caping • Selasa, 27 Juli 2010 @ 01:08 diunggah oleh zen

Anak

Hampir tiap hari kita menyaksikan anak-anak yang dihilangkan. Orang-orang dewasa telah menguasai mereka. Di layar televisi, mereka dibikin menyanyi seperti para biduan komersial menyanyi, berkhotbah seperti para kiyai berkhotbah, bersaing seperti para pecundang dewasa bersaing.

Mereka dicetak. Model mereka bukan datang dari imajinasi sendiri. Mereka dikepung. Di rumah, di sekolah, di tempat ibadah, anak-anak harus mengikuti apa yang dipetuahkan. Si bocah mesti menuruti tatanan simbol-simbol yang dijadikan sendi kehidupan ibu-bapa.

Tentu, masih ada dunia fantasi mereka sendiri. Tapi ini pun sebagian besar sudah dibentuk oleh selera orang-orang yang punya pengaruh: pemilik taman hiburan, entrepeneur baju dan sepatu, industri mainan, produser acara TV, pengelola jasa-jasa iklan, pengarah kindergarten dan sekolahdasar.

Lewat itu semua, tiap hari anak-anak sedang hendak dihilangkan.

Lanjut..

caping • Kamis, 24 Juni 2010 @ 00:48 diunggah oleh zen

Pemimpin

… dia menebarkan ketakutan di benak para musuh kami, dia memberi kekuatan yang lebih hebat ketimbang 1.000 bek dan 10.000.000 kiper.”

Ri Myong-guk, penjaga gawang Korea Utara, menjelang pertandingan di Piala Dunia.

Tuhan dan Kim Jong-il tak datang ke Afrika Selatan. Tapi tiap kesebelasan yang bertanding di Sokkerstad yang mirip belanga Afrika itu harus mengerahkan kekuatan apa saja, termasuk yang gaib, untuk menang. Bagi kiper Korea Utara, Ri Myong-guk, yang gaib adalah kepala negaranya, Kim Jong-il. ”Dia pemain terpenting kami,” katanya tentang tokoh sakit-sakitan yang malam itu mungkin sedang terbaring di Istana Presiden di Pyongyang, 12.447 kilometer jauhnya dari Johannesburg.

Syahdan, pada malam dingin menggigit itu, Ri dan 10 kawannya berjuang. Ratusan juta penonton di seluruh dunia menyaksikan bagaimana tim Korea Utara bermain gigih, rapi, efektif.

Tapi mereka melawan Brasil, juara dunia lima kali. Mereka kalah: 2-1—meskipun kalah dengan bangga, karena mereka telah menunjukkan permainan yang mengesankan. Dunga, manajer tim Brasil, mengakui, ”Sangat berat menghadapi lawan yang begitu gigih dan begitu defensif.” Kata Ri, yang memimpin lini belakang, ”Saat menjaga gawang rasanya seperti menjaga gerbang tanah airku.”

Lanjut..

Esei • Senin, 14 Juni 2010 @ 12:20 diunggah oleh zen

Juni

Juni adalah bulan Bung Karno—kesempatan kita mengenang yang kecil dan yang besar dari tokoh ini.

Ada satu kejadian dalam riwayat yang direkam Cindy Adams: ketika Bung Karno pertama kali menikah, ketika ia jadi mempelai bagi Utari.

Utari adalah putri H.O.S. Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam, yang menampung Soekarno sewaktu anak kepala sekolah dari Blitar itu berumur 14 tahun dan datang ke Surabaya untuk masuk HBS, sekolah menengah Belanda. Hubungan antara Soekarno dan Tjokroaminoto makin lama makin erat. Pemuda ini praktis jadi kadernya dalam pergerakan. Ia tinggal di rumah keluarga itu sampai 1920, sampai ia lulus dari HBS dan melanjutkan ke Technische Hooge School di Bandung.

Tapi, sebelum itu, Nyonya Tjokroaminoto wafat. Kesedihan merundung suaminya, yang ditinggal dengan beberapa anak yang masih remaja. Mereka dan anak-anak yang indekos, termasuk Soekarno, pun pindah ke rumah lain. Tapi Tjokroaminoto tak terlipur penuh. Untuk meringankan hati orang tua itu, Soekarno memutuskan untuk menikahi Utari—meskipun masih merupakan ”perkawinan gantung”, sebab Utari masih 16 tahun dan Soekarno sendiri baru 20.

Lanjut..

caping • Kamis, 3 Juni 2010 @ 16:26 diunggah oleh zen

Sebuah Obituari untuk Rachel Corrie

Rachel Corrie yang ada di surga, selalu kembalilah namamu. Semoga selalu kembalilah ingatan kepada seseorang yang bersedia mati untuk orang lain dalam umur 23 tahun, seseorang yang memang kemudian terbunuh, seakan-akan siap diabaikan di satu Ahad yang telah terbiasa dengan kematian.

Hari itu 16 Maret yang tak tercatat, karena hari selalu tak tercatat dalam kehidupan orang Palestina, orang-orang yang tahu benar, dengan ujung saraf di tungkai kaki mereka, apa artinya “sementara”. Juga di Kota Rafah itu, di dekat perbatasan Mesir, tempat hidup 140 ribu penghuni-yang 60 persennya pengungsi-juga pengungsi yang terusir berulang kali dari tempat ke tempat. Pekan itu tentara Israel datang, seperti pekan lalu, ketika 150 laki-laki dikumpulkan dan dikurung di sebuah tempat di luar permukiman. Tembakan dilepaskan di atas kepala mereka, sementara tank dan buldoser menghancurkan 25 rumah kaca yang telah mereka olah bertahun-tahun dan jadi sumber penghidupan 300 orang-orang-orang yang sejak dulu tak punya banyak pilihan.

Tentara itu mencari “teroris”, katanya, dan orang-orang kampung itu mencoba melawan, mungkin untuk melindungi satu-dua gerilyawan, mungkin untuk mempertahankan rumah dan tanah dari mana mereka mustahil pergi, karena tak ada lagi tempat untuk pergi.

Lanjut..

Esei • Selasa, 1 Juni 2010 @ 18:03 diunggah oleh zen

On the Idea of “Indonesia”

Published by the South-South Exchange Programme for Research on the History of Development (SEPHIS) Amsterdam, 2003

It has been more than a year, since I spoke in Tasmania, of all places, about what it means being Indonesian, living in a cata-clysmic time, a time when different religious groups committed large-scale atrocities against each other in several islands of the Malukus, when gruesome TV footages told stories of native Kalimantan suku’s slaughtering Maduranese immigrants, when government soldiers shot a great number of angry citizens in Aceh and in West Papua, labelling them, or not labelling them, as “separatists”. The frenzy has generated widespread feeling of hatred and sense of loss among people at large. The nation’s mood was grim, and sad, and indignant. The Yugoslavian break-up, with much blood and iron (and Yugoslavia was always closer to the Indonesian understanding of the world than say, France) was sitting like a nightmare in the mind of many concerned people in this vast, intricate, perpetually precarious, archipelago.

During this period I met with some members of the Free Aceh Movement, as part of my job to disseminate stories of Indonesian military’s violation of human rights in various places in Indonesia, particularly in Aceh. During these meetings I learned about their harrowing, drawn-out struggle to have their own country, I learned about their pain, their hope and their ideas, and I began to have the feeling that someday these people will carry the day, and Indonesia will have no more Aceh – something which somehow made me very, very sad.

Months later I went to Wamena, a beautiful but listless, cheerless frontier-town in West Papua. Disguised myself, oddly, as a Jesuit, I met with a group of people jailed and tortured by the police – people, some of them are educated members of the local community, whose only crime was trying to hoist their flag, their Papuan flag, next to the red-and-white, the national flag, my flag, on a day they wanted to commemorate. Talking with them in a the small, quiet, Wamena prison, I noticed how strong was their belief in what they were doing, a belief uttered in the thick of their low-voiced expressions of rage, a rage that called their ‘them’ ‘Indonesia’, instead of ‘the government.’ On my return, I began to wonder why should this piece of geography, called “Indonesia”, which was essentially a historical accident, cover this area, so distant from, and so ignored by, the rest of the country where most people live. It was a disturbing piece of thought, I must say, especially because Papua, the land where my parents were interned as political exiles in the 1920s, and where one of my brothers was born, has always been a part of my family history.

Lanjut..

caping • Senin, 31 Mei 2010 @ 17:51 diunggah oleh zen

Waisak

Bayi yang kemudian jadi Buddha itu lahir ketika sang ibu memegangi sebatang dahan pohon Sal di Kebun Lumbini.

Adakah ini lambang pertautan antara bayi yang suci itu dengan kehidupan yang bersambung ke ranting dan daun—dari mana oksigen menyebar dan di mana burung pengembara menemukan tempat jeda?

Saya tak tahu. Orang besar yang lahir lebih dari 2.500 tahun yang lalu akan selalu tumbuh dengan legenda, dan tiap legenda punya pertanyaan yang tak pernah putus. Tapi beberapa ”data” dari kehidupan Buddha agaknya bisa jadi bahan percakapan—setidaknya antara saya, yang bukan Buddhis, dan para pembaca, yang mungkin di antaranya Buddhis.

Sang Buddha, seperti kita tahu, lahir sebagai Pangeran Siddharta. Ayahnya, Suddhodhana, adalah Raja Kapilavastu, wilayah di kaki Himalaya. Keluarga ini bagian dari klan Gautama, yang termasuk wangsa Shakya. Dari kitab Jataka kita dapat sedikit cerita tentang kehidupan para aristokrat itu.

Lanjut..

caping • Ahad, 23 Mei 2010 @ 04:24 diunggah oleh zen

Tertib

Saya tak tahu benarkah Tuhan hanya menghendaki dunia yang tertib.

Ada sebuah cerita detektif yang ganjil yang ditulis G.K. Chesterton, The Man Who Was Thursday. Buku ini lain dari cerita detektif biasa: ujungnya mirip sebuah renungan tentang Tuhan—bermula dari ketegangan antara anarkisme dan ketertiban, dengan tokoh seorang agen Scotland Yard yang menyamar sebagai penyair.

Cerita dibuka dengan senja di Saffon Park, sebuah wilayah di tepi Kota London. Di lingkungan rumah-rumah berbatu bata warna terang itu hidup sebuah ”dukuh artistik”, artistic colony. Buku ini tak menyebutnya ”dukuh seniman”, sebab tempat itu tak pernah memproduksi karya seni apa pun. Keistimewaannya: enak dipandang.

Tapi kita diantar untuk tak menyukai suasana di sana. Terutama karena penghuninya. Ada orang bertampang penyair yang semenarik syair, tapi ia sendiri bukan penyair. Atau si Fulan yang berlagak filosof tapi sebenarnya sosok yang bisa membuat filosof merenung. Para wanitanya menyatakan diri bebas, tapi suka memuji para lelaki dengan berlebihan. Orang yang memasuki atmosfer sosial tempat itu akan merasa seperti ”memasuki sebuah komedi yang telah ditulis”.

Lanjut..

caping • Ahad, 16 Mei 2010 @ 19:26 diunggah oleh zen

Gelap

Siang itu saya lihat seorang perempuan berjilbab duduk tekun di depan sebuah mikroskop di sebuah lab. Saya teringat Kartini.

Dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902, Kartini mencantumkan seuntai kwatrin:

Door nacht tot licht
Door storm tot rust
Door strijd tot eer
Door leed tot lust

Banyak orang meleset dari sajak pendek ini. Buku kumpulan surat Kartini yang pertama terbit pada 1911 berjudul Door Duisternis Tot Licht. Kalimat itu agaknya dipilih J.H. Abendanon, pejabat pemerintahan Hindia Belanda yang bersemangat mendukung putri Bupati Jepara itu. Abendanon pula yang menyeleksi surat-surat gadis itu dan menerbitkannya. Penyair Armijn Pane kemudian menerjemahkan buku itu jadi Habis Gelap Terbitlah Terang.

Dengan judul itu agaknya orang menemukan sebuah metafor untuk menggambarkan pergulatan Kartini membebaskan diri dari dunia adat yang kuno, kolot, dan mengekang. ”Terang” (licht) adalah kiasan untuk pencerahan sikap dan pikiran: tanda emansipasi dari yang mengekang itu.

Lanjut..

Puisi • Jumat, 14 Mei 2010 @ 18:01 diunggah oleh zen

A Woman Who Was Pounding Salt

In the corner of her eternal kicthen
a woman was pounding salt in her mortar.
“I will create hope,” she said, “on the black stone.”
Smoke was never brief. Its ceiling was the color of the world
in Jeremiah’s dreams.

She herself mused on fish in an aquarium, swimming,
like lazy balloons unaware of their own painted sign
in the sky. “They are the ones who dreaming,”
the said to herself.

Even if she had her own dreams. She dreamt of mounds of flour,
drizzling, like grumbling. On as grassland. Half a dozen
people running, escaping, from the sun. “They are all my
children,” she said. “All are my children.”

But the did not know where they went, because thay had not returned since. The youngest, from some Russian town, never
wrote. The eldest had simply vanished. The other four has sent
only one letter with a single sentence,
“We are but traitors, Ma.”

Perhaps there was still a young woman left, on a distant prayer rug, (or maybe that was just a dream returning,)
who did not know her. She often communicated with the silent
language of a factory smoke. She dared not know who she was.
She dared not know.

In the corner of her eternal kitchen
a woman was pounding salt in her mortar.

caping • Jumat, 14 Mei 2010 @ 17:46 diunggah oleh zen

Three Pictures

In the seventeenth century the kingdom of Mataram was ruled by Amangkurat I. Almost all historical records of the time mention his cruelty. “If he felt a bit unhapy,” wrote the Javanese chronicle writers as quoted by Raffles in The History of Java, “he would murder those who were thought to be cause of his unhappines.”

He once gathered together six thousand people in the town square – Islamic religious teacher with heir wives and children. Then , after a signal given by the firing of a cannon, they were all slaughtered in less than thirty minutes. He once put sixty fisherman into a dark cell and left them there to starve to death, because he was upset that one his wives had hied. When he found out that the Crown Prince had taken one of his own concubines, Amangkurat ordered all those involved decapitated, and then commanded his son to stab the young woman while embacing her.

The Babad Tanah Jawi describes this reign of terror in a very matter-of-fact-way, but the dread is nonetheless apparent. All Mataram lived in terror, the chronicle relates. The rains fell out of reason, there were earthquake, and meteors appeared in the sky every day at dark.

Lanjut..