Esei • Jumat, 12 Maret 2010 @ 00:15 diunggah oleh zen

Enam Diktum Goenawan

DI MANAKAH letak nilai puisi? Yaitu, antara kemampuannya berkomunikasi dengan pembaca dan bagaimana dia bisa menjadi ajang si penyair untuk unjuk gaya; Antara puisi terang-benderang dan puisi gelap; Antara puisi yang selempang pengumuman dan puisi yang rumit tak dimengerti; Antara puisi yang terlalu menghamba pada pembaca dan puisi yang tak peduli pada pembaca.

Ada rumusan sangat bagus dari Goenawan Mohamad soal nilai puisi dan bagaimana puisi harus bisa berkomunikasi dengan pembaca. Saya [baca: Hasan Aspahani] menyimpulkannya dalam enam butir dan memberi penjelasan — tepatnya penafsiran semampunya — sebagai berikut ini:

Pasal 1. Dalam puisi, pada mulanya adalah komunikasi. Karena itu, puisi yang tidak palsu dengan sendirinya dan sudah seharusnya mengandung kepercayaan kepada orang lain, yaitu pembacanya.

Penjelasan: Penyair percaya bahwa pembaca puisinya bisa menerima bahkan menikmati puisi dan pesan yang ada dalam puisinya. Niat awal dari penyair adalah keinginan untuk berkomunikasi dengan pembacanya lewat puisi, bukan sekadar unjuk gaya, berakrobat kata-kata. Ini tentu saja bukan sebuah komunikasi yang praktis, seperti komunikasi kita dengan penjaga kios rokok di tepi jalan, ketika kita ingin beli rokok.

Lanjut..

Puisi • Senin, 8 Maret 2010 @ 21:47 diunggah oleh zen

Bedtime Story

“The lizards, my love, are talking about us.
Nonsense, in other words.”

So said the king to his queen that night.
The passion of bed sated,
silence slipped between bones and sheets.

“Why not believe me? Your dreams shall convince you
as surely as the morning sun.”

The woman broke into tears when Anglingdarma drew up
the seets to cover again her naked breasts; his breath cold
while he kissed her hair.

At morning’s light she tjrew herself upon the burning pyre.

And His Majesty did discern a way to force him to
take flight –with the help of gods
no one knew from whence they came– a way to be untrue.

“Batik Madrim, Batik Madrim, why, then, O Vizier?
Why should one hold constancy more dear than
life and so on and so forth?”

1971

Translator: Nancy Florida

———————————————————
Taken from Selected Poems, Puisi Pilihan: Revised and Expanded [Kata Kita: 2004]

Puisi • Senin, 8 Maret 2010 @ 21:44 diunggah oleh zen

Dongeng Sebelum Tidur

“Cicak itu, cintaku, berbicara tentang kita.
Yaitu nonsens.”

Itulah yang dikaakan baginda kepada permaisurinya, pada malam itu. Nafsu di ranjang telah jadi teduh dan senyap merayap antara sendi dan sprei.

“Mengapakah tak percaya? Mimpi akan meyakinkan seperti matahari pagi.”

Perempuan itu terisak, ketika Anglingdarma menutupkan kembali
kain ke dadanya dengan nafas yang dingin, meskipun ia mengecup rambutnya.

Esok harinya permaisuri membunuh diri dalam api.

Dan baginda pun mendapatkan akal bagaimana ia harus melarikan diri –dengan pertolongan dewa-dewa entah dari mana– untuk tidak setia

“Batik Madrim, Batik Madrim, mengapa harus, patihku? Mengapa harus seorang mencintai kesetiaan lebih dari kehidupan dan sebagainya dan sebagainya?’

1971

Esei • Senin, 8 Maret 2010 @ 21:42 diunggah oleh zen

Pada Suatu Hari, Ikarus

Pada suatu hari, Ikarus, yang terpenjara di Pulau Kreta, ingin melarikan diri melalui udara, terbang. Ayahnya, Daedalus, seorang penemu, membuatkannya sayap. Bulu-bulu garuda pun dihimpun dan ditata, dan akhirnya sepasang suwiwi besar pun jadi, direkatkan dengan lilin ke tubuh si anak. Ia terbang. Tapi ia terbang terlalu tinggi, mendekati matahari. Lilin itu pun meleleh oleh panas surya dan suwiwi itu tanggal, dan Ikarus jatuh ke bumi, ke Laut Aegea. Ia tenggelam.

