caping • Kamis, 26 Maret 2009 @ 15:05 diunggah oleh

Gandhi

BAGI yang mengira bahwa “politik itu kotor” bacalah Gandhi. Bagi yang berdalih bahwa politik adalah muslihat, bacalah Gandhi. “Demikian segala kerendahan hati, saya dapat berkata bahwa mereka yang menganggap agama itu tak ada sangkut pautnya dengan politik sebenarnya tidak mengetahui apa artinya agama tersebut.”

Jika ia yang mengatakan itu, tak akan ada yang berkesimpulan bahwa pengertian “agama” di situ mirip dengan fanatisme. Politik malah seakan terdengar sebagai pengabdian — tanpa permusuhan.

Ia memang pembaca Bhagawat Gita yang terkesan, terutama oleh seloka yang membicarakan kemungkinan keji dari hasrat. Ia juga pembaca Injil di bagian ketika Al Masih masih berkhotbah di bukit. “Aku berkata padamu,” seru Yesus, “janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu.” Lanjut..

Esei • Jumat, 20 Maret 2009 @ 01:40 diunggah oleh

Hanafi, Sejak di Depan Kanvas Kosong

refinancing a house with bad credit

Hanafi melepaskan T-shirtnya, dan kini ia cuma bercelana pendek warna hitam. Di studio seluas 8 x 18 meter persegi itu, dengan langit-langit yang lebih tinggi ketimbang separuh pohon nyiur, tubuhnya yang kecil tiba-tiba meletakkan diri jadi pusat. Ruang bangunan di tanah seluas 430 meter persegi di Sawangan, Depok itu, seakan-akan berubah jadi dunia tersendiri. Seakan-akan tak ada tumpukan ratusan kanvas yang telah terpasang dan yang belum, atau batang-batang kayu panjang yang tersusun ke atas, atau rak-rak besar kecil di sekitar.

Di hadapannya sebuah kanvas putih yang luas tersandar ke dinding. Di kanan kakinya ada dua bak datar, berisi akrilik yang sudah dicampur, cat yang siap dipakai. Tak jauh dari situ: sebuah ember berisi air. Satu baskom berisi kuas besar, setengah besar. Roler, garu, sarung tangan, pisau penyongkel.

Di antara itu semua, Hanafi pun membungkuk, dan dengan lekas mengusapkan kuasnya ke kanvas yang telah disiapkan itu. Gerak tangan itu, gerak sapuan itu, tak sesaatpun berhenti, umumnya ke satu arah, ke kanan, naik atau turun. Tidak lebih dari tujuh menit sapuan-sapuan tebal dan besar mengisi ruang yang semula kosong dan netral itu.

“Kanvas putih itu bagi saya sebuah problem”. Lanjut..

caping • Rabu, 18 Maret 2009 @ 01:39 diunggah oleh

Si Anak Hilang

Mengapa si anak hilang? Banyak peristiwa yang terjadi.

Dalam legenda Si Malin Kundang, si anak tidak hendak kembali — dan mengakui emak kandungnya — karena kemiskinan dan keburukan masa silam terpasang dengan jelasnya dalam sosok si emak.

Dalam sebuah sajak Sitor Situmorang, si anak pulang dari rantau di Eropa. Ia disambut oleh ibunya dengan hangat, oleh bapaknya dengan ketenangan menahan hati. Ia sendiri tak banyak bicara. Tapi ketika malam hari ia datang ke pantai danau tempat ia dibesarkan dulu, ia tahu, seperti desir gelombang itu tahu: jiwanya tak hendak di kampung halaman lagi.

Barangkali banyak sebab yang mendorong kita untuk cenderung memandang fenomen “anak hilang” itu dengan hati bergetar. Kita, yang menyebut tanah tumpah darah — seperti kemudian tersurat dalam Indonesia Raya — sebagai “ibu”, agaknya punya gambaran diri yang sangat membekas sebagai “anak”. Atau barangkali inilah cermin kenyataan demografis kita: sebagian besar kita memang muda bahkan bocah. Sementara dunia modern mengajuk kita untuk bertualang, kita takut jadi hilang. Lanjut..

Buku, Puisi • Minggu, 15 Maret 2009 @ 01:36 diunggah oleh

Empat Sajak dalam "Manifestasi"

can i get my ex boyfriend back fast

manifestasi_2

Antologi sajak Manifestasi ini diterbitkan pada September 1962 oleh penerbit Tinta Mas yang kala itu masih berkantor di Jl. Kramat Raya 60, Jakarta. Saat antologi ini terbit, Goenawan baru berusia 21 tahun. M Sarbini AFN, yang sajaknya juga termuat di sini, menjadi penyusun antologi ini. Sementara Ali Audah, sastrawan yang juga dikenal sebagai penerjemah karya-karya sastra berbahasa Arab, menuliskan kata pengantar.

Selain sajak-sajak Goenawan Mohamad, dimuat pula sajak karya Armaya, Djamil Suherman, Hartojo Andangjaja, Mohammad Diponegoro, M Sarbini dan M Yoesmanam. Total jenderal sajak yang dimuat di sini berjumlah 33 buah.

Salah satu sajak yang cukup populer yang muncul di antologi ini adalah sajak Hartojo Andangjaja berjudul Rakyat yang dibuka oleh dua baris berbunyi: “Rakjat ialah kita/djutaan tangan jang mengajun dalam kerdja…”

Goenawan sendiri menyumbang empat sajak yang semuanya berasal dari periode awal kepenyairannya. Empat sajak itu masing-masing berjudul: Expatriate, Almanak, Meditasi dan Dimuka Djendela (di situ aslinya memang tertulis “dimuka”, bukan “di muka”). Kecuali sajak Almanak, tiga sajak lainnya sudah lebih dulu tayang di Majalah Sastra yang diasuh oleh HB Jassin. Lanjut..

Esei • Jumat, 13 Maret 2009 @ 00:10 diunggah oleh

Enam Jam di Yogya

GAMELAN sayup-sayup. Seorang pemuda berpakaian Jawa keluar dari pintu. Mengendap-endap. Di luar jauh di sana, terdengar panser dan truk tentara Belanda berseliweran. Pemuda itu hati-hati menyelinap di antara rumah-rumah kampung Yogya yang pada itu, lalu menghilang.

Di waktu subuh, ia kembali ke rumah tempatnya menumpang. Ia berusaha agr langkahnya tak membangunkan induk semangnya. Tapi ketika ia naik tangga ke kamarnya sendiri di atas, ia dengar wanita itu sudah bangun di kamar bawah. Habis sembahyang subuh. Cepat-cepat ia masuk ke kamar tidurnya, berganti pakaian, memakai slaapbroek lagi, membuka jendela, dan pura-pura bangun tidur. Tapi ibu itu, masih mengenakan mukena, muncul di pintu, “Apakah Nak Mohtar baru ketemu ngarsa dalem?” tanyanya.

Pemuda itu tak bisa mengelak lagi. Rahasianya tersingkap. Wanita itu tahu bahwa pemuda yang mondok di rumahnya adalah seorang anggota gerakan bawah tanah, kurang-lebih penghubung antara para gerilyawan di gunung dan kraton Yogya yang diam-diam melawan kekuasaan pendudukan Belanda. Lanjut..

Esei • Senin, 9 Maret 2009 @ 11:40 diunggah oleh

Sjahrir di Pantai

I

SAYA bayangkan Sjahrir di Banda Neira pagi itu, 1 Februari 1942. Kemarin tentara Jepang menyerbu Ambon dan beberapa jam sesudah itu bom dijatuhkan.

Saya bayangkan Sjahrir di Banda Neira pagi itu, setelah sebuah pesawat MLD-Catalina yang bisa mendarat di permukaan laut berputar-putar di sekitar pulau. Berisiknya membangunkan penduduk. Tak lama kemudian, kapal terbang kecil itu pun berhenti di teluk. Ko-pilot pesawat, seorang perwira Belanda yang kurus, turun dan menuju ke tempat Sjahrir dan Hatta tinggal. Kedua tahanan politik itu harus meninggalkan pulau cepat-cepat, pesannya. Hanya ada sekitar waktu satu jam untuk bersiap.

Hatta mengepak buku-bukunya, tergopoh-gopoh, ke dalam 16 kotak. Sjahrir memutuskan untuk membawa ketiga anak angkatnya, meski pun salah satunya masih berumur tiga tahun. Sesampai di tempat pesawat, sebuah problem harus dipecahkan: ruang di Catalina itu terbatas. Enambelas kotak buku atau ketiga anak itu harus ditinggalkan. Hatta mengalah. Enambelas kotak buku tak jadi dibawa –untuk selama-lamanya—kecuali Bos Atlas yang sempat disisipkan Hatta ke dalam kopor pakaian. Empatpuluh tahun kemudian Hatta masih menyesali kehilangan itu. Lanjut..

Esei • Jumat, 6 Maret 2009 @ 19:53 diunggah oleh

Caping: 16 September 1978

He Came Back From A Trip No Contact

caping3_vopy

Menjelang tengah hari 13 Oktober 1971, sesuatu yang berumur 2500 tahun dicoba dihidupkan kembali. Ini terjadi si sebuah kota kecil yang indah d Iran, Shiraz. Raja negeri itu, yang sewaktu muda bernama Mohammad Reza dan kini bergelar Raja di Raja Aryamehr, berdiri di depan makam Cyrus Yang Agung. Ia berpidato, memuji “pendahulu”nya yang wafat 530 tahun sebelum Masehi itu. Lalu ia meletakkan karangan bunga.

Angin mengibarkan puluhan bendera Iran modern di udara cerah yang kering. Di belakang makam, pucuk-pucuk cemara mendesau. Di sekeliling, ratusan perwira berseragam kebesaran tegak dan ratusan tamu berpakaian upacara dari pelbagai negara hadir. Mereka adalah saksi: Shahinshah Ayamehr — yang dulu adalah anak seorang Komandan Brigade tentara Prsia yang melakukan kudeta — sedang memanjat tangga sejarah yang jauh. Di hari itu ia memaklumkan diri sebagai pewaris yang sah dari pendiri Pasargadae, “mahligai negeri Pars”. Lanjut..

Esei • Rabu, 4 Maret 2009 @ 01:21 diunggah oleh

Towards an Aesthetics of Rest

“For all His rest is work and all His work is rest” — Angelus Silesius

I

Sometimes I wonder how to bring Hamlet to an end. We know in the last act the prince dies after his last words, “The rest is silence.” But right after Horatio, the prince’s loyal friend, delivers his sorrowful “good night, sweet prince” enter Fortinbras and others. Act V Scene II ends with six lines that belong to the English Ambassador, another ten lines to Horatio, followed by an utterly forgettable conversation between Horatio and Fortinbras. A tricky part, indeed, for it can disrupt the mood of the finale. It takes a great director to ensure that the grip of the tragedy survive the curtain call.

On a Shakespearean stage (as in writing poetry, in composing, and in painting), closing a performance is a serious business. It is rather like dying. We remember Sylvia Plath, who famously says “dying is an art”; only people of her quality can “do it exceptionally well.”

Thus Kandinsky masterfully stopped his brush stroke at one spot and not at another. John Cage decided his 4′ 33′′ was not to be a five-minute non-musical composition. In the process of every artistic production, there is always the issue of how to avoid overdoing a certain part or the whole thing. What makes a work of art a complete piece? What prompts a thing of beauty to stop, or better, to rest, especially when there is no plot and no point of denouement? Lanjut..

Pidato • Senin, 2 Maret 2009 @ 12:17 diunggah oleh

Internet dan Kreativitas

fresh_3

Petikan ceramah dalam diskusi yang diselenggarakan Komunitas Fresh atau Freedom Sharing di Salihara, 23 Februari 2009.
Dalam gambar: Goenawan Mohamad dan Budiono Darsono.
Foto:
Zen R.S.

 

Saya membaca beberapa blog dan beberapa di antaranya membuat saya terkesan. Beberapa dari mereka tulisannya makin bagus. Bahkan dalam facebook pun sebenarnya banyak catatan yang layak dibaca. Ulil Absar Abdalla, yang sepertinya lebih banyak menulis di facebook daripada belajar [dengan nada kelakar, red], mengatakan hal itu pada saya beberapa waktu lalu.

Saya tertarik fenomena ini karena saya tahu bagaimana susahnya mengajari orang menulis sewaktu masih aktif di Tempo. Saya tidak tahu apakah ini menandakan makin tumbuhnya tradisi tulis atau lebih karena interaksi di antara sesama blogger dalam memberi komentar yang membuat beberapa tulisan blogger makin bagus.

Tapi, saya percaya, beberapa tahun ke depan, tidak sekarang, mungkin sepuluh tahun lagi, makin banyak orang yang tidak lagi mengalami kesulitan dalam menulis karena blog. Lanjut..

Esei • Minggu, 1 Maret 2009 @ 02:00 diunggah oleh

Caping: 9 September 1978*

caping2

Orang yang ekstrim biasanya menarik. Tapi orang moderat biasanya yang mendekati kebenaran.

Guru filsafat itu mengucapkan itu dengan nada datar, lalu diam. Para mahasiswa menyeringai. Lelaki di depan ruang kuliah memang tidak memikat. Tidak berapi-api. Hanya sedikit menentramkan. Terutama kalau seraya menerangkan satu bab tentang epistemologi ia menyelingi suasana dengan petilan lagu dari Blue Angel.

Tapi cuma itu. Selebihnya pak guru filsafat layak dilupakan. Ia suka humor tapi kurang sexy.

Memang ada citra yang hambar tentang orang-orang yang yakin kepada benarnya ucapan (dari seorang Nabi, lho) bahwa “sebaik-baiknya perkara ialah yang di tengah-tengah.” Lanjut..