Puisi • Selasa, 18 Februari 2014 @ 09:14 diunggah oleh

Marco Polo

Hari masih gelap, hari Rabu itu, ketika Marco Polo pulang,
jam 6 pagi di musim gugur, beberapa abad kemudian.

I

Di dermaga Ponte Rialto tak dikenalinya lagi
camar pertama. Di parapet jembatan itu
tak bisa ia baca lagi beberapa huruf tua
yang menyela kabut
sepanjang kanal.

Hanya dilihatnya seorang perempuan Vietnam
mendaki tangga batu yang bersampah.

Dan Marco Polo tak tahu pasti
apakah perempuan itu bernyanyi
di antara desau taksi air.
Apakah ia bahagia.

Atau ia hanya ingin menemani seorang hitam
yang berdiri sejak tadi di bawah tiang lampu
di depan kedai pizza, selama angin
merekatkan gerimis.

“Kalian datang dari mana?,” pengelana Venezia itu bertanya.

“Tidak dari jauh,” jawab perempuan itu,
“Tidak dari jauh,” jawab orang hitam itu.

Dan camar pertama itu terbang.

Ia pernah kenal pagi seperti ini:
pagi yang dulu tak menghendakinya pergi.

II

Bau kopi pada cangkir
sebelum kantin membuka pintunya,
bau lisong pada kursi
yang masih belum disiapkan:
yang tak berumah di kota ini
tak akan pernah memulai hari.

III

Dua jam ia coba temukan tanda delima
yang pernah diguratkan diujung tembok
lorong-lorong sempit.

Tapi Venezia, di tahun 2013 Masehi,
tak lagi menengok
ke arahnya.

IV

Di Plaza San Marco, dari dinding Basilika
malaikat tak bertubuh
menemukan gamis yang dilepas.

“Adakah kau lihat,
seseorang telah menemukan seseorang lain
dan berjalan telanjang
ke arah surga?”

Tak ada yang menjawab.
Hanya Marco Polo yang ingin menjawab.
Tapi dari serambi kafe
orkes memainkan La Cumparsita
dan kursi-kursi putih menari
tak kelihatan, sampai jauh malam

Ketika kemudian datang hujan yang seperti tak sengaja,
seorang turis tua berkata: “Akan kubeli topi Jepang
yang dijajakan pada rak,
akan kupasang
ke kepala anak yang hilang dari emaknya.”

V

Menjelang tengah malam, para pedagang Benggali
masih melontarkan benda bercahaya
ke menara lonceng. “Malam belum selesai”, kata mereka,
“malam belum selesai.”

Marco Polo mengerti.
Ia teringat kunang-kunang.

VI

Cahaya-cahaya
setengah bersembunyi
pada jarak 3 kilometer dari laut

Dan di laut itu
terbentang
gelap aneh yang lain.

“I must be a mermaid, Rango. I have no fear of depths
and a great fear of shallow living.”
― Anaïs Nin

VII

Esoknya hari Minggu, dan dibilik Basilika padri itu bertanya:
Tuan yang lama bepergian, apa yang akan tuan akui sebagai dosa?”

Marco Polo: “Iman yang tergesa-gesa”.

Saya tak paham.”

Marco Polo: “Aku telah menyaksikan kota yang sempurna.
Dindingnya dipahat dengan ekses dan peperangan
di mana tuhan tak menangis.”

VIII

Di Hotel Firenze yang sempit
Marco Polo bermimpi angin rendah dengan harum kemuning.

Ia terbangun.

Ia lapar,
ia tak tahu.
Ia kangen.
ia tak tahu.

Ia hanya tahu ada yang hilang dari slimutnya:
warna ganih, bau sperma,
dan tujuh remah biskuit
yang pernah terserak
di atas meja.

IX

Pada jam makan siang
dari ventilasi kamar
didengarnya imigran-imigran Habsi
bernyanyi,

Aku ingin mengangkut hujan dari kaki dewa-dewa,
aku ingin datangkan sejuk sebelum tengah hari besok,
aku akan lepaskan perahu dari kering.

Di antara doa dan nyanyi itu
derak dayung-dayung gondola mematahkan
sunyinya.

X

Sebulan kemudian.
Di hari Senin itu
musim mengeras tua
dan Marco Polo membuka pintu.

Cuaca masih gelap.
Jam 6 pagi.
Biduk akan segera berangkat.

“Tuanku, Tuhanku,
aku tak ingin pergi.”
Ia berlutut.

Ia berlutut tapi dilihatnya laut datang
dengan paras orang mati.

2013

caping • Selasa, 18 Februari 2014 @ 09:07 diunggah oleh

Racun

Bahasa datang, dan kemudian penghancuran. Kini orang bisa dengan mudah menulis atau membaca kata-kata yang agresif, makian kasar dan kalimat benci yang brutal di internet, terutama dalam Twitter. Mungkin semua itu hanya ekspresi tak matang dan gagah-gagahan anak muda. Tapi jangan-jangan tak selamanya “anak muda”. Jangan-jangan ada sesuatu yang lebih serius.

“Bahasa tak semata-mata menulis dan berpikir bagiku; ia juga makin lama makin mendikte perasaanku dan mengatur keseluruhan hidup rohaniku dan tanpa sadar aku menyerah sepenuhnya kepadanya. Dan apa yang terjadi jika bahasa yang diolah itu terbuat dari anasir yang beracun…?”.

Kata-kata itu ditulis diam-diam oleh Victor Klemperer di Jerman di bawah kekuasaan Nazi, antara tahun 1933 dan 1935 ketika suara kebencian jadi bagian dari hidup sosial-politik.

Klemperer, guru besar sastra di Universitas Teknologi Dresden, mengalami sendiri bagaimana bahasa membubuhkan marka-marka ke jalan kematian. Dikerumuni pidato, poster, pers propaganda yang terus menerus, orang Jerman hidup dalam bahasa yang akhirnya memisahkan mana yang Jerman (asli) dan yang bukan (Yahudi). Klemperer dicopot dari statusnya karena ia ada di bawah kata “Yahudi”, dan ribuan orang lain masuk ke dalam kamar gas.

Catatan-catatan itu kemudian diterbitkan dengan judul LTI – Lingua Tertii Imperii: Notizbuch eines Philologen pada 1947 dan terbit dalam versi Inggris pada 2002. Petilan-petilannya menunjukkan bagaimana traumatiknya pengalaman Klemperer: “Kata-kata dapat seperti dosis-dosis kecil arsenikum: ditelan tanpa disadari, seakan-akan tak punya efek, lalu sejenak kemudian reaksi racunnya merasuk”.

Merasuknya arsenikum yang tanpa disadari itu yang agaknya menyebabkan tak mudah menganalisa bagaimana proses pembinasaan itu bekerja. “Aku sendiri tak pernah bisa mengerti”, tulisnya, “bagaimana ia [Hitler], dengan suaranya yang tak merdu dan bising, dengan kalimat-kalimatnya yang kasar dan bentukannya bukan-Jerman…, bisa memikat orang banyak dengan pidato-pidatonya…”

Lanjut..

caping • Selasa, 18 Februari 2014 @ 09:04 diunggah oleh

Douch

Apa yang dapat dikatakan tentang seorang algojo?

Kita sudah saksikan Anwar Congo dalam film dokumenter The Act of Killing Joshua Oppenheimer: preman Medan yang dengan bangga mengaku telah membantai banyak orang “komunis” di pertengahan 1960-an, tapi di adegan terakhir hampir sepenuhnya diam, hanya batuknya yang terdengar di rumah bekas tempat pembunuhan itu, hanya tubuh tuanya yang lelah menuruni tangga…

Ketika film berakhir, tak ada cerita tentang apa yang terjadi dengan Anwar Congo di saat itu, setelah itu. Akhirnya manusia tak bisa lengkap didokumentasikan, pikir saya. Anwar Congo tak hanya satu.

Mungkin begitu juga Douch. Nama sebenarnya Kang Kek Iew. Dalam sejarah Kambodia yang berlumuran darah selama dasawarsa 1970-an, ia pejabat Khmer Merah yang memimpin Penjara Tuol Sleng, yang juga disebut “S-21″. Ia tokoh kebengisan yang tak kalah mengerikan.

Selama empat tahun Partai Komunis berkuasa di Kambodia, ribuan disekap di tempat yang berarti “bukit pohon beracun” itu.

Douch, direktur “S-21″ sejak 1975, adalah sang pencabut nyawa. Ketika Khmer Merah kalah dan ia ditangkap dan diadili, bukti-bukti ditunjukkan: ada perintah tertulisnya, misalnya, untuk “menghantam sampai hancur” 17 tahanan (8 pemuda belasan tahun dan 9 anak-anak). Dalam daftar 20 tahanan perempuan ia menulis instruksi di bawah tiap nama: “bawa untuk dieksekusi”; “terus diinterogasi”; “untuk eksperimen medis”.

Douch juga mengakui: anak buahnya merenggutkan bayi dari ibu mereka dan membenturkan kepala orok itu ke pohon, sampai mati.

Dari sekitar 17.000 tahanan, hanya tujuh yang hidup.

Lanjut..

Puisi • Minggu, 9 Februari 2014 @ 08:49 diunggah oleh

Sjahrir, Di Sebuah Sel

– untuk Rudolf Mrazek

Dari jendela selnya,
(kita bayangkan ini Jakarta,
Februari 1965, dan ruang itu lembab,
dan jendela itu rabun),
ia merasa siluet pohon
mengubah diri jadi Des,
anak yang berjalan dari selat
memungut cangkang nyiur,
dan melemparkannya
ke ujung pulau.

“Aku selalu berkhayal tentang selat,
atau taman kembang, atau anak-anak.”

Itu yang kemudian ditulisnya
di catatan harian.

Maka ditutupkannya daun jendela
dan ia kembali ke meja,
ke peta dengan warna laut
yang tak jelas lagi.

Ia cari kapal Portugis.

Tapi Banda begitu pekat, dan laut
menyembunyikan ingatannya.

(Seorang pemetik pala
pernah mengatakan itu
di sebuah bukit
kepada Hatta).

Kini ia mengerti: juga peta
menyembunyikan ingatannya,
seperti malam Rusia
menyembunyikan sebuah kota.
Tiap pendarat tak akan
mengenali letak dangau,
jejak ketam pasir,
batang rambai yang terakhir,
di mana sisa hujan
agak disamarkan.

“Sjahrir. Bukankah lebih baik lupa?”

Seekor ular daun pernah menyusup
ke sandalnya dan ia ingat ia berkata,
“Mungkin. Mungkin aku tak akan mati.”

Esoknya ia berlayar.
Di jukung itu anak-anak mengibarkan
bendera negeri yang belum mereka kenal.

“Lupa adalah….”

“Jangan kau kutip Nietzsche lagi!”.

“Tidak, Iwa. Aku hanya ingin tahu
sejauh mana kita merdeka.”

Di beranda rumah Tjipto,
di tahun 1936 itu,
percakapan sore,
di antara pohon-pohon Naira,
selalu menenteramkan.
“Jangan beri kami altar
dan tuhan imperial,”
seseorang menirukan doa.

“Tapi kita dipenjarakan, bukan?”

Ya, tapi ini penjara yang pertama,
yang memisahkannya dari ingin
dan kematian.

“Ah, lebih baik kita diam,”
kata tuan rumah.
“Abad ke-20 adalah abad
yang memalukan.”

Di sana, di beranda rumah Tjipto,
menjelang malam, di tahun 1936,
mereka selalu tertawa
mengulang kalimat itu.

Di sini, (kita bayangkan di Jakarta,
Rumah Tahanan Militer, 1965),
ia tak pernah merasa begitu sendiri.

Hanya ada suara burung tiung
(atau seperti suara burung tiung)
ketika siang diam.

Tapi ia takut duduk.

Ia tak ingin menghadap ke laut,
(andaikan ada laut),
seperti patung Jan Pieterzoon Coen,
seperti pengintai di menara benteng
yang menunggu kapal-kapal
di dekat langit
sebelum perang.

Ia tak ingin duduk.

“Siapa yang menatap jurang dalam,
jurang dalam akan menatapnya.”

Mungkinkah ia sendiri
yang mengucapkannya di sel itu?

2014

Esei • Jumat, 31 Januari 2014 @ 21:38 diunggah oleh

Congress for Cultural Freedom, CIA, dan Kulturkampf Perang Dingin

Bagian I: Genesis

Di tahun 1939, seorang pengajar filsafat berumur  37 tahun membentuk Committee for Cultural Freedom: Sidney Hook. Dalam komite ini duduk juga John Dewey, filosof terkenal, pelopor aliran Pragmatisme.

Waktu itu Hook  guru besar di New York University. Ia juga pemimpin redaksi majalah sosialis, The New Leader. Ia, anak imigran Yahudi yang sangat miskin, ikut mendirikan Partai Pekerja Amerika. Sebagai pemikir, ia mencoba memadukan Pragmatisme dengan Marxisme. Bukunya, Towards the Understanding of Karl Marx: A Revolutionary Interpretation, (1933), meneguhkan posisinya sebagai penafsir  Marx terpenting di Amerika waktu itu.

Di tahun 1929, Hook pergi ke Jerman dengan beasiswa Guggenheim.  Dari Berlin ia ke Moskow untuk penelitian di Insititut Marx-Engels. Dari kota sosialis itu ia menulis sepucuk surat yang bergairah kepada ayahnya:  Moskow masih berantakan, tapi “tiap batu bata, tiap jalan, tiap mesin, adalah lambang semangat baru… urat nadi antusiasme mengalir di bawah permukaan segala hal.”

Bayangkan, tulisnya pula, di sini bendera merah jadi lambang negara dan Internationale jadi lagu kebangsaan!

Meskipun ia tak pernah jadi anggota Partai,  ia bergabung dengan  serikat sekerja guru kota New York yang dipimpin orang-orang komunis. Dengan pengetahuannya yang ulung tentang Marxisme, ia berhasil meng-komunis-kan sejumlah cendekiawan, termasuk pemuda yang kelak dikenal sebagai kritikus sastra terkemuka Amerika, Lionel Trilling.

Tapi di awal tahun 1930-an, Hook — yang menganggap diri berguna bagi Marxisme sebagai “logical disinfectant”, unsur yang membersihkan cara berpikir   — mulai menyaksikan bagaimana Partai Komunis Amerika jadi monolitik:  memecat sejumlah aktivis partai terkemuka yang tampak dekat dengan pemikiran Trotsky.

Trotsky memang sebuah pesona. Tokoh Revolusi Oktober 1917 yang berjuang bersama Lenin ini bukan saja seorang penulis dan pemikir yang cemerlang, tapi juga “man of action”  yang  bisa memimpin Tentara Merah dalam pertempuran. Tapi nasibnya terpelanting. Menjelang tahun 1924 Lenin sakit-sakitan dan kemudian wafat dan Trotsky tergeser. Pelan tapi pasti Stalin, dalam kedudukan sebagai sekretaris jenderal Partai, mengambil-alih posisi pimpinan tertinggi.

Trotsky membentuk faksi oposisi; ia menulis kritik atas keadaan partai dan aparatnya dalam satu risalah yang beredar secara rahasia di tahun 1928,  yang di New York jadi bacaan para aktivis komunis — teman-teman Hook.

Di Kremlin-Moskow, lain halnya: dalam pertarungan politik di tubuh Partai Komunis di Kremlin-Moskow, Trotsky  kalah.  Terpojok dan terancam, ia menyingkir ke luar negeri dan tak pernah kembali sejak tahun 1929.  Stalin memburunya. Tapi posisi sebagai seorang tokoh yang dikejar-kejar itulah yang  justru  menyebabkan Trotsky punya aura tersendiri.

Lanjut..

caping • Rabu, 22 Januari 2014 @ 10:20 diunggah oleh

Rosa

95 tahun yang lalu, mereka membunuh Rosa Luxemburg.

Hari itu Rabu yang dingin, 15 Januari.  Beberapa orang anggota Garda  Burgergerwehr  dari Wilmersdrof, di  bagian luar  Berlin, menangkap Rosa  Luxemburg dan  temannya sepergerakan,  Karl Liebknecht.  Kedua tokoh sosialis kiri itu, yang menyebut kelompoknya “Spartakus”,  diketahui terlibat dalam pembrontakan terhadap pemerintah. Malam itu mereka di bawa ke arah penjara Moabit. Di tengah jalan mobil berubah arah: ke Tiergarten, taman yang penuh pohon di pusat kota. Di antara semak-semak, Liebknecht ditembak mati.

Rosa diseret ke dalam sebuah mobil lain. Dengan gagang pistol, seorang opsir memukul kepala perempuan berumur 48 tahun itu hingga pingsan. Sebuah revolver membuyarkan otaknya. Mayat Rosa ditenggelamkan di Kanal  Lanswher. Baru beberapa bulan kemudian tubuh itu diketemukan — meskipun tak pernah pasti benarkah itu jenazah Rosa.

Saat-saat  yang gelap,  tulis Hannah Arendt tentang masa itu. Rosa hidup, berjuang, hilang, di bagian abad ke-20 yang diliputi rusuh, kelaparan, pembunuhan massal, dan rasa benci kepada ketidak-adilan yang membuat orang marah dengan suara serak.

Lanjut..

caping • Rabu, 22 Januari 2014 @ 10:18 diunggah oleh

Heteroglassia

Di lantai pentas itu bisa ada rebana,  suling dan ukulele, gambang dan  wayang, gunungan dan kecrek, payung dan setandan pisang. Pernah ada balon yang sebenarnya  kondom-kondom yang ditiup, tak jauh dari seeongggok nasi tumpeng. Pernah ada dua benda yang dibungkus kain, dan sebuah struktur yang mirip pintu masjid, di sebelah sebuah tabung.  Begitu banyak barang-barang, masing-masing sepele dan tak jelas fungsinya.

civil rights essay

Tapi ada pesona.

Di panggung, atau mungkin di lantai pentas, banyak hal bisa terjadi, sebab seorang dalang adalah seorang pesulap, dan Ki Dalang Slamet Gundono adalah pesulap yang tak tepermanai.

Kini ia tak ada lagi di antara kita.  Ia meninggal,  Minggu 5 Januari 2014,  hanya sekitar lima hari setelah dirawat di sebuah rumah sakit di Sukoharjo, dekat Surakarta.  Saya sudah cemas ketika ia mengirim sandek ke telepon genggam saya pada 31 Desember 2013:  “Mas Goen, saya sakit…Kaki saya tak bisa jalan dan sakit luar biasa”.

Lanjut..

Esei • Senin, 13 Januari 2014 @ 12:21 diunggah oleh

Tutur dan Gumam dan Realisme: Menyusur Novel-novel Putu Wijaya

[1]

Novel bisa berkisah, novel bisa bergumam. Dalam sejarah sastra Indonesia,  Putu Wijaya satu-satunya sastrawan yang pernah menghadirkan kedua kemungkinan itu. Dan ia meyakinkan.

Di satu sisi ada Putri (terbit pertama kali di tahun 2004). Di sisi lain, sebelumnya, ada Telegram (terbit pertama kali di tahun 1971) dan Stasiun (terbit pertama kali 1977). Kedua “sisi” itu  mewakili dua peran dan kemampuan kreatif yang berjauhan.  Keduanya juga contoh  bagaimana novel bertaut dengan realitas — atau kehidupan — dalam dua modus yang berbeda.

Saya ingin menyusuri pertautan itu. Dengan novel-novel itu saya juga ingin menengok kembali  apa  yang saya pahami sebagai realisme — pokok yang praktis terabaikan dari pembicaraan tentang Putu Wijaya. Umumnya orang melihat dalam teaternya, dan juga pelbagai cerita pendeknya,  yang fantastis dan absurd menyusup di mana-mana.

Novel, sementara itu, menuntut sesuatu yang lain. Novel adalah  “keratan  kehidupan”  (saya pinjam  perumpamaanseorang dramawan Prancis).Menulis  novel adalah mengerat satu fragmen dari sebuah keseluruhan yang tak jelas tepinya, lantas memberinya bentuk.  Bentuk adalah reduksi yang meringkus dan meringkas data yang bertaburan, susup-menyusup, berubah terus, centang perenang. Bentuk itu bermula ketika tiap kali sang novelis memandang ke dunia, ia memandangnya melalui sebuah “jendela” yang memberinya sebuah  pigura pada hamparan kehidupan dalam tatapannya.

Hasilnya: sekerat kehidupan yang menjadi berarti karena imajinasi sang novelis membangunnya.  Menghadirkan kembali kehidupan dalam keratan itu berarti juga mengubahnya.  Realisme, dalam perspektif ini, bukanlah cerminan, melainkan tarnsformasi atas kehidupan.

Lanjut..

caping • Senin, 13 Januari 2014 @ 11:59 diunggah oleh

Pelan

Liquor is quicker – Ogden Nash.

Saya menyukai pagi: dengan gerimis atau sinar matahari, saya akan berjalan mengikuti bayang-bayang pohon sepanjang alur, atau sebaliknya,  duduk tiga menit memejamkan mata di depan jendela terbuka. Ada  sisa harum kemuning yang mekar semalam dan bau daun-daun yang lumat di rumput becek. Ada suara burung yang cerewet — ya, pagi adalah suara burung yang cerewet.  Juga suara tokek, bunyi berat yang  sabar satu demi satu, seakan-akan melawan kecepatan detik.

Mungkin saya menyukai pagi karena di sana saya  berlindung dari kecepatan detik.

Meskipun bisa tak bertahan.  Sebab jika pada menit berikutnya saya  buka laptop, akan menghambur apa yang disebut “informasi” — ribuan kata, suara, angka dan  gambar yang desak mendesak,   singkir menyingkirkan: kabar dari situs dot.com, salam dan umpatan dan keluhan minta perhatian di Twitter, foto-foto pamer diri di Facebook, pesan-pesan sejenak dari teman dan orang yang tak dikenal di telpon genggam….Mereka melintas.   Mereka tenggelam. Mereka diingat, tak lengkap. Mereka mungkin statemen, mungkin salah faham yang bergegas.  Mereka berubah.

Di depan laptop, dunia  melawan pagi.

Di depan laptop, di luar iPad, di luar kamar, kita diproyeksikan seolah-olah terancam:  makhluk yang  akan runtuh bila tak bergerak cepat.  Klaus Schwab, pendiri the World Economic Forum, menyebarluaskan kecemasan itu: “Kita bergerak dari sebuah dunia di mana yang besar memakan yang kecil ke arah dunia di mana yang cepat menelan yang pelan.”

Lanjut..

Esei • Minggu, 5 Januari 2014 @ 19:38 diunggah oleh

Wafatnya Slamet Gundono dan Lakon “Sudamala”

Slamet Gundono menghembuskan nafasnya yang terakhir hari ini, pada Minggu pagi 4 Januari 2013. Dia meninggal di ICU Rumah Sakit Yarsis, Sukoharjo, Jawa Tengah. Slamet Gundono masuk rumah sakit setelah pulang dari pentas di Tegal Jawa Tengah.

Goenawan Mohamad berteman dan mengenal baik Slamet Gundono. GM mengaku pertama kali melihat Slamet Gundono di pentas dalam pertunjukan Opera Dipenogoro karya Sardono W. Kusumo pada 1995. Dalam pertunjukan yang digelar di Taman Ismail Marzuki dalam rangka Asia Art Summit itu, Slamet Gundono juga turut bermain.

“Sebagai seniman dia mengagumkan dan sebagai orang yang punya komitmen sosial. Uang yang diterimanya dari Prince Clauss Award sebagian dipakainya untuk memperbaiki kampungnya di tepi Bengawan Solo. Dan rumahnya tetap sederhana,” kenang Goenawan Mohamad.

Pada 2009, Goenawan Mohamad pernah menulis esai panjang tentang salah satu lakon yang dipentaskan Slamet Gundono, yaitu lakon Sudamala. Di esai itu, dibicarakan dua hal pokok (“keindahan” dan “kebenaran”) dengan lakon Sudamala versi Slamet Gundono sebagai pokok bahasan. Esai itu berjudul “Sudamala, Seni, dan Beda: Ke Arah Tafsir Lain tentang Keindahan”.

Anda bisa membaca esai itu di sini: Sudamala, Seni, dan Beda: Ke Arah Tafsir Lain tentang Keindahan.