Mitologi Yunani itu tak bercerita apa yang yang terjadi ketika ia terhempas ke permukaan ombak. Tapi, di tahun 1555, Brueghel Yang Tua melukis adegan itu. Dalam Lanskap dengan Kejatuhan Ikarus, perupa termasyhur Belanda abad ke-16 itu tak memaparkan sebuah kecelakaan yang menyedihkan ataupun sebuah peristiwa yang dramatis. Justru sebaliknya.

Di kanvasnya, yang tampak adalah sebuah pemandangan pastoral, cerah dan penuh warna. Pagi musim semi. Di bagian depan, seorang petani menggaru ladang. Seorang penggembala, seraya bertelekan pada tongkat tampak melihat ke langit jernih. Anjingnya duduk sabar, memantau beberapa belas domba yang asyik mencari makan. Sedikit di sebelah kanan, tampak punggung seorang yang duduk ke arah teluk, mungkin memandangi kapal yang berlayar di laut hijau Aegea yang tak diguncang ombak. Di dekat kapal itulah, di permukaan yang praktis tanpa gelombang, tampak sepasang kaki menggelepar di air –sepasang paha dan betis yang memutih sebentar sebelum tenggelam. Itulah tubuh Ikarus yang malang.

Lanjut..

Esei • Senin, 8 Maret 2010 @ 21:40 diunggah oleh zen

Tatal 52

“Aku” tak hanya dikukuhkan Descartes di sebuah kota di Negeri Belanda, di mana ia tinggal berpindah-pindah di abad ke-17. Pengukuhan bisa ditemukan di tempat lain, juga di kitab yang tak disangka-sangka. Cerita Dewa Ruci adalah salah satu variannya.

Dalam Serat Cebolek, kisah termasyhur dari Jawa itu dimulai dengan Werkudhara yang terkesima bahwa dirinya tak berarti: ternyata ia, yang bertubuh tinggi gempal, bisa masuk lewat lobang kuping ke daam wujud kecil Dewa Ruci. Ia tiba di tengah sebuah samudera agung, ruang yang tak dikuasainya, yang tak bisa ditentukannya dengan titik utara atau selatan.

“Ruang yang saya tempati, paduka, kosong dan tak terpermanai luasnya,” ujar Werkudhara kepada sang dewa.

Lanjut..

Naskah Pentas • Kamis, 25 Februari 2010 @ 14:54 diunggah oleh zen

The King’s Witch

Opera kontemporer karya Tony Prabowo. Kisah tentang Calon Arang. Goenawan Mohamad menuliskan libretto dengan penafsiran baru, juga sudut pandang baru, atas legenda yang sangat populer ini. Dipentaskan pada 1-2 Desember 2006 di Graha Bakti Budaya TIM, Jakarta, The King’s Witch tidak dipentaskan dengan aria (dialog yang dinyanyikan), melainkan puisi-puisi panjang yang dibawakan dengan cara bernyanyi.

Puisi • Kamis, 25 Februari 2010 @ 14:29 diunggah oleh zen

Di Muka Jendela

Di sini
cemara pun gugur daun. Dan kembali
ombak-ombak hancur terbantun.
Di sini
kemarau pun menghembus bumi
menghembus pasir, dingin dan malam hari
ketika kedamaian pun datang memanggil.
Ketika angin terputusputus di hatimu menggigil
dan sebuah kata merekah
diucapkan ke ruang yang jauh: –Datanglah!

Ada sepasang bukit, meruncing merah
dari tanah padang-padang yang tengadah
di mana tangan-hatimu terulur. Pula
ada menggasing kincir yang sunyi
ketika senja mengerdip, dan di ujung benua
mencecah pelangi:
Tidakkah sapa pun lahir kembali di detik begini
ketika bangkit bumi,
sajak bisu abadi,
dalam kristal kata
dalam pesona?

1961

Puisi • Kamis, 25 Februari 2010 @ 14:29 diunggah oleh zen

The Window

Here
pine trees shed their leaves, and rolls of waves
are routinely cast off.
Here
the season sights on earth,
sand, cold, and night,
as peace summons as fitfully
the wind upon your shivering self.
And woods bloom
into distant spaces: Please come!

There rises a pair of hills, red and pointed
from bare fields
and parched land
where your heart reaches out. A solitary
windmill spins in the gleam of sunset, and
on the edge of the continent
a rainbow spreads.
Do not mortals return at this hour
when the soil resurges,
like a poem
mute in words like crystal,
enchanted, eternal?

1961

Translator: Laskmi Pamuntjak

———————————————————
Taken from Selected Poems, Puisi Pilihan: Revised and Expanded [Kata Kita: 2004]

Esei • Kamis, 25 Februari 2010 @ 14:01 diunggah oleh zen

Setelah Komunisme

SEKELOMPOK pengamen Rusia memainkan lagu Amerika, The Beautiful di tepi Sungai Neva, sore itu.

Mereka tujuh pemain musik setengah baya yang berbaju kumuh dan mencoba bertahan di udara basah kota St. Petersburg di awal November. Di dekat tempat itu, nampak satu bus turis yang diparkir. Di dalamnya sejumlah wisatawan tua dari Amerika yang takut udara dingin. Begitu musik tiup itu berhenti, pintu belakang bus terbuka, dan seorang kakek gemuk turun dengan logat New York: “Saya mau kasih mereka uang”. Lalu ia meletakkan sepuluh rubel di kotak penadah derma, di arah kaki pengamen. Lalu band pun melagukan The Star Spangled Banner.

Itu tahun 1991. Di Rusia nampaknya orang sedang menjadikan negara kapitalisme besar abad 20, sebagai kiblat baru. Setidaknya, kiblat lama sudah dianggap runtuh.

Di akhir November 1991 itu buat pertama kalinya dalam sejarah, di Lapangan Merah di Moskow, Revolusi Oktober (yang menurut hitungan kalender internasional sebetulnya terjadi di bulan November) tidak diperingati. Tidak ada parade 7 November itu. Tidak ada pemimpin yang berdiri di panggung kehormatan, pentas batu pualam merah yang didirikan di atas musoleum Lenin.

Lanjut..

Esei • Ahad, 21 Februari 2010 @ 22:11 diunggah oleh zen

Empat Sajak

Sekhak

Pada pukul 16:00, di bawah jembatan itu ia dengar ”sekhak”. Seperti bunyi waktu.
Seorang pemain catur selalu mengatakan kata itu
sebelum saatnya.

Dan seekor kuda rubuh.
Dua bidak lari ke sudut.

Tak ada yang akan mengatakan raja akan tumbang pada langkah ke-20. Sore dan debu bertaut. Ia bayangkan sebuah perang dalam asap. Di bawah langit diam, di petak terdepan, ada selembar bendera dengan huruf yang hampir tak terbaca: ”Akulah pion yang gugur pertama.”

Tapi tak seorang pun tahu kenapa prajurit itu–ia tak berwajah –berdiri di sana, siap dalam parit, meskipun merasa bodoh dengan mantelnya yang berat. Di seragamnya tak tertulis nama. Hari tumbuh makin hitam. Hanya ada cahaya api di unggun kecil. Hanya ada bau sup pada cerek, seperti bau busuk pada koreng. Tapi ia berharap.

”Jangan serahkan kami, Maestro, kepada nasib.” Siapa orang yang bergumam, siapa yang berdoa? Para uskup berdiri di petak kanan, di antara ksatria dan kavaleri, putih, hitam, sebuah deretan kerap sepanjang meja. Jam berdetak-detak seperti suara tongkat orang buta yang tabah. Ster. Sekhak. ”Jangan serahkan kami pada nasib.”

Tapi tiga pion lagi rubuh. Sebuah benteng muncul perkasa dari pojok. Musuh menyerbu. Sayap kiri bengkah. Di papan yang datar itu, hanya ada derap bergegas dan trompet infantri. Parit-parit dikosongkan. Roda-roda kanon didorong. ”Dengarkan suaraku, dengarkan suaraku, komandan peleton!”

Barangkali asap adalah setanggi, Maestro. Barangkali sudah datang saat berkabung. Akan selalu ada ratu yang dikabarkan tertawan, dan bendera-bendera diturunkan, dan opsir yang berpikir: jangan-jangan perang tak mesti berhenti.

Pada batang rokok yang kedua seseorang tertawa: kita akan pergi, Bung. Tapi di meja itu, di papan itu, pergi serasa menakutkan. Selalu ada sebuah fantasi tentang menang dan mengerti, sampai punah bidak di dataran pertama dan kau dengar ”sekhak”.

Ia tak tahu apa yang harus diingat dari kata itu.

2010

Lanjut..