Li Changgeng, Marx dan Uang

Teks kuliah untuk Universitas Parahiyangan, Jurusan Filsafat.

[1]

Uang dan tangisan: di wilayah Jiangyou, Propinsi Sichuan, Tiongkok, seorang-tua yang hampir berumur 70 bercerita tentang masa lalunya sebagai juru tangis. Ia pemain oboe Cina, suona, tapi di masa lampau ia juga mendapatkan nafkah dengan menyewakan tenaganya untuk menangis di saat perkabungan ketika seseorang meninggal.

Liao Yiwu, sastrawan Tiongkok yang mendokumentasikan wawancaranya dengan orang-orang yang hidup di jenjang terendah masyarakat, meletakkan orang tua itu di awal buku The Corpse Walker yang berisi terjemahan dari sebagian karyanya, Wawancara dengan Orang-orang di Anak Tangga Terbawah.

Nama juru tangis itu Li Changgeng. Sejak umur 12, ia bekerja dengan keahlian ini bersama grupnya.

“Kebanyakan orang yang kehilangan anggota keluarganya meledak tangisnya dan mulai meraung-raung ketika memelihat tubuh si mendiang,” cerita orang tua itu. “Tapi raungan mereka tak bertahan lama. Rasa sedih segera akan merasuk ke jantung, mereka terguncang atau pingsan. Tapi bagi kami, begitu kami bisa dapat suasana hati yang pas, kami kendalikan emosi dan dengan mudah kami membuat improvisasi. Kami bisa meraung lama, selama yang dipesan”.

Lanjutkan membaca Li Changgeng, Marx dan Uang

Indonesia

Seorang dokter kapal menyediakan nama bagi Indonesia. Pada 1861, Adolf Bastian, kelahiran Bremen, Jerman, berlayar di Asia Tenggara. Ia kemudian menulis sejumlah buku. Salah satunya dibaca banyak orang: Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipels, 1884-1894. Dari buku ini nama “Indonesia” mulai menandai kepulauan yang ribuan jumlahnya itu.

Bastian berpengaruh karena ia bukan hanya seorang dokter kapal. Ia lulus ilmu hukum, lulus biologi, ia berminat dalam ilmu yang di zamannya disebut “ethnologi”, dan ia juga dokter. Bahwa ia jadi dokter kapal, itu tanda keinginannya menjelajah bagian bumi yang lain. Pada 1873, ia ikut mendirikan Museum für Völkerkunde di Berlin, dengan koleksi besar karya manusia dari pelbagai penjuru.

Dokter kapal yang tak henti-hentinya mengarungi laut melintasi batas ini — dan meninggal dalam perjalanan di usia 80 — yakin bahwa ada yang menyatukan sesama manusia: “gagasan-gagasan dasar”, Elementergedanken.

Umat manusia, tulis Bastian, “punya segudang gagasan yang dibawa lahir dalam diri tiap orang,”. Gagasan elementer itu muncul dalam pelbagai variasinya dari Babilonia sampai dengan Laut Selatan.

Lanjutkan membaca Indonesia

Tangis

Siapa tahu matahari seorang yang buta? ― Les Misérables

Matahari bisa begitu terang, tapi begitu jauh dan tak peduli kesengsaraan manusia. Les Misérables, yang terbit pertama kali 1 April 1862, ingin lebih dekat ke bumi dan peka kepada tangis Prancis. Satu baris kalimatnya yang termashur: “Siapa yang tak menangis, tak melihat”.

Victor Hugo ingin mata kita basah dan melihat, dengan peka, ke sekitar. Pada umumnya ia berhasil, setidaknya di antara pembacanya 200 tahun yang lalu. Konon penerbitan pertama novel ini di Brussel tertunda karena para juru cetak terisak-isak waktu membaca manuskripnya.

Sang novelis tak ingin jadi pemikir besar. Ia tak mau menatap semesta dan melihat sejarah semata-mata sebagai survei wilayah. Ia tak mau sibuk dengan tata zodiak hingga ia tak melihat anak kecil yang mencucurkan air mata.

Tak mengherankan bila novel yang terdiri dari lima bagian panjang ini padat dengan tokoh kecil yang melata, kaya akan adegan yang menyayat hati dengan khasanah kata yang tak habis-habisnya. Paragraf demi paragraf bergerak antara renungan sang pengarang dan dialog para peran — sebagian besar les misérables, para nestapa. Fantine, gadis yang hamil, ditinggalkan pacar dan jadi pelacur. Cosette, yatim yang terdampar; Jean Valjean, lelaki yang dihukum keras karena mencuri sepotong roti.

Tapi tak hanya itu. Novel ini memang terkadang terasa seperti sebuah melodrama yang majemuk, tapi Les Misérables sesungguhnya sebuah novel politik. Melalui bab demi bab, kita berangsur-angsur masuk ke dalam latar Paris menjelang Revolusi 1830. Suara rakyat, khususnya kaum buruh, makin nyaring di depan umum, di kedai-kedai anggur dan di salon-salon pertemuan. “Demam revolusi berjangkit. Tak ada titik di kota Paris atau di Prancis yang bebas darinya. Urat nadi berdenyut keras di mana-mana. Bagaikan membran yang tercipta dari inflamasi dan membentuk tubuh manusia, jaringan perkumpulan rahasia mulai menyebar ke seluruh negeri.”

Dalam jaringan itu, di kamar-kamar belakang yang setengah tersembunyi, para buruh bersumpah akan segera turun ke jalan begitu tanda pertama dibunyikan. Dan barikade pun dibentuk. Aparat kekuasaan ditantang. Tembak-menembak terjadi. Darah tumpah dan asap memenuhi trotoar. Di celah-celah itu, tampak “mulut-mulut yang menyemburkan napas api”, “wajah-wajah yang luar biasa”.

Di adegan seperti itu kita lihat: politik adalah sebuah tiwikrama, ketika manusia bergulat untuk mengubah keadaan jadi sebuah dunia yang lebih baik.Politik mentransformasi manusia yang rutin, terbatas, dan terpisah-pisah, menjadi subyek yang menggerakkan dan digerakkan tuntutan yang melebihi keterbatasan dan kepentingan dirinya.

Di Indonesia kita telah menyaksikan transformasi itu dalam politik di awal abad ke-20 semasa pergerakan nasional dan ketika perang kemerdekaan meletus pada 1940-an: di saat seperti itu, politik tumbuh dari tuntutan dan empati — dari “melihat” dan “menangis”.

Lanjutkan membaca Tangis

Al-Ludd, 1948-2014-….

Sejarah yang brutal, sengsara, dan tak berujung itu mungkin dimulai di sebuah kota kecil Palestina, 15 kikometer di tenggara Tel Aviv. Orang Arab menyebutnya al-Ludd (الْلُدّ), orang Yahudi menyebutnya Lod.

Sebelum zaman diguncang Perang Dunia II, di kota itu penduduk Arab hidup tenang berdampingan dengan para pemukim Yahudi yang datang sejak 1903. Di lembah al-Ludd, seorang Yahudi pendatang mendirikan sebuah pabrik sabun dari minyak zaitun; yang lain sebuah rumah yatim piatu korban pengusiran paksa di Eropa Timur.

Tak ada yang benar-benar berhasil. Tapi kemudian, pada 1927, datang Siegfried Lehman.

Mantan dokter tentara Jerman itu lahir di Berlin pada 1892 dari keluarga Yahudi yang kaya dan dermawan. Pada 1917 ia mendirikan rumah penampungan bagi yatim-piatu Yahudi di kota Kovnia, Lithuania. Tapi keadaan memburuk; di sini pun orang Yahudi dimusuhi. Ia memutuskan pindah ke Palestina.

Seperti para pendahulunya, ia memilih lembah di atas al-Ludd. Di sana ia dirikan sebuah “desa-pemuda”, dengan nama Ben Shemen. Di situ para anak asuh dilatih beternak, berkebun, berladang anggur, sambil bersekolah. Menjelang 1946, ada 500 murid dari umur 12 sampai dengan 18 yang tercatat di Ben Shemen: sebuah zona kecil Zionis yang damai — yang tak disangka kelak akan bertaut dengan perang, pembantaian, dan pembuangan.

Pada mulanya, hubungan Lehmann dengan penduduk Arab di al-Ludd akrab. Ketika gempa bumi menghancurkan sebagian kota dan menewaskan sejumlah penduduk, dokter Yahudi-Jerman itu datang merawat korban yang luka-luka. Kliniknya terbuka bagi orang-orang Palestina. Para pemuda Zionis membangun sebuah air mancur tempat penduduk kota bisa minum ketika hari terik. Tiap akhir pekan, murid-murid Ben Shehmen berkunjung ke dusun-dusun Arab di sekitar itu. Di tiap festival desa-pemuda, pemain musik dan penari masyarakat Arab diundang serta.

Tapi suasana seperti gambar di kartupos yang cantik itu tak bertahan. Di tahun-tahun itu dunia digedor pelbagai hal. Timur Tengah berubah jadi sebuah tragedi dengan peta baru. Sehabis Perang Dunia II negara-negara pemenang mengesahkan sebuah tempat bagi sisa-sisa orang Yahudi yang hendak dihabisi Hitler. Inggris melepaskan posisinya sebagai pengampu wilayah Palestina, dan bagi kaum Zionis yang berjuang buat kemerdekaan bangsa Yahudi, itulah negeri yang dijanjikan Tuhan dan sejarah. Pada 14 Mei 1948, David Ben-Gurion memaklumkan berdirinya Negara Israel di wilayah itu — wilayah yang mereka anggap diwariskan buat mereka tapi yang berabad-abad lamanya dihuni orang Arab. Tak ayal, tentara Arab dari sekitar pun menyerbu.

Mereka gagal. Bahkan sebaliknya yang terjadi: Israel memperluas kekuasannya. Di awal Juli, Operasi Larlar diluncurkan untuk merebut beberapa wilayah di Palestina, termasuk al-Ludd.

Lanjutkan membaca Al-Ludd, 1948-2014-….

Memihak

Kau tak memihak. Kau tak ingin pandanganmu tersekat barikade. Kau ingin tunjukkan, di balik tiap barikade, baik di kubu yang di sana maupun yang di sini, bertengger yang kotor dan keji. Ada siasat dan alat penghancuran yang disiapkan. Kau ingin tegaskan bahwa peranmu (“Aku cendekiawan”, katamu) adalah melawan itu. Ingin kau garis-bawahi kembali nalar yang jernih, standar kebaikan yang tak berat sebelah, dan hatinurani yang didengar.

Sebab itu kau tak ingin memihak.

Tapi aku memihak.

Baiklah aku jelaskan kenapa. Di hari-hari pemilihan Presiden 2014 ini, justru dengan memihak — tapi tak asal memihak — aku memutuskan ikut dalam ikhtiar menemukan tujuan yang kau ingin capai, tujuan yang aku ingin capai.

Bedanya: aku tak berdiri di menara pengawas. Bagiku menara pengawas itu hadir di jarak yang semu. Ia tampak jauh, atau menganggap diri jauh, menjulang ke dekat langit. Tapi fondasinya terletak di sepetak tanah. Lokasinya bukan cuma akrab dengan pucuk pohon yang hijau, tapi juga air payau dan pelbagai tahi. Aku tak ingin berada di menara itu bukan karena tak nyaman dengan najis. Aku tak ingin di sana karena merasa tak bisa pura-pura menatap bumi dari luar sejarah yang bergolak.

Pandanganku mungkin terbatas. Mungkin aku kehilangan perspektif yang mencakup semua. Tapi aku tak pernah yakin bahwa “melihat” selalu sama dengan “mengetahui”, dan “mengetahui” sama dengan “mengalami”. Ketika aku memihak, ada yang hilang dari penglihatanku, tapi aku mengalami sesuatu

Yang sangat menonjol dalam pemilihan presiden 2014 adalah peredaran fitnah yang deras, dalam derajat yang tak pernah dialami sejarah politik Indonesia. Mungkin ini bisa terjadi karena perpindahan fokus dari ideologi ke tokoh — sebuah trend yang menegas karena kekuasaan televisi. Di layar yang gemilang itu, wajah dan citra lebih penting ketimbang program dan pikiran. Dan wajah dan citra itulah yang oleh fitnah hendak dirusak.

Tapi fitnah yang menderas itu juga karena persaingan politik telah diperlakukan sebagai permusuhan absolut. Kau tentu ingat, “perang” telah dipakai untuk menggambarkannya. Lebih tajam lagi: perang antara “kafir” dan “Islam”. Dalam permusuhan yang mutlak itu, tak ada lagi nilai-nilai yang dianggap berlaku bersama. Fitnah dan dusta dihalalkan, karena pertarungan macam itu adalah pertarungan tanpa kemungkinan rekonsiliasi. Pihak yang memfitnah merasa pantas mengecualikan diri dari nilai-nilai bersama tentang yang jujur dan yang tidak.

Lanjutkan membaca Memihak

Kecapekan

Kita mungkin akan hidup sebagai sebuah masyarakat yang kecapekan oleh dusta. Tahun 2014 adalah tahun pemilihan yang paling brutal — brutal dalam wujud kata-kata — sepanjang sejarah kita sejak 1945. Dalam proses yang sengit ini, hampir tiap saat kita mendengarkan “fakta” yang dikatakan untuk diputar-balikkan, bantahan-bantahan yang tak berniat mencari apa yang benar, dan cepat atau lambat, meruyaknya saling tidak percaya — bahkan kebencian. Bersama itu: hilangnya percakapan yang serius.

Percakapan yang serius mengandung keinginan untuk saling mendengarkan, meskipun tak harus untuk saling setuju. Percakapan yang serius tak berarti percakapan tanpa humor; bahkan humor bisa penting di situ. Dalam percakapan yang serius ada asumsi bahwa kata-kata punya sebuah kekuatan, dalam bunyi dan makna, dalam pikiran dan perasaan — kekuatan yang kadang-kadang disebut disebut “maksud”. “Maksud” dalam bahasa Indonesia bisa berarti “makna”, bisa juga berarti “intensi”. Tapi ketika dusta begitu sering diucapkan, maksud pun hanyut — dan kadang-kadang tenggelam — dalam arus bunyi yang desak-mendesak yang dalam gramatika disebut (untuk memakai ucapan Hamlet yang kesal), “kata, kata, kata…”

Mark Twain pernah mengatakan, perbedaan antara dusta dan kucing ialah bahwa kucing hanya punya sembilan nyawa. Dusta, dengan kata lain, jauh lebih sulit mati. Ia hanya bisa dihentikan oleh lawannya yang sering disebut sebagai “kebenaran”. Tapi kebenaran, apapun definisinya, tampaknya kini sudah kecapekan sebelum berhasil mengejar dan menghajar kebohongan.

Pelan-pelan, sebuah masyarakat yang kecapekan oleh dusta, sebuah masyarakat yang tak bisa lagi bercakap-cakap secara serius, akhirnya mirip sebuah koleksi suara berisik yang sebenarnya tak berkata apa-apa. Kita seakan-akan bagian lakon televisi yang disajikan Samuel Beckett: tidak ada lagi dialog. Bahasa sudah habis. Dalam Quad, kita akan melihat para aktor bergerak di pentas dan tak mengucapkan sepatah kata pun. Kata-kata hanya ditulis Beckett sebagai arahan pementasan. Deleuze membahas lakon tanpa-kata itu dengan judul l’Épuisé, “yang kehabisan tenaga”. Tak ada lagi tenaga untuk saling menyapa. Setidaknya oleh Beckett bahasa ditunjukkan sebagai bagian dari keadaan yang lebih runyam ketimbang sekedar lelah.

Lanjutkan membaca Kecapekan

Kejadian

Do I contradict myself? Very well, then I contradict myself. I am large. I contain multitudes — Walt Whitman

kejadian caping

Puluhan ribu orang berhimpun di sebuah sore yang tak terduga-duga: berlapis-lapis antusiasme, bertimbun-timbun harapan, juga cemas, berbaris-baris wajah yang tak cuma menatap kaku dan pasif.

Saat itu, dalam ruang itu berlangsung sebuah transformasi: kemeriahan itu seketika jadi sebuah “kami” .Sebuah Kami yang siap. Sebuah Aku yang yakin. Sebuah subyek yang, dari saat ke saat, mengutuhkan dirinya.

Di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, 5 Juli 2014, konser dua jam untuk Jokowi itu sudah tentu bukan cuma sebuah perhelatan musik; tapi juga bukan hanya satu elemen kampanye politik. Saya kira saya menyaksikan sebuah “kejadian.”

Dalam hal ini kata “kejadian” (dengan akar kata “jadi”) lebih pas ketimbang, (jika kita ikut-ikut membaca Badiou), “l’événement”, Sebab yang semula tak berbentuk seketika hadir — tanpa digerakkan sebuah sistem, tanpa bisa dirumuskan dan dinamai.

Lanjutkan membaca Kejadian

The Tank Man

Ia disebut “The Tank Man”: seorang berbaju putih yang berdiri sendirian di tengah jalan, menghadang empat tank yang bergerak ke Tiananmen, Beijing.

Hari itu 5 Juni 1989.

Siapa dia? Tak ada yang tahu. Bisa jadi ia warga biasa yang tiba-tiba tak bisa menahan marah melihat tentara datang lagi setelah membunuh puluhan demonstran di Lapangan Tiananmen 40 jam sebelumnya. Mungkin ia hendak berseru: “Kembalilah kalian! Korban sudah cukup!”.

Kita tak tahu itukah yang dikatakannya. Tapi sejak itu, dunia mengenangnya: sosok pemberani yang diabadikan kamera dari jauh, tubuh yang bagaikan sebatang tiang yang tegak — tiang putih yang menyangga hal-hal yang tak kasat mata: keinginan bebas dari takut dan kekerasan, keberanian bersikap, dan tekad yang mempercayai dialog, bahkan dialog dengan pasukan infrantri yang siap tempur.

Orang bisa mengatakan, “The Tank Man” menghendaki apa yang mustahil. Sebab Pemerintah begitu kuat. Penguasa di Beijing itu bisa dengan mudah mematikan suara yang menuntut kemerdekaan bersuara dan mematikan mereka yang tak disukai bersuara.

Juga: mematikan ingatan tentang semua kematian itu.

Lanjutkan membaca The Tank Man

Air Kelapa

Ada sesuatu yang menarik bila kekuasaan bermula dari cerita tentang kata dan air kelapa.

Kita menemukannya dalam dongeng Jawa tentang pendiri kerajaan Mataram.

Tersebutlah pada suatu pagi Ki Ageng Giring, seorang peladang, memanjat pohon nyiur di halamannya untuk memetik sebutir kelapa. Ia ingin membuat santan. Tapi di pucuk pohon itu tiba-tiba terdengar suara: “Barang siapa yang meminum air kepala yang kau pegang itu, akan ia turunkan anak cucu yang berkuasa di kerajaan masa depan.”

Dengan gemetar Ki Ageng Giring memetik nyiur itu, meluncur turun dan pulang. Tapi hari masih pagi; ia belum haus. Buah kelapa itu hanya ia lobangi untuk bisa direguk airnya nanti lalu ia letakkan di para-para dapur. Ia pun kembali ke kebun untuk mencangkul.

Tak disangka-sangka, tetangga dan sahabat karibnya, Ki Ageng Pemanahan, yang baru saja sibuk membersihkan semak-semak, mampir. Karena haus tak tertahan, melihat nyiur yang sudah disiapkan di dapur itu, ia mengambilnya dan mereguk airnya.

Dan demikianlah jadinya: Ki Ageng Pemanahan adalah progenitor pendiri kerajaan Mataram. Anaknya, seorang pemuda cerdik dan pemberani, Sutawijaya, menjadi seorang prajurit yang makin lama makin dipercaya di kerajaan Pajang. Ia berhasil menewaskan Arya Penangsang, seorang bangsawan yang tak mau takluk. Atas jasanya, Sutawijaya diberi gelar Panembahan Senapati dan sebentang wilayah. Berangsur-angsur, daerah itu ia kembangkan jadi kerajaan yang disebutnya dengan nama “Mataram”, seperti kerajaan Jawa dari zaman keemasan sebelum Islam. Ia memerintah dari 1584 sampai meninggal pada 1601.

Lanjutkan membaca Air Kelapa

Babi Yar

Pada 1961, Yevgeny Yevtushenko menulis sajak tentang orang-orang yang terbunuh di jurang panjang yang suram di timur laut Sungai Dnieper:

Akulah tiap orang tua
yang di sini
ditembak mati.
Akulah tiap anak
yang di sini
ditembak mati

Duapuluh tahun sebelumnya, di jurang di Ukraina itu, di Babi Yar, hampir 34 ribu orang Yahudi — termasuk anak-anak, orang tua, perempuan — dibunuh pasukan Jerman hanya dalam waktu dua hari, 29-30 September 1941.

Yevtushenko bukan Yahudi; sajak itu, “Babi Yar,” menyatakan, “dalam diriku tak ada darah Yahudi”. Tapi ia menggugat apa yang terjadi di tempat itu sebagai kebuasan yang sedang dilupakan — dan dengan demikian juga kebuasan lain di masa lalu yang tak diakui. Penyair Rusia ini menuliskan sajaknya setelah Stalin mangkat dan orang bisa membacanya sebagai pengingat kekejaman yang pernah terjadi di masa lalunya sendiri — sebagaimana kita di Indonesia akan bisa membacanya dengan ingatan yang mirip.

Tentu, pembantaian Jerman terhadap orang Yahudi tak terbandingkan — karena tiap kekejaman sebenarnya tak bisa dibandingkan. Seperti yang di Babi Yar itu. Seorang sopir truk pasukan Jerman yang berada di tempat itu menceritakan kesaksiannya:

Lanjutkan membaca Babi Yar