sistem. Zarathustra ingin agar dari sini orang pergi ke kesendirian.
Tapi bukankah kesunyian satu hal, dan kesendirian adalah hal lain? Lanjut..
Puisi • Rabu, 8 April 2009 @ 23:08 diunggah oleh zen
“Tuhan, berikanlah suara-Mu, kepadaku.”
Seperti jadi senyap salak anjing ketika ronda menemukan mayatnya di tepi pematang. Telungkup. Seperti mencari harum dan hangat padi. Tapi bau asing itu dan dingin pipinya jadi aneh, di bawah bulan. Dan kemudian mereka pun berdatangan — senter, suluh, dan kunang-kunang — tapi tak seorangpun mengenalinya. Ia bukan orang sini, hansip itu berkata.
“Berikanlah suara-Mu.”
Di bawah petromaks kelurahan mereka menemukan liang luka yang lebih. Bayang-bayang bergoyang sibuk dan beranda meninggalkan bisik. Orang ini tak berkartu. Ia tak bernama. Ia tak berpartai. Ia tak bertanda gambar. Ia tak ada yang menangisi, karena kita tak bisa menangisi. Apa gerangan agamanya?
“Juru peta yang Agung, di manakah tanah airku?”
Lusa kemudian mereka membacanya di koran kota, di halaman pertama. Ada seorang yang menangis entah mengapa. Ada seorang yang tak menangis entah mengapa. Ada seorang anak yang letih dan membikin topi dari koran pagi itu, yang diterbangkan angin kemudian. Lihatlah. Di udara berpasang layang-layang, semua bertopang pada cuaca. Lalu burung-burung sore hinggap di kawat-kawat, sementara bangau-bangau menuju ujung senja, melintasi lapangan yang gundul dan warna yang panjang, seperti asap yang sirna.
“Tuhan, berikanlah suara-Mu, kepadaku.”
1971
caping • Selasa, 7 April 2009 @ 13:35 diunggah oleh zen
DESAS-DESUS dapat berarti teror. Desas-desus juga bisa jadi akibat rasa takut yang panjang. Ia bisa membuat orang waspada. Tetapi, ia juga bisa jadi hanya sesuatu yang lahir karena rasa asyik dengan suasana tegang di masyarakat.
Dulu ia disebut juga sebagai “kabar angin”, karena tak jelas sumbernya dan disampaikan dari mulut ke mulut. Kini penyebaran itu mengikuti perkembangan teknologi: dari satu pesan internet ke pesan internet lain.
Cyber-rumour ini memang gejala masa informasi sekarang, ketika produksi informasi jadi mudah dan kilat, demikian juga penyebarannya. Sudah banyak yang berbicara tentang bahaya banjir bandang informasi, dan saya hanya akan menambahkan sedikit. Problem dari cyber-rumour itu bukan saja dalam hal jumlah, tetapi karena pesan-pesan intemet itu hampir tanpa memerlukan tuntutan untuk mempertanggungjawabkan kebenarannya. Bahkan dapat dikatakan, bahwa di zaman intemet ini, desas-desus menemukan sarananya yang paling tepat. Malah lebih efektif. Lanjut..
Puisi • Ahad, 5 April 2009 @ 12:53 diunggah oleh zen
TAK PERNAH KAU KUCINTA SEDALAM ITU
Tak pernah kucinta kau sedalam itu, adikku,
Seperti di malam aku meninggalkanmu,
Hutan dalam pun menelanku, hutan yang biru, adikku,
Dan bintang memutih di barat itu
Tak sedikit pun aku tertawa, adikku, tak sedikitpun
Di jalan iseng ke kelam nasibku
Sementara wajah-wajah di belakang itu
Berangsur memucat di hutan biru
Semua hal mengasyikkan di malam itu, adikku
Tak pernah sebelum dan sesudah itu –
Kuakui: hanya burung besar menemaniku,
Dengan pekik lapar di gelap itu
[Judul asli: Ich habe dich nie je so geliebt...
Penerjemah: Goenawan Mohamad]
caping • Ahad, 5 April 2009 @ 12:36 diunggah oleh zen
1976: seorang tokoh muda anggota parlemen mengalami sesuatu yang agak luar biasa: ia ketemu rakyat. Dengan tergopoh-gopoh hal ini diceritakannya kepada seorang kenalannya. “Sudah sekian tahun saya tak pernah naik bis kota. Tapi pagi itu mobil mogok di tengah jalan, dan tak ada taksi. Maka saya cegat bis. Dan di dalamnya saya ketemu rakyat.”
“Rakyat?” tanya kenalannya, seorang tokoh pengusaha muda. “Betul, eh?”
“Betul. Dalam bis itu belum banyak penumpang. Di sebelah kiri saya agak ke depan, seorang penyapu jalan yang sudah keriput parasnya masih tampak gagah memakai topi dinas. Di dekatnya tukang kayu. Ya, ia pasti tukang kayu: ia menyisipkan pahat besar di sabuk yang melingkari baju surjan luriknya. Ia menyedot sejenis rokok. Di jendela depan di belakang sopir seorang penjual mainan kertas meletakkan jualannya di sampingnya—dan tiba-tiba tampak kertas merah-oranye yang kasar itu seperti dekorasi penting dalam ruang bis yang biru muram itu. Di luar, pagi sudah seperempat jalan. Hari itu hari Minggu; jalanan agak sepi.
“Kedengarannya menarik betul pengalamanmu,” kata temannya. Lanjut